Rambut, wajah dan kulitnya membuat Lidia terlihat mencolok dari teman-temannya yang duduk berjejeran menyaksikan pidato SBY lewat LCD besar di lobi Gedung Nusantara III, DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2009).
Pelajar asal Papua itu terlihat selalu mengembangkan senyuman khasnya.
Lidia beserta 34 temannya adalah salah satu pelajar berprestasi yang diundang ke gedung Senayan untuk menyaksikan pidato Presiden SBY.
Lidia datang ke Jakarta sejak Senin 10 Agustus 2009 dan terlihat didampingi gurunya. Dia mengaku bangga karena menjadi satu-satunya pelajar Papua yang berhasil masuk finalis LPIR.
Lidia yang mengenakan seragam putih birunya tercatat sebagai pelajar kelas III di SMPN 2 Jayapura.
"Senang sekali, soalnya bisa ke Jakarta dan bertemu Pak Presiden," ujar Lidia dengan raut muka yang menunjukan kegembiraan dicampur logat khas Indoneia bagian timur.
Lidia membuat karta ilmiah yang berjudul, 'Tari Yosimpancar Sebagai Tari Pemersatu Bangsa' untuk LPIR kali ini merasa senang karena judulnya masuk sebagai finalis LPIR. Ia mempunyai alasan tersendiri mengapa dia membuat judul tersebut.
"Itu tarian Papua, dan banyak pendatang yang ikut memainkanya. Selain itu sering dipentaskan di luar negeri dan pendatang juga banyak ikut menarikanya," ujar sulung dari 3 bersaudara ini.
Menurutnya, Tari Yosimpancar merupakan tari simbol perdamaian yang digelar sesudah perang antarsuku di Papua. Tarian ini menggambar perdamaian yang tercapai dan sudah tidak lagi ada dendam di antara suku yang berperang.
"Belum tahu, soalnya judul yang lain juga bagus-bagus," jawab Lidia saat
ditanya apakah yakin menang dalam lomba yang pengumumnya akan diumumkan sore ini.
Lidia juga tidak terlihat canggung dalam bergaul, ketika sedang wawancara dengan detikcom, ia juga terlihat bergurau dengan teman di sebelahnya.
Bahkan dalam menjawab pertanyaan pun ia terlihat sangat antusias dan percaya diri. "Jadi musisi kalau nggak jadi ilmuwan," jawab Lidia saat ditanya cita-citanya.
(her/aan)











































