Presiden PKS Tifatul Sembiring. Sudah menjadi kebiasan, setiap mudik, Tifatul menyupir sendiri kendaraan pribadinya menuju Bukittinggi, Sumatera Barat.
“Sudah menjadi kebiasaan saya menyetir sendiri waktu pulang kampung. Lebih hemat daripada naik pesawat,” kata Tifatul saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (12/9/2009).
Suami Sri Rahayu ini bercerita pengalaman paling berkesan pada satu waktu ketika pulang ke kampung halaman. Mobil yang dikendarainya mengalami pecah ban hingga lima kali selama perjalanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tifatul yang baru bisa mengendari mobil sejak 1993, tidak merasa risau atau ragu dalam perjalanan pulang kampung yang menghabiskan waktu hampir 34 jam lamanya. Sesekali dirinya harus berhenti beristirahat untuk tetap menjaga stamina dalam berkendara, bahkan sesekali Tifatul harus mandi untuk menghilangkan kantuknya.
“Perjalanan 34 jam. Berhenti makan dan salat, kalau orang tidak mau mandi saya harus mandi supaya segar,” tutur pria yang pernah menjadi Ketua DPP PKS Wilayah Dakwah I Sumatera itu.
Membawa kendaraan pribadi menuju kampung halaman bukan hal baru bagi pria
kelahiran Bukit Tinggi, 28 September 1961 ini. Setiap tahun, setelah sholat Idul Fitri, bersama keluarga, menyupir menjadi kenikmatan tersendiri baginya.
“Bagi saya nyetir itu menghilangkan stres. Saya sangat menikmati sekali,” kata Insinyur lulusan STI&K Jakarta ini.
(mpr/lrn)











































