Peta kekuatan masing-masing capres masih berubah karena masih ada 32,2 persen calon pemilih belum menentukan calon presidennya. Elektabilitas calon presiden Prabowo Subianto kian menempel ketat Joko Widodo (Jokowi).
Dalam catatan LSI Denny JA, pada September 2013 lalu elektabilitas Jokowi mencapai 50,3 persen sementara Prabowo 11,1 persen. Enam bulan kemudian, yakni Maret 2014 tingkat keterpilihan Jokowi turun menjadi 46,3 persen dan Prabowo justru naik ke angka 22,1 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada awal Juni disparitas kedua calon presiden dan wakil presiden kian tipis. Elektabilitas Prabowo-Hatta kian naik ke posisi 38,7 persen, sementara Jokowi-JK 45 persen.
Peneliti LSI Denny JA, Fitri Hari, mengatakan jika melihat tren pergerakan elektabilitas capres dan cawapres, maka selisih kemenangan nanti sangat kecil. Dia memprediksi selisih kemenangan di bawah 5 persen, yakni pemenang akan memperoleh suara sekitar 51-53 persen. Sementara pesaingnya mendapatkan dukungan 47 sampai 49 persen.
"Jika melihat hasil tren, Prabowo dapat mengambil pendukung Jokowi, tetapi pada akhirnya Jokowi tetap unggul dengan selisih 5 persen," kata Fitri Hari saat memaparkan hasil survei LSI Denny JA di Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (26/6/2014).
Survei LSI Denny JA dilakukan dengan wawancara tatap muka dengan 2.400 responden, menggunakan metode multistage random sampling dan margin error 2 persen.
(erd/nrl)











































