Dari wajahnya, pria ini tampak seperti orang 40-an tahun. Tapi, sejatinya dia masih muda, berumur 34 tahun. Sehari-hari menjadi guru bahasa Spanyol untuk orang-orang asing di Meksiko. Namun, begitu ada panggilan tugas sebagai relawan untuk melakukan evakuasi, Omar langsung sigap: siap membantu!
Ditemui detikcom di sela-sela acara Ramah Tamah Kedubes RI Meksiko di Hotel Presidente Intercontinental, Mexico City, Omar mengaku rindu dengan Indonesia. "Saya rindu, saya senang Indonesia. Saya punya pacar di Indonesia, di Medan," ujar pria lajang yang beragama Katolik ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Omar berada di Banda Aceh dan Lhokseumawe sekitar tiga bulan untuk ikut menangani para korban tsunami Aceh. Setelah itu, dia juga kembali ke Indonesia saat terjadi gempa di Gunung Sitoli, Nias. Ketika gempa hebat menghantam Yogyakarta, dia juga kembali ke Indonesia ikut melakukan evakuasi.
Aksi sosial Omar tidak hanya di Indonesia. Dia telah mengelilingi dunia. "Saat terjadi serangan 11 September 2001 di Washington DC, saya juga ke sana. Kami mencari korban yang tertimbun puing-puing bangunan dengan linggis. Saya masih menyimpan foto-fotonya," ujar dia.
Dengan berkeliling dunia, Omar pun kini menguasai tiga bahasa asing: bahasa Spanyol, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia. Dengan hanya berada di Indonesia sekitar 3 bulan, Omar cukup cepat mempelajari bahasa Indonesia. Meski saat ini bahasa Indonesianya masih terpatah-patah, namun sudah cukup baik.
Sebelum mengikuti acara Ramah Tamah Kedubes RI Meksiko, Omar dan para relawan Topos lainnya sempat bertemu Presiden SBY. Mereka bersalaman dan berfoto bersama. Presiden SBY mengucapkan terima kasih atas bantuan mereka selama di Indonesia.
Tahun 2008, Omar berencana akan kembali ke Indonesia. Ingin menangani musibah apa? "Bukan, saya akan tengok pacar saya di Medan," ujar Omar yang mengenakan seragam Topos warna oranye. (asy/asy)











































