DetikNews
Kamis 17 November 2011, 17:31 WIB

Hokky Situngkir, Sang Ilmuwan Fisika Batik

- detikNews
Hokky Situngkir, Sang Ilmuwan Fisika Batik
Jakarta - Batik rupanya bukan hanya selembar kain yang dipenuhi motif. Ada rahasia di balik batik yang menjadi implementasi pemikiran si penoreh lukisan batik. Rahasia ini dikuak oleh ilmuwan muda Hokky Situngkir.

Penemuan fisika batik oleh Hokky bermula saat dia menggelar diskusi dengan beberapa kalangan seni rupa. Para seniman itu menunjukkan berbagai rupa karya seni rupa Barat, mulai dari massa renaissance. Lalu Hokky pun tergerak hatinya untuk mencari seperti apa jejak seni rupa Nusantara.

\\\"Kalau menemui kata batik yang terpikir adalah kain pakaian. Tapi sebenarnya ini adalah karya lukis yang punya cerita. Batik-batik asli pasti ada ceritanya. Tidak ada batik yang tidak ada narasi di belakangnya,\\\" ujar Hokky dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (17\/11\/2011).

Dalam setiap karya lukis terdapat landasan untuk melukis. Di masa renaissance dikenal nirmana yang merupakan dasar untuk menghasilkan karya lukis. Nirmana bisa dipahami sebagai bentuk yang tidak berbentuk. Dipahami pula sebagai pengorganisasian atau penyusunan elemen-elemen visual seperti titik, garis, warna, ruang dan tekstur menjadi satu kesatuan.

\\\"Ada perspektif, ada geometris. Kalau geometri, yang dia pakai apa? Apakah gaya melukisnya begitu ada model lalu digambar. Lalu kita pakai hipotesis, batik dilukis dengan fraktal. Dengan data sekitar 200-300 motif batik, kita hitung dimensi dan uji hipotesis,\\\" sambung Hokky.

Setelah melakukan uji hipotesis ternyata ditemukan karakteristik geometris fraktal dari dimensi dan polanya. Hal itu sangat mengagetkan Hokky dan peneliti lainnya di Bandung Fe Institute. Dari berbagai ribu motif batik, rupanya geometri fraktal masih konsisten. Termasuk karya batik kontemporer.

\\\"Tapi sepertinya penggunaal fraktal ini secara tidak sadar. Penjelasan saya kenapa digunakan geometri fraktal adalah ketika melukis batik beda dengan menggambar lukis. Kalau lukis kan memindahkan lanskap ke kanvas. Sedangkan batik merupakan mengisi selembar kain dengan cerita,\\\" sambung alumnus ITB itu.

Ketika mengisi kain dengan cerita, maka tidak dibolehkan ada sisi yang kosong di dalam lembaran kain tersebut. Sehingga pada akhirnya, diisi dengan gambar ibarat sedang memasang puzzle. Lalu tanpa disadari batik memiliki karakteristik fraktal.

Wikipedia menyebut, fraktal adalah benda geometris yang kasar pada segala skala, dan terlihat dapat \\\'dibagi-bagi\\\' dengan cara yang radikal. Nah, di batik-batik tua yang diteliti Hokky tidak pernah ada lukisan yang tumpang tindih.

Fraktal, lanjut Hokky, merupakan bentuk geometri dengan simetri yang luar biasa dan khusus. \\\"Kalau batik tulis terdapat gambar daun maka yang satu dan yang lain mirip, tapi tidak persis sama,\\\" imbuhnya.

Dalam lukisan batik terdapat cerita melalui simbol-simbol yang ada. Sayangnya, cerita di balik batik sering kali terlupakan. Sekarang sebagian masyarakat keasyikan dengan sisi komersial sehingga lupa bahwa batik memiliki cerita.

Fisika batik bisa menjelaskan karya seni rupa dua dimensi yang sudah lama sekali. Bahkan fisika batik bisa menjelaskan cara membaca pikiran para pembatik dilihat dari sudut pandang fisika.

Hokky memiliki latar belakang pendidikan elektro teknik. Namun bergulat dengan berbagai rumus fisika dan teori sosial tidak membuatnya kesulitan dan menyerah. Bagi dia, kompleksitas ilmu bertujuan menekankan pada hilangnya sekat antar ilmu pengetahuan.

\\\"Yang kita teliti sebenarnya masalah sosial tapi dengan pendekatan berbagai keilmuan. Dan ternyata masalah sosial bisa dikaji interdisiplin. Kami ingin memberikan apa yang kita punya untuk memperbaiki negeri ini,\\\" tutur pria kelahiran 7 Februari 1978 ini.

Hokky memiliki keinginan melakukan penelitian untuk mengetahui ada apa di balik tenun, topeng dan tarian di Nusantara. Tak hanya itu, dia juga memiliki niatan untuk membuat portal kebudayaan, mengingat selama ini belum ada portal kebudayaan yang terpusat.

www.budaya-indonesia.org pun sengaja dibuat agar bisa menjadi perpustakaan digital budaya Indonesia. Para pengunjung situs tersebut bisa melihat kekayaan budaya Tanah Air dan bisa memberikan sumbangan untuk menambah data situs tersebut.

Atas ketekunan dan kepandaiannya, Hokky memeroleh penghargaan Bakrie Award 2011 sebagai ilmuwan muda berprestasi. Sebelumnya dia juga telah menyabet 5 penghargaan dari Business Innovation Center bersama Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia. Dia juga beberapa kali tampil di berbagai konferensi ilmiah internasional.

Bagi Hokky, alam itu kompleks tapi ilmu pengetahuanlah yang menjadikannya sederhana. Karena itulah dia terus mengembangkan sayapnya untuk mencari sebanyak mungkin informasi, lalu mengolahnya dengan ilmu yang dimiliki guna lebih memahami alam dan segala isinya.

\\\"Sebab jika tidak bisa menumbuhkannya, maka kau tidak bisa menjelaskannya,\\\" kata pria yang menulis buku Fisika Batik ini bersama Rolan MD.




(vit/fay)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed