Mengenakan topi bertuliskan 'Brazil', sang Menteri Pertanian bernama Anton Apriyantono mengunjungi sejumlah lapak. "Saya ingin mencari sandal dan alat potong kuku," kata Anton saat dihampiri wartawan detikcom Arifin Asydhad.
Anton Apriyantono saat itu sudah membawa satu plastik kresek berisikan beberapa barang yang dibelinya, termasuk kaos Timnas Brazil. "Pagi nanti mau dipakai untuk jogging," kata dia yang berbelanja seorang diri pada saat dini hari itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria bergelar doktor dari salah satu universitas di Inggris ini tampak serius mencari sandal dan potong kuku. "Dua barang ini yang belum saya dapat. Saya selalu bawa alat potong kuku, tapi saya taruh di koper. Koper kan nggak diturunkan dari pesawat soalnya," ujar alumnus IPB itu yang menginap bersama Presiden SBY di Hotel Marriott, Copacabana.
Setelah muter-muter, akhirnya Pak Menteri menemukan lapak sandal jepit. Dia mencari sandal nomor 41-42. Dia pilih warna kuning, warna Brazil. "How much?" kata Pak Menteri. Sang penjual yang seorang perempuan Brazil menjawab 14 Real (sekitar Rp 70.000).
Harga barang-barang di Copacabana memang jauh lebih mahal dibanding di Indonesia. Sandal jepit di Indonesia bisa didapatkan hanya Rp 15 ribu. Tanpa ada proses tawar menawar, Pak Menteri langsung mengeluarkan uang Real dari dalam dompetnya.
"Kenapa nggak ditawar? Kalau ditawar bisa dapat 10 Real," tanya detikcom. Pak Menteri yang terlihat gampangan ini lalu berujar, "Saya nggak mau lama-lama, biarkan saja." "Ini nanti pagi juga akan saya pakai untuk jogging," imbuh dia.
Setelah mendapat sandal, Pak Menteri berputar lagi ke lapak-lapak lain mencari alat potong kuku. Namun, barang itu tak didapatkannya, tidak ada pedagang kaki lima yang menjual alat penting bagi Pak Menteri itu.
Sekitar pukul 01.00, para pedagang kaki lima di pinggiran Pantai Cobacabana pun menutup lapak-lapaknya. detikcom menawari Anton naik mobil untuk pulang menuju Hotel Marriot. Namun, dia menolak. Dia lebih memilih berjalan kaki. Jarak hotel Marriott menuju pasar kaki lima itu sekitar 700 meter.
"Kita jalan kaki saja. Saya terbiasa jalan kaki. Sambil kita nanti mampir ke warung-warung itu sambil minum kopi," ajak Pak Menteri sambil menunjuk warung-warung minuman di dekat pantai.
Setelah berjalan kaki sekitar 650 meter, Pak Menteri yang direkomendasikan PKS ini singgah lagi di warung minuman sederhana itu. Namun, pedagang minuman tidak menjual kopi. Yang dijual adalah berbagai jenis minuman bir, soft drink, dan kelapa muda. Tentu, sudah bisa diduga, kelapa muda jadi pilihan Pak Menteri.
Di pinggir pantai yang berpasir putih dan dengan suara deburan ombak yang indah, Pak Menteri menyeruput air kelapa muda tanpa gula. Dia yang berjaket hitam itu berbincang hingga pukul 02.00 waktu setempat, karena hujan mulai turun. Pak Menteri kembali ke hotel, istirahat untuk selanjutnya mempersiapkan pertemuan dengan para pengusaha pertanian dan pangan pada pagi harinya. (asy/nrl)











































