Jika survei LSI Denny JA ini akhir Juni (25-29 Juni) menunjukkan selisih elektabilitas kedua pasang capres-cawapres berada pada titik terendah yaitu 0,5 persen, namun dari hasil survei terbaru yang dilakukan pada awal Juli (2-5 Juli) pasangan Jokowi-JK unggul dengan selisih 3,60 persen.
Menurut peneliti LSI, Fitri Hari, dari hasil riset kualitatif pihaknya menemukan empat alasan mengapa kebangkitan elektabilitas pasangan Jokowi-JK terjadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Materi kampanye dari pintu ke pintu sendiri berisi janji program 100 hari pemerintahan Jokowi-JK. "Kartu Indonesia Pintar dan Kartu Indonesia Sehat sangat menyentuh wong cilik," ujar Fitri.
Kedua, kampanye di media sosial yang melibatkan dukungan dari tokoh-tokoh berintegritas tinggi serta artis dan selebritis mampu mendongkrak dukungan di segmen pemilih menengah ke atas. Fitri menuturkan gerakan #akhirnyamemilihjokowi yang masif efektif menarik simpati pemilih kelas menengah.
Ketiga, publikasi isu dan program Jokowi-JK dinilai publik lebih segar, baru, dan konkret sehingga mampu menarik dukungan dari pemilih menengah atas maupun menengah bawah. "Isu dan program seperti 3 janji Peraturan Presiden dalam 100 hari dan 5 kontrak dengan rakyat berhasil dipublikasikan secara masif terutama lewat serangan darat," kata Fitri.
Alasan terakhir, menurut pandangan Fitri adalah bergeraknya semua mesin pendukung Jokowi-JK baik mesin partai maupun mesin relawan di hari-hari terakhir kampanye. "Bergeraknya semua mesin pendukung salah satunya dipicu bayangan kekalahan akibat hasil aneka survei yang menunjukkan pertarungan semakin ketat," tutur Fitri.
(brn/brn)











































