Sebagai orang nomor satu di BUMN moda transportasi kereta api ini, Jonan ingin memperbaiki jiwa melayani jajarannya agar pelayanan yang diberikan bagi pengguna kereta api di Indonesia kian membaik.
"Kalau pakai seragam ini (sambil memegang bajunya) jiwa pelayanannya harus ada. Kalau nggak ada copot seragamnya, keluar saja," ujar Jonan kepada detikcom di sela-sela Press Tour Relaunching KA Argo Gede di Stasiun Bandung, Jawa Barat (14/7/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Temen-temen saya di pusat kadang merasa seperti bos. Kasihan kan temen-temen di Daops (daerah operasi)," aku Jonan.
Karena itu pria yang dilantik menjadi Dirut PT KA pada Februari 2009 ini melakukan serangkaian langkah untuk memperbaiki PT KA terutama soal pelayanan.
Langkah pertama yang dia lakukan adalah penyesuaian organisasi dengan memangkas Divisi Sarana di struktur PT KA.
Divisi ini sangat dominan. Dijelaskan Jonan, divisi ini mengurusi banyak hal dari mulai pengadaan, logistik, hingga Balai Yasa pun dikelolanya. Karena dominannya divisi itu sehingga Jonan mengakui akuntabilitasnya sangat sulit untuk dicek.
"Karena itu dengan segala hormat kepada pendahulu saya, kami meniadakan divisi ini," ujarnya.
Selain itu, Jonan mengatakan, dirinya mengubah paradigma PT KA dalam melayani. Ditegaskan, PT KA satu-satunya pengelola moda transportasi kereta api di negeri ini. Ini sangat berbeda dengan moda lainnya seperti pesawat dan bus yang sudah dimasuki oleh swasta.
"Karena itu sedang dicoba untuk memahami apa perlunya pengguna kereta api. Dengan cara itu, kita berharap lebih mengerti keinginan pengguna kereta," ungkap Jonan.
Tak lupa, Jonan memperbaiki kesejahteraan pegawai PT KA. Meskipun bertahap, Jonan berharap peningkatan kesejahteraan mampu memicu kinerja pelayanan oleh pegawai.
"Karena kalau perut kosong otak juga kosong," seloroh Jonan menutup pembicaraan.
(Rez/iy)











































