"Berat sekali, saya mulai pukul 6 pagi mulai ditelponin, sehari bisa 19 phone interview dan 5 TV interview. Kadang saya pukul 1 pagi baru pulang. Kemarin malah sempat kontrak dengan TV One selama tiga hari berturut-turut," tutur pria kelahiran Bogor 17 December 1972, saat berbincang dengan detikcom melalui telepon, Senin (25/5/2009).
Direktur Eksekutif Charta Politica ini mengaku mendapat pengalaman yang luar biasa selama menjadi narasumber di berbagai media dan forum selama pemilu. Bima pun bisa merasakan perbedaan yang mendasar antara pemilu 2009 dengan pemilu sebelumnya.
"Ada dua hal yang menarik dalam pemilu 2009, peran konsultan politik menjadi signifikan dan perdebatan platform ekonomi dalam pilpres," tutur Bima.
Namun demikian, kondisi dilematis dialami doktor lulusan The Australian National University, Canberra, ini. Jaringan politik yang semakin luas membuatnya serba salah saat diminta komentar mengenai tingkah polah manuver politik temannya yang kurang disuka publik. Independensi dan objektifitas Bima diuji di sini.
Β
"Posisi semakin berat, semua temen-temen ingin disenangkan, kalau ngomong ke kiri yang kanan marah. Tetap menjaga teman tapi lurus pada idealisme dan obyektifitas tidaklah mudah," tutur Bima.
Bima punya solusi cerdas mengatasi beratnya menjaga objektifitas. Politik baginya seperti seni menyalurkan amanat rakyat. Dengan cara ini Bima bisa selalu tersenyum di tengah kesibukannya.
"Politik adalah seni bagaimana memperjuangkan kepentingan publik tanpa kehilangan idealisme dan objektifitas," tutur pria bershio Tikus ini.
Dari Pemilu 2009 juga, Bima menemukan tokoh favorit yang sangat diseganinya. "Saya kagum pada kepemimpinan visioner Soekarno dan keberanian Amien Rais," akunya.
(van/nrl)











































