DetikNews
Jumat 19 Desember 2014, 16:11 WIB

Moazzam Malik, Dubes Inggris untuk RI Pertama yang Muslim dan Gemar Lotek

Nograhany Widhi Koesmawardhani - detikNews
Moazzam Malik, Dubes Inggris untuk RI Pertama yang Muslim dan Gemar Lotek Dubes Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik (Foto: Nograhanya WK)
Jakarta -

"Assalamualaikum," sapa ramah Dubes Inggris untuk RI yang baru Moazzam Malik kepada wartawan. Dubes Inggris pertama yang seorang muslim ini menceritakan segala kesannya tentang Indonesia.

"Saya seorang Islam. Saya Dubes Inggris untuk Indonesia pertama yang beragama Islam. Di luar negeri, ada 2-3 kolega saya yang Islam yang bertugas di negara lain," kata Malik.

Hal itu disampaikan Malik dalam konferensi pers dengan wartawan di rumah dinasnya di Jl Teuku Umar 72-74, Jakarta Pusat, Jumat (19/12/2014). Tentu bukan semata-mata agamanya yang membuat Malik ditugaskan ke Indonesia, melainkan karena kemampuan dan profesionalistasnya.

"Bukan hanya saya seorang Islam, tetapi karena saya punya pengalaman lama di Asia Selatan, Timur Tengah dan Afrika Timur. Saya punya kepercayaan diri akan kapabilitas saya," jelas Malik.

Sebelum menjadi Duta Besar, Malik sempat menjabat Dirjen Sementara di Departemen untuk Pembangunan Internasional Inggris, mengawasi kerjasama Inggris di Timur Tengah dan Asia Barat. Sebelum pindah ke Jakarta, Malik sempat duduk di Badan Penasihat untuk UK All Party Parliamentary Group bidang Konflik dan anggota Kelompok Penasihat di Sekjen PBB untuk Pendanaan Darurat serta sempat bekerja untuk LSM dalam menghapus tenaga kerja anak di industri karpet Asia Selatan.

Dalam jumpa pers, Malik banyak memakai bahasa Indonesia yang cukup fasih. Malik mengaku sudah belajar bahasa Indonesia selama 6 bulan sebelum dia benar-benar bertugas di tempat barunya pada 20 Oktober 2014 lalu.

"Saya belajar bahasa Indonesia selama 6 bulan. 5 Bulan di London dan 1 bulan di Yogyakarta, bulan Juni 2014," imbuh pria yang kini sedang memperlancar bahasa Indonesianya melalui novel-novel Agatha Christie yang berbahasa Indonesia.

Saat belajar bahasa Indonesia di Yogyakarta selama 1 bulan itu, Malik sempat indekos dan makan makanan lokal.

"Saya kos di sana. Ibu kos saya baik sekali," ujarnya.

Tentang makanan lokal, Malik mengaku suka sekali lotek yang mirip gado-gado. "Saya suka lotek. Hampir setiap hari saya makan lotek. Soalnya pedas, enak. Yang seperti lotek itu gado-gado ya," imbuh pria keturunan Pakistan yang lahir dan besar di London ini.

Saat ditanya tentang kondisi Jakarta yang identik dengan macet, Malik malah mengatakan bahwa Jakarta adalah kota yang nyaman.

"Kebanyakan waktu saya mengawasi pembangunan di Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika Timur. Jadi menurut saya Jakarta itu ibu kota yang nyaman dan menarik. Saya lihat juga semua orang Indonesia tersenyum," tutur Malik yang juga selalu tersenyum selama jumpa pers ini.

Menurutnya, setiap kota dan negara selalu punya permasalahannya sendiri. Namun, di balik masalah itu, ada sisi-sisi menarik dan peluang yang bagus.

"Di Jakarta banyak hiburan, cuacanya cerah, bagus, tapi tidak terlalu panas. Karena saya sudah mengalami cuaca di Asia Selatan yang lebih panas," tutur pemilik akun Twitter @@MoazzamTMalik ini.

Tentu saat terjebak kemacetan di Jakarta, Malik punya benda-benda 'pembunuh waktu'.

"Saya ada beberapa buku bacaan di mobil saya, juga HP kalau kondisi macet. Tapi saya senang di sini, anak saya senang sekolah di sini, bahkan istri saya pun senang belanja di sini," kata ayah 3 anak yang sempat mengikuti keriuhan pelantikan Presiden Jokowi di Bundaran Indonesia hingga Monas pada 20 Oktober 2014 ini.


(nwk/nrl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed