"Saya sangat bangga Pak Fadel yang di Golkar tidak dilihat tapi justru yang melihat partai-partai lain, seperti PDIP, Gerindra, dan PAN. Tapi saya juga sedih, kenapa justru partai lain yang melihat? Kenapa bukan Golkar sendiri, yang mana Pak Fadel menjadi kadernya?" ujar Hana.
Hal itu dia sampaikan saat ditemui usai acara peluncuran film dokumenter "Fadel Muhammad Mengabdi untuk Indonesia" di TIM, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Rabu (4/2/2009). Hana yang mengenakan setelan baju ungu dengan rambut panjangnya separoh tergelung itu baru saja mendampingi sang suami mengisi diskusi tentang film tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Golkar kan partai besar, seharusnya bisa berjiwa besar. Jika ada kadernya yang potensial seharusnya bersyukur. Yang saya lihat kok justru partai lain yang meminati Pak Fadel, bukan Golkar," ungkap ibu 6 anak ini.
Hana menduga, perlakuan Golkar itu karena pengaruh beberapa petinggi partai yang bersikap tidak dewasa. "Itu karena orang-orang di partai yang mengecilkan dia, yang egois dan mengecilkan orang-orang di bawahnya. Bukan partainya ya, tapi orang-orang di dalam partai," tandas perempuan yang mengaku dibuai oleh perhatian dari sang suami ini.
Di mata Hana, Fadel memang sosok yang penuh perhatian. Di sela kesibukannya sebagai seorang gubernur dan pengurus tingkat nasional salah satu parpol terbesar di negeri ini, Fadel masih menyempatkan diri berkirim SMS kepadanya setiap saat.
"Tiap saat dia sms, menanyakan saya lagi di mana. Minimal 4 kali sehari lah. Justru saya yang kadang lupa," ungkapnya dengan wajah berseri.
Menanggapi wacana pemimpin alternatif di mana nama Fadel sering disebut-sebut, Hana mengaku belum berpikir sejauh itu. Baginya, akan lebih menarik jika suaminya menyelesaikan dulu masa pemerintahannya sebagai Gubernur Gorontalo yang masih tersisa 2 tahun. Namun toh perempuan yang lahir di bawah naungan bintang virgo ini juga tidak menutup mata terhadap perkembangan politik riil.
"Tergantung juga, politik kan berubah-ubah, nggak ada yang tahu. Siapa tahu di tengah-tengah Pak Fadel memimpin sebagai gubernur ada tawaran untuk jadi wapres atau menteri, kan sayang," akunya.
Baginya, perpindahan kancah politik Fadel dari lokal ke nasional adalah bentuk perluasan peran dan pengabdian. Kalau tadinya Fadel mengabdi untuk rakyat Gorontalo, maka jika dia menjadi menteri atau wakil presiden atau bahkan presiden, artinya lingkup pengabdiannya semakin luas.
Hal serupa berlaku untuk soal kendaraan politik. Mengingat perlakuan Golkar yang kurang memuaskan, Hana tak keberatan jika Fadel berpindah partai. "Kalau sudah mentok, mau gimana lagi. Semua partai kan sama saja, semua partai punya tujuan baik," tandasnya.
(sho/iy)










































