Agung (MA) tetapi tidak sungkan untuk langsung membaur dengan wartawan. Bahkan Bagir Manan menyapa duluan. Sembari duduk santai, dia antusias menanggapi keluhan atau pertanyaan pengejar berita dari berbagai media.
"Saya tidak suka protokoler. Sewaktu jadi Ketua MA pun begitu," kata Ketua Dewan Pers Bagir Manan di sela-sela acara jumpa pers di kantornya Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Rabu, (1/12/2010).
Ketidaksukaan pada protokoler ini juga ditanamkan ke anak-anaknya. Antara lain melarang anak-anaknya mencium tangan orang tuanya. Kebiasaan itu terbawa hingga menjadi Ketua MA.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebiasaan itu yang menyebabkan dirinya tidak kaget ketika menjadi 'bos' wartawan. Dia tidak merasa canggung untuk bergaul dengan anak- anak muda pemburu berita. "Bedanya memang, kalau dulu di MA, pertanyaan disampaikan secara teratur dan runtut. Kalau sekarang, pertanyannya langsung to the point. Langsung ke pokok masalah," ujar mantan hakim agung yang pernah menggelar beberapa sidang terbuka di tingkat kasasi ini.
Kebiasaan anti protokolernya ini menyebabkan dirinya tidak mengalami post power syndrom. Padahal, sebagai Ketua MA, dia mendapat fasilitas utama dengan protokoler yang berlapis. Apalagi institusi MA terkenal dengan hirarkhi kewenangan yang ketat sehingga sebagai Ketua MA bisa berbuat lebih. Namun, usai melepas jabatan tersebut, dia tetap enjoy menikmati hidup.
"Ya saya senang dengan seperti ini sekarang ini," ucap Bagir.
(asp/vit)











































