Rachmat Witoelar, Antara Mudik dan Polusi

Rachmat Witoelar, Antara Mudik dan Polusi

- detikNews
Selasa, 07 Okt 2008 04:07 WIB
Rachmat Witoelar, Antara Mudik dan Polusi
Jakarta - Setiap menjelang Lebaran, berjuta-juta orang rela berjibaku agar dapat pulang ke kampung halaman dan menemui orang tua serta sanak saudara tercinta. Tak terkecuali para pejabat negara.

Lantas, bagaimana dengan Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar? Bagaimana pula tanggapannya soal mudik dan emisi yang dihasilkan jutaan kendaraan motor selama arus mudik dan balik?

Rachmat ternyata bukan termasuk satu dari jutaan orang yang mudik ketika lebaran. Pria kelahiran Tasikmalaya, 2 Juni 1941 ini memilih tetap tinggal di Jakarta bersama keluarganya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya di Jakarta saja. Orang lain pulang kampung saya disini saja. Keluarga juga di sini semua," kata Rachmat dalam sebuah perbincangan dengan detikcom di sela-sela halal bihalal di Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Jl DI Panjaitan, Kebon Nanas, Jakarta Timur, Senin (6/10/2008).

Pada waktu lebaran, jalan-jalan di Jakarta sepi dari kendaraan bermotor yang menyebabkan polusi udara. Karena itu, menurutnya, momen mudik lebaran adalah kesempatan bagi orang Jakarta untuk menghirup udara segar.

"Mudik itu kesempatan orang-orang Jakarta menghirup udara segar. Itu boleh dicoba," anjurnya.

Rachmat agaknya tidak terlalu mempersoalkan emisi yang dihasilkan kendaraan pengangkut jutaan pemudik. Alasannya, mudik memiliki nilai ibadah. Selain itu mudik juga menjadi sarana pemerataan ekonomi.

"Mudik kan ada nilai ibadahnya. Selain itu mudik juga penyebaran kesempatan ekonomi, pemerataan," lanjut mantan Sekjen Golkar ini sambil tertawa renyah.

Rachmat membandingkan tradisi mudik ini dengan balap motor yang berlangsung di Singapura 27 September lalu. Meski sama-sama menghasilkan emisi, namun Rachmat mengaku lebih mempertanyakan balap motor dibanding mudik.

"Dibanding waktu tanggal 27 September kemarin Singapura bikin balap- alapan. CO2 banyak di balap-balapan kayak gitu. Saya mempertanyakan lho," ujarnya.

Rachmat yang mengaku diundang di acara itu memilih untuk tidak menghadiri undangan tersebut.

"Saya diundang kesana tapi saya menolak karena saya nggak senang. Mending yang sederhana saja. Lari pagi misalnya," kata lulusan Arsitektur ITB ini. (alf/sho)



Berita Terkait