"Saya sesungguhnya belum pernah declare akan maju (menjadi capres) lagi. Saya cuma duduk di kursi cadangan sambil berlatih menajamkan visi saya, menambah wawasan dan mendalami masalah-masalah negara ini," ujar Amien Rais.
Hal itu disampaikan Amien dalam diskusi 'Media dan Pemilu 2009' di Wisma Antara, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (10/12/2008).
Latihan itu dilakukannya untuk berjaga-jaga bila ada yang mengusung dirinya menjadi capres. "Eh, siapa tahu ada yang mencalonkan. Siapa tahu bisa maju," imbuh dia.
Meski demikian, Amien tetap realistis. Bila hitung-hitungan di atas kertas tidak memenuhi syarat, dia akan mundur. "Nanti buang-buang tenaga," tutur mantan Ketua Umum PAN ini.
Perjalanan politik Amien Rais sudah cukup panjang. Dia yang dikenal sebagai 'Kancil Pilek' mendadak makin terkenal saat berani mengkritik Presiden Soeharto dan Orde Baru. Saat itu, dia masih menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah. Dia sempat jadi incaran intelijen dan ancaman-ancaman lain menjelang Soeharto jatuh.
Setelah Soeharto jatuh, Amien Rais bersama sejumlah tokoh prodemokrasi yang tergabung dalam Majelis Amanat Rakyat (MARA) membentuk PAN, partai bergambar Matahari Terbit. Amien didapuk menjadi ketua umumnya dengan Faisal Basri sebagai sekjennya.
Pemilu 1999 berlalu, PAN mengantongi suara sekitar 7 persen. Dalam situasi politik yang mendesak setelah pertanggungjawaban Presiden BJ Habibie ditolak oleh MPR, Amien sempat diusung menjadi calon presiden. Namun, dalam pertemuan tertutup di sebuah rumah seorang pejabat di Jakarta, Amien menolak tawaran itu. Dia akhirnya terpilih sebagai Ketua MPR lewat skenario 'Poros Tengah'nya. Hasil SU MPR 1999 juga memilih Gus Dur sebagai Presiden RI dan Megawati sebagai Wakil Presiden, serta Akbar Tandjung sebagai ketua DPR.
Lima tahun duduk di MPR, Amien Rais diusung oleh PAN sebagai calon presiden 2004. Namun, sang lokomotif Reformasi ini tidak laku. Berpasangan dengan Siswono Yudohusodo, Amien Rais hanya bisa bertengger di nomor empat, kalah dengan pasangan SBY-Jusuf Kalla, Megawati-Hasyim Muzadi, dan Wiranto-Gus Solah. Amien gagal di putaran pertama, sementara SBY-Jusuf Kalla menjadi pemenang setelah mengalahkan Megawati-Hasyim Muzadi di putaran kedua.
Dalam Kongres PAN 2005, Amien diganti dari Ketua Umum PAN dan diberi amanat menjadi Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP) PAN hingga kini. Setelah kekalahan dalam pertarungan di Pilpres 2004, Amien ternyata belum kapok, masih ada harapan untuk maju lagi. (nwk/asy)











































