Survei Kepribadian: Prabowo Dianggap Lebih Ambisius Dibanding Jokowi

- detikNews
Kamis, 03 Jul 2014 20:08 WIB
Jakarta -

Laboratorium psikologi politik Universitas Indonesia, Ikatan Psikologi Sosial Indonesia, Ikatan Psikologi Klinis Indonesia dan Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran melakukan survei tentang kepribadian calon presiden dan wakil presiden.

Responden survei adalah 204 psikolog yang memiliki pengetahuan dan pengalaman melakukan penilaian kepribadian di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi selama 18 hingga 27 Juni 2014.

Prosedur survei, responden terlebih dahulu diminta membaca bagian biografi para calon kemudian mereka menilai aspek kepribadian dan memberikan prediksi ke depan.

Aspek yang diukur adalah; motivasi sosial, cognitive complexity, explanatory style, trait, emotional stability, interpersonal style, leadership style, dan decision making style.

Hasilnya, untuk aspek motivasi sosial tentang motivasi ingin berkuasa Prabowo Subianto memiliki skor tertinggi yakni 8,84; Jusuf Kalla 7,31; Hatta Rajasa 7,17; dan Joko Widodo (Jokowi) 6,36.

"Bukan menonjolkan, ini perbandingan. Dari perjalan hidupnya, Prabowo dianggap lebih ambisius dibanding Jokowi," kata Psikolog dari Universitas Indonesia Hamdi Muluk saat memaparkan hasil survei tersebut, Kamis (3/7/2014) di D'Consulate, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat.

Menurut Hamdi, survei ini dilakukan dengan latar belakang bahwa, suatu kejadian tidak bisa hanya dijelaskan secara sederhana melalui kondisi-kondisi politik pada saat itu.

"Melainkan juga mempertimbangkan aspek kepribadian para pemimpin, kita bisa melihat kebijakan dari kepribadian pemimpin," kata Hamdi.

Namun karena para capres dan cawapres ini bukanlah orang yang mudah diakses atau dilakukan penilaian kepribadian secara tatap muka langsung, maka dilakukan penilaian jarak jauh (at distance).

Namun hasil survei ini dipertanyakan oleh Yudiana Ratna Sari, dari Ikatan Psikologi Klinis Indonesia. Menurut dia kepribadian seseorang termasuk capres-cawapres tak bisa ditakar, melainkan dideskripsikan dan dipahami.

"Meskipun mereka psikolog, pengertian mereka tentang istilah-istilah psikologi itu pasti berbeda-beda. Jadi, hasil-hasil ini meskipun ada angkanya, belum tentu susuai faktanya," kata Ratna.

Menanggapi pertanyaan tersebut Hamdi beralasan bahwa survei ini dilakukan untuk menjawab keingintahuan masyarakat tentang sosok capres dan cawapres yang akan mereka pilih.

"Itu sengaja biar populer, jadi saya kasih judul populer. Maksudnya adalah, spirit dari penelitian ini adalah masyarakat itu ingin tahu sosok seperti apa," kata Hamdi.

(erd/van)