Adanya Relawan Fanatik Pengaruhi Tingkat Golput di Masyarakat

Adanya Relawan Fanatik Pengaruhi Tingkat Golput di Masyarakat

- detikNews
Kamis, 26 Jun 2014 15:27 WIB
Adanya Relawan Fanatik Pengaruhi Tingkat Golput di Masyarakat
Jakarta - Dalam survei yang Founding Fathers House (FFH), ditemukan 20 persen publik yang masih ragu menggunakan hak pilihnya pada Pilpres 9 Juli nanti. Salah satu faktor penyebab itu adalah soal kehadiran relawan fanatik.

"Sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan mereka masih ragu memilih. Namun salah satu faktornya adalah sikap fanatisme berlebihan yang dilakukan oleh relawan dari kedua calon presiden kepada publik yang masih ragu-ragu ini," ujar peneliti senior FFH, Dian Permata di kantornya, Jalan Prapanca Raya, Jaksel, Kamis (26/6/2014).

Dalam survei yang mereka lakukan pada 19 Mei hingga 22 Juni tersebut, Dian mengatakan telah melakukan berbagai interview dengan para responden. "Kita memang tidak menanyakan alasan mereka kenapa masih tidak tahu akan memilih siapa, namun beberapa beralasan, banyaknya sikap relawan fanatik masing-masing capres yang berusaha meyakini mereka, sehingga membuat mereka semakin ragu," tambah Dian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk hal ini, pengawasan dari lembaga utama pemilu seperti KPU dan Bawaslu sangat diperlukan. Mengingat pesta rakyat terbesar di Indonesia tersebut tinggal 14 hari lagi. "Akan lebih baik apabila mereka memilih, yang kita takutkan kan, kalau mereka yang 20 persen ini berubah menjadi tidak memilih siapa-siapa karena adanya hal membingungkan seperti yang mereka terima di publik," kata Dian.

Akademisi dari Universitas Jambi, Yanda Z Ishak, juga membenarkan adanya semacam cara yang dilakukan relawan untuk menarik suara dari masyarakat. Alih-alih mereka makin percaya untuk memilih, cara yang kelewat persuasif justru membuat publik bingung.

"Selain pengaruh relawan fanatik, hingga saat ini KPU dan Bawaslu harus segera memberikan arahan kepada masyarakat yang bingung untuk tidak ragu memberikan hak pilihnya," kata Yanda.

"Bahwa orang yang melakukan sesuatu tidak pada tempatnya harus ditegur atau dikenakan sanksi, karena Pilpres semakin dekat," pungkasnya.

(rni/mok)


Berita Terkait