"Ya mengajar boleh, kalau ada menawarkan," jawab Djoko kepada para wartawan yang menghujaninya dengan pertanyaan rencana kegiatannya selama masa pensiun.
Meski tidak akan menolak tawaran menjadi pengajar, tetapi rupanya jadi pengajar bukan kegiatan yang Djoko prioritaskan. Untuk mengisi masa pensiun, prioritasnya adalah melewatkan lebih banyak waktu bersama keluarganya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Djoko lahir di Solo, 8 September 1952. Dia menjabat Panglima TNI sejak 28 Desember 2007.
Sesaat sebelumnya, Presiden SBY di hadapan peserta sidang kabinet paripurna, menyampaikan rasa terimakasih dan penghargaannya kepada Djoko Susanto. Banyak sudah yang Djoko kerjakan dalam kapasitasnya sebagai Panglima TNI bagi kepentingan negara.
Presiden SBY menilai, Djoko Susanto sukses melaksanakan operasi militer non perang di berbagai wilayah yang terlanda bencana alam. Sementara di kancah internasional, prestasi TNI semakin bersinar sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB yang ditempatkan di negara-negara yang dilanda konflik.
Sedangkan prestasi Djoko yang menurutnya patut dibanggakan, adalah memastikan netralitas jajaran TNI selama proses Pemilu dan Pilpres 2009. Menjadi kewajiban bagi Laksamana Agus Suhartono selaku Panglima TNI mempertahankan capaian di tingkat nasional dan internasional itu.
"Panglima TNI yang baru saya minta jaga netralitas TNI ini. Adalah lembaga internasional yang memberikan penilaian tinggi setelah mendengarkan rakyat. Selamat jalan mantan panglima TNI Djoko Santoso, selamat mengemban tugas lain lagi," sambung SBY.
(lh/nrl)
