Franky Sahilatua, Penyelam Balada Kehidupan Buruh Migran

Franky Sahilatua, Penyelam Balada Kehidupan Buruh Migran

- detikNews
Senin, 08 Sep 2008 17:02 WIB
Franky Sahilatua, Penyelam Balada Kehidupan Buruh Migran
Jakarta - Franky Sahilatua penyanyi balad yang dikenal di era 70-an ini juga menjabat sebagai duta buruh migran. Sejak 13 Juli 2006, Franky dan penyanyi dangdut, Nini Carlina, dilantik oleh Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) dan International Labour Organization (ILO) untuk mewakili aspirasi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri.

"Saya jadi banyak tahu tentang duka para TKI buruh migran. Bagaimana buruh biasanya bermodal kemampuan cuci dan masak, tiba-tiba harus ke negara tujuan ada yang diminta ngerawat orang gila dan itu tentu bukan kemampuan yang mereka punya," ujar Franky kepada detikcom, Senin (8/9/2008) saat menjawab alasannya mengemban tugas ini.

Pria kelahiran Surabaya 16 Agustus 1953 ini, mengaku memiliki perhatian dengan dunia sosial sejak remaja. Perhatiannya tertuang pada lirik lagu-lagunya hitsnya seperti 'Orang Pinggiran', 'Perjalanan', 'Bis Kota', dan 'Di Bawah Tiang Bendera', lagu yang diciptakannya bersama Iwan Fals.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya menjadi jubir teman-teman buruh migran, ya prinsip dasarnya karena saya seneng bantu rakyat," tutur pria paruh baya ini.

Pria pencipta lagu 'Kemesraan' yang dipopulerkan Iwan Fals ini selama menjabat sebagai duta buruh migran beberapa kali bertandang ke Singapura, Hong Kong, dan Korea untuk menjenguk para TKI yang bekerja di sana. Franky mengaku merasa prihatin dan sedih jika berdialog dengan para TKI di tempat penampungan (shelter), sampai-sampai ia beberapa kali mendapati dirinya menitikkan airmata.

"Ya, kalau dengar mereka yang di shelter, TKI-TKI disitu ceritanya kasihan-kasihan. Yang harusnya kuliah, harus apa, tapi malah terdampar di negeri orang. Mereka masih muda-muda, wajahnya masih lugu-lugu. Apalagi sering mereka jadi korban majikannya. Saya sampai menitikkan air mata," ungkap Franky.

Para TKI yang dijumpainya seringkali mengeluhkan tentang ketidakadilan seperti penganiayaan dan upah yang tidak mereka terima. Ayah dari dua putra ini mengaku prihatin mengingat kebanyakan dari TKI berjenis kelamin perempuan.

"Saya membayangkan kalau mereka ini anak-anak saya. Bagaimana coba, perasaan orangtua mereka di kampung melihat anaknya tersiksa begini," tuturnya.

Franky yang pernah menulis dan menyanyikan lagu-lagu untuk soundtrack film 'Ali Topan' ini pun bercerita kepada detikcom tentang pengalamannya yang paling menyedihkan, saat berdialog dengan TKI di Hong Kong baru-baru ini.

"Saya pernah ketemu TKI yang digebuki, tangannya sampai dipelintir majikannya. Selain itu banyak juga yang menjadi lesbian dengan sesama TKI di shelter. Kasihan saya melihatnya. Dengan kondisi perekonomian amburadul, bekerja disana uang dapet, tapi resiko kebutuhan biologis kocar-kacir, mau selingkuh takut. Banyak itu. Belum lagi alasan suaminya di kampung nikah lagi," ceritanya. (vna/nwk)


Berita Terkait