Trisno Heru, Kahumas RS Sardjito yang Nyambi Jadi Presenter

Trisno Heru, Kahumas RS Sardjito yang Nyambi Jadi Presenter

- detikNews
Selasa, 09 Nov 2010 15:57 WIB
Trisno Heru, Kahumas RS Sardjito yang Nyambi Jadi Presenter
Yogyakarta - Hari-hari yang sibuk. Mungkin kondisi seperti itulah yang dapat menggambarkan keseharian Trisno Heru Nugroho atau biasa dipanggil Heru. Sebagai Kepala Humas RS Sardjito, Yogyakarta, dia selalu menjadi target buruan informasi.

Dalam kondisi bencana alam, seperti letusan Gunung Merapi kali ini, Heru kian sibuk.
Ponsel Heru seakan tidak bisa 'beristirahat'. Selang beberapa menit pasti ada saja yang menghubunginya untuk meminta konfirmasi atau pernyataan mengenai jumlah maupun data korban baru Merapi.

"Ibaratnya seorang juru bicara, terkadang saya harus menjadi congor yang mampu menjembatani antara pihak manajemen dengan pihak luar dan terkadang harus menjadi bumper (pelindung) dari setiap keluhan yang ada," ujar dia kepada detikcom di kantornya, Selasa (9/11/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tidak hanya beraktivitas di RS, Heru juga menjadi pembawa acara talkshow tentang kesehatan di stasiun televisi lokal Yogyakarta. "Sudah enam tahun, Mbak, jadi pembawa acara dan lebih dari 300 episode," kata Heru.

Awal mulanya menjadi humas RS Sardjito, lanjutnya, karena dia memiliki latar belakang di dunia broadcast. Dia pun sudah biasa menjadi juru bicara.

"Sudah hampir delapan tahun saya bekerja menjadi kepala humas dan itu sangat berat karena harus standby selama 24 jam. Apalagi kalau ada bencana seperti Merapi ini," tambah pria yang mengaku memiliki hobi fotografi ini.

Heru mengakui, semenjak menjadi Kepala Humas RS Sardjito, hobinya fotografinya terbengkalai. Dia pun menurunkan ilmu fotografinya ke salah satu stafnya.

Karena sudah cukup lama menjadi kepala humas, dia pun menginginkan ada pergantian. Dia berharap, jika pergantian personel itu datang, maka penggantinya harus siap dan kuat menghadapi pekerjaan yang tidak ada batasan jam kerja.

"Untungnya keluarga mengerti betul apa tanggung jawab saya. Bahwa saya harus memberikan informasi yang akurat dan up to date kepada publik," lanjut Heru.

Heru menuturkan, setiap akan berangkat kerja, ia harus memastikan terlebih dahulu bahwa keluarganya aman. "Harus memastikan mereka (keluarga) aman, baru berangkat kerja. Bagi saya tugas nomor satu," ucap dia

Kesulitan terbesar bagian humas, menurut dia adalah jika tidak bisa memberikan informasi mengenai korban. Terlebih bagi jenazah yang sulit teridentifikasi seperti beberapa korban Merapi.

"Kasihan kan mbak, keluarganya menunggu terus-terusan kepastian korban," imbuh ayah dua anak ini.

Pengalaman yang paling tidak bisa dilupakan Heru adalah ketika gempa melanda kawasan Yogyakarta bagian selatan pada 2006 lalu. Saat itu ada 5.000 korban, ditambah lagi RS Sardjito harus menampung 10.000 keluarga korban.

"Bahkan mereka semua banyak yang tidur hingga depan ruangan ini," kata Heru sambil menunjukkan tempat yang digunakan para keluarga korban gempa bumi beberapa tahun silam.

Heru ingat benar, kala itu selama dua hari dirinya tidak mandi dan tidak sempat sikat gigi juga. "Memang tugas kami capek betul tapi tim kami solid dan menikmati sekali
pekerjaan. Karena kalau tidak ya rasanya berat," kata suami dari Ani Rastuti yang juga bekerja di rumah sakit yang sama.

Untuk masalah keluhan internal, Heru mencontohkan tentang keinginan para dokter yang idealis meminta peralatan dan standar pelayanan yang tinggi padahal terbentur dengan aturan pembiayaan RS Sadjito.

"Kami cukup mengerti keinginan semua pihak di RS Sardjito. Ya, selain menjadi juru bicara untuk pihak luar ya kami juga menjadi juru bicara di dalam," tambahnya.

Sementara untuk keluhan eksternal, Heru mencontohkan adanya beberapa tuduhan dari pasien ataupun keluarga pasien yang datang sambil membawa pengacara. "Walau dituduh malpraktek lah, inilah, namun kami harus tetap menghormati dan mendengarkan. Itulah beratnya humas," kata pria lulusan S2 Fakultas Kedokteran UGM ini.

Tak hanya menceritakan suka-duka menjadi humas, Heru juga memberikan tips bagaimana menghadapi orang terutama ketika orang tersebut sedang marah. Menurut dia, intinya adalah bagaimana memanusiakan manusia.

"Seperti ketika mereka datang, ya diambilkan minum biar emosinya reda. Terus dihormati dan didengar, tetap tidak boleh dicela. Itu sudah menjadi teorinya," sambungnya.

Heru mengatakan, kini timnya kekurangan karyawan laki-laki. Maklum, laki-lakinya hanya empat. Meski demikian, mereka tetap bekerja dengan semangat.

(feb/vit)


Berita Terkait