"Saya sudah 10 tahun tidak pakai voorijder. Sejak jadi Menristek," ujar Hatta usai acara Puncak Peringatan Hari Ibu di TMII, Jakarta Timur, Rabu (22/12/2010).
Untuk Hatta, berkendara dengan dibantu voorijder bukanlah sesuatu yang penting. Bahkan dia berpendapat, dengan menggunakan voorijder justru berpotensi menambah kemacetan jalan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika ditanya apakah yang dilakukannya itu perlu ditiru oleh menteri yang lain, Hatta enggan berkomentar banyak. Mungkin baginya, menggunakan voorijder adalah pilihan.
"Ya itu silakan. Saya tidak mau komentari," ucap suami dari Oktiniwati Ulfa Dariah ini.
Hatta lahir di Palembang, Sumatera Selatan, pada 18 Desember 1953. Dia menyelesaikan pendidikan di Jurusan Teknik Perminyakan di ITB. Pendidikan master di Studi Pembangunan ITB pun pernah dijalaninya. Namun dia tidak melanjutkan studinya lantaran sibuk di partai politik dan menjadi Menristek.
Sepak terjang Hatta di dunia politik terlihat tatkala menjadi Ketua Fraksi Partai Reformasi DPR pada 1999-2000. Kemudian dia menjadi Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (DPP-PAN). Sejak 2010 ini, dia terpilih menjadi Ketua Umum DPP PAN.
Karir Hatta di pemerintahan dimulai saat dia menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi Kabinet Gotong Royong. Berganti presiden tidak membuat Hatta tersingkir dari lingkaran kabinet. Terbukti Hatta menjadi Menteri Perhubungan pada Kabinet Indonesia Bersatu.
Saat Presiden SBY melakukan reshufle kabinet pada 2007, Hatta dipindahkan meja kerjanya ke Sekretariat Negara dengan menjadi Mensesneg. Rupanya Presiden SBY lebih mempercayai Hatta bekerja di sektor ekonomi sehingga di Kabinet Indonesia Bersatu II, Hatta ditunjuk sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
(vit/fay)











































