"Aku kerja untuk diri sendiri. Manfaatnya bukan untuk diri sendiri atau keluarga, tapi untuk masyarakat banyak," ujar Danang dalam perbincangan dengan detikcom di Kantor ICW, Jl Kalibata Timur, Jakarta, Jumat (8/5/2009).
Lulusan Fakultas Teknik Elektro Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah, ini bukan hanya mendapatkan materi selama aktif di ICW. Dia lebih banyak mendapatkan kepuasan batin karena memberikan informasi kepada masyarakat serta ikut memperjuangkan semangat antikorupsi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebenarnya, sebelum gabung dengan ICW Danang pernah bekerja sesuai dengan latar belakan pendidikan. Tapi karena tidak menikmati, akhirnya pria berkacamata ini banting setir menjadi aktivis LSM.
"Karena memang hobi dan minatnya memang ke politik, hukum atau ekonomi. Saya juga juga berminat di pemberantasan tindak korupsi. Karena kita hidup di negara yang kulturnya seperti ini," ungkapnya.
Danang mulai bergabung dengan ICW pada 2000 silam. Pada awalnya, dia membantu penelitian-penelitian dan ikut berbagai kegiatan ICW. Danang merasa bangga bergabung dengan ICW meski pilihan ini mengandung banyak risiko. "Memberantas korupsi banyak musuhnya, banyak juga yang nggak suka sama ICW," ujarnya.
Danang mencontohkan, selama ini ada pihak-pihak yang menuding ICW berada di balik orang/kelompok yang punya kepentingan dan beberapa tokoh yang diduga mengambil manfaat dari suara lantang ICW.
"ICW dianggap orangnya Medco atau orangnya Ginandjar Kartasasmita. Dalam kasus BI, kita juga dianggap ambil keuntungan. Kita nggak bisa mengkonfirmasi atau membantah isu-isu itu karena nggak jelas siapa yang menghembuskan," cerita pria yang lahir 36 tahun silam ini.
Tak jarang juga kantor ICW didemo oleh pihak-pihak yang merasa dirugikan. Akibatnya, kerja-kerja pemberantasan korupsi terhambat. Tapi menurut Danang, ini adalah risiko sebuah perjuangan.
ICW juga tak jarang menghadapi masalah finansial. Karena menurut Danang, banyak kegiatan ICW bersifat sukarela, sehingga tidak semua kegiatan mendapatkan pendanaan.
Sebuah pengalaman menarik dia ceritakan. Waktu itu dia sedang mejadi pembicara talk show di sebuah stasiun TV swasta bertema perlindungan terhadap TKI. Tidak tahu alasannya kenapa, tiba-tiba Danang dapat hadiah bogem mentah dari salah seorang penonton di studio.
"Saya pernah dipukul oleh salah satu penonton," cerita Danang sembari tersenyum.
(anw/nrl)











































