Saat Anindya Bakrie Terkena Flu Babi

Saat Anindya Bakrie Terkena Flu Babi

- detikNews
Kamis, 30 Jul 2009 15:03 WIB
Saat Anindya Bakrie Terkena Flu Babi
Jakarta - Putra Menko Kesra Aburizal Bakrie, Anindya Bakrie, sempat terserang virus influenza A H1N1 saat berada di Boston, Amerika Serikat (AS). Namun, dia beserta istri dan ketiga anaknya dapat pulih dalam waktu cepat.

Presiden Direktur PT Bakrie Telecom itu menceritakan, gejala dan pemulihan pasien penderita swine flu berbeda-beda. Tergantung kondisi fisik setiap orang.

"Kebetulan, saya yang sering berolah raga dan minum multivitamin dapat pulih sekitar dua harian. Anak-anak saya juga begitu. Tapi istri saya baru pulih sekitar 4-5 hari kemudian," kata Anindya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengalaman Anin kena flu babi diceritakannya dalam surat elektronik pada detikcom, Kamis (30/7/2009):

Bagaimana riwayat Anda sekeluarga bisa terkena swine flu? Apakah saat itu
Anda baru saja pulang bepergian dari LN?


Kami terkena flu sekitar 2-3 minggu lalu di awal Executive Program saya di Harvard University. Sebenarnya yang tertular duluan adalah istri saya. Kelihatannya tertular orang lain di dalam pesawat dari New York ke Boston. Waktu itu memang ada penundaan keberangkatan, walau semua penumpang sudah di dalam pesawat. Karena kami semua tinggal di dalam satu apartemen, penularan gampang terjadi seperti halnya flu yang lain. Sekarang kami sekeluarga sudah sembuh dan beraktivitas seperti biasa.

Bagaimana gejala yang Anda rasakan?

Gejalanya mirip sekali dengan flu lain, karena penularannya sama-sama melalui virus. Diawali dengan demam, yang tidak lain merupakan reaksi tubuh kita melawan virus itu. Sering juga dibarengi batuk dan pilek. Gejala dan proses pemulihannya berbeda-beda, tergantung kondisi fisik tiap orang. Kebetulan, saya yang sering berolah raga dan minum multivitamin dapat pulih sekitar dua harian. Anak-anak saya juga begitu. Tapi istri saya baru pulih sekitar 4-5 hari kemudian.

Perawatan seperti apakah yang harus Anda jalani untuk penyembuhan? Apakah
Anda dirawat di rumah sakit?


Karena kasus flu ini cukup umum di Amerika, penyembuhan kami semua dilakukan di luar rumah sakit. Seperti flu lainnya, hal yang paling penting adalah menjaga agar panas badan tidak melebihi batas normal 40 derajat Celcius atau 100 derajat Farherenheit. Penurunan panas dapat juga dibantu dengan obat penurun panas seperti Panadol, Tylenol maupun Tempra kalau untuk anak-anak. Apabila selama 2-3 hari panas tidak turun, saya anjurkan untuk ke dokter dan melakukan tes darah, air liur, bahkan rontgen. Untuk kasus-kasus yang lebih serius, pasien dapat juga mengalami sesak pernapasan. Ini yang benar benar harus mendapat perhatian khusus.

Flu ini harus diwaspadai terutama untuk anak di bawah 5 tahun dan dewasa di atas 65 tahun. Salah satu pencegahannya, paling tidak untuk meminimalkan efeknya, adalah dengan menjaga kondisi tubuh dengan vitamin maupun suntikan anti flu secara periodik.

Saya lihat di Amerika, penanggulangannya ada juga yang dilakukan secara natural, misalnya dengan cukup banyak istirahat dan minum air putih, atau sekadar menggunakan obat panas generik. Untuk pengobatan khusus, baru digunakan vaksin maupun obat seperti Tamiflu yang fungsi utamanya adalah untuk mempercepat pemulihan gejala flu tersebut. Dalam kasus keluarga saya, kami justru kebanyakan menggunakan obat generik dalam pemulihan, meski ada juga yang menggunakan Tamiflu maupun vaksin.

Bagaimana reaksi keluarga di Indonesia setelah mendengar kabar Anda terkena musibah itu?

Di awal tentunya keluarga sangat khawatir. Akan tetapi setelah mendapatkan
penjelasan rinci mengenai duduk permasalahannya dari dokter (yang direkomendasikan oleh Ibu Konsulat Jendral Indonesia di New York), akhirnya kita semua lebih tenang.

Berapa lama Anda dan keluarga dinyatakan bebas dari penyakit tersebut?

Seperti flu virus lainnya, umumnya virus ini hanya berlangsung paling lama 5-7 hari. Sehingga setelah kami melewati masa tersebut (sekitar 2 minggu yang lalu), seluruh gejalanya (menurut dokter, bersama virusnya) perlahan mereda dan hilang.

Kabarnya Anda sedang mengikuti short course di Harvard. Apakah swine flu itu mengganggu aktivitas kuliah Anda? Bagaimana tanggapan teman-teman anda di kampus?

Selama Executive Program yang berlangsung hampir 1 bulan, baik di Harvard Kennedy School of Public Policy maupun di Harvard Business School, saya hanya tidak masuk kuliah satu hari saja, karena harus membawa keluarga ke dokter. Jadi selain hari tersebut, saya mengikuti program seperti biasa. 

Tentunya terasa kondisi fisik di 2-3 hari itu kurang prima (terbatuk-batuk dan sedikit pilek), tapi karena juga memakan obat flu, saya masih dapat mengikuti jalannya program.
(irw/nrl)


Berita Terkait