Zainal harus berurusan dengan Harmoko saat masih berprofesi sebagaiΒ seorang pemburu berita. Sebagai wartawan tentu saja harus siap dengan segala
konsekuensi termasuk dimarahi oleh narasumber dan ancaman teror militer.
Salah satu narasumber yang sering menegur bahkan mengancam ingin mencabut surat ijin terbit (SIT) dari perusahaan media yang dibuat oleh pria asal Sulewesi Selatan ini adalah Harmoko.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
tekanan. Namun pria berkumis ini yang berpedoman kepada 3 hal yaitu jujur, tabah dan bersahabat dengan tekanan akhirnya bisa melewati itu semua.
Menurut Zainal, ia sudah kenyang dimarahi oleh narasumber akibat tulisan yang dibuatnya. Salah satu narasumber yang sering menegur dan mengancam akan mencabut
surat izin terbit Bharata, mingguan tempat Zainal bekerja adalah Harmoko.
"Harmoko sering sekali meminta saya untuk tidak terlalu berani dalam mengkritik pemerintahan," kata Zainal Bintang kepada detikcom.
Menurut Zainal, Harmoko yang pada saat itu sebagai menteri penerangan selalu mengeluh karena dirinya selalu ditegur oleh presiden.
Tulisan yang dibuat Zainal selalu mengkritisi kinerja pemerintahan pada saat itu. Ia sempat merasa sendiri didunia ini karena tekanan yang begitu besar yang dilakukan
oleh rezim Soeharto.
Namun setelah mendengar pidato dari Jhon F.Kennedy, Zainal akhirnya bisa sadar dan tabah dalam menghadapi tekanan tersebut. Salah satu pesan dari pidato tersebut
adalah bagaimana kita mensiasati dan bersahabat dengan tekanan.
"Saya sempat mengalami tekanan yang begitu hebat dari rezim yang membuat saya merasa sendiri di dunia ini," kata Zainal.
Saat ini Zainal mengaku sebagai penjaga gawang dari institusi partai berlambangkan pohon beringin ini. Jika ada kebijakan yang dibuat oleh partai Golkar
tidak sesuai dengan mekanisme partai maka dengan tegas pria ini akan menegurnya.
"Tugas saya sudah cukup bisa menumbangkan Soeharto, saat ini saya jadi penjaga gawang saja di institusi," tandas Zainal. (ron/iy)










































