Sementara duet Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mendapat elektabilitas sebesar 35,3 persen. Meski pasangan Jokowi-JK unggul namun selisih dengan pesaingnya kian tipis yakni 7 persen. Melihat ketatnya persaingan, Kompas menyebut masih mungkin terjadi perubahan.
Apalagi dalam survei itu memperlihatkan bahwa masih ada 22,4 persen responden yang belum menentukan pilihannya. Pemilih mengambang ini akan menjadi lahan perebutan pengaruh yang sangat menentukan kemenangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal tak jauh beda terjadi si Sumatera, Jokowi-JK hanya unggul 4,1 persen atas pasangan Prabowo-Hatta.
Perubahan peta dukungan masing dimungkinkan terjadi. Di Jawa peluang itu bisa terjadi di Jawa Timur. Wilayah yang menjadi basis Nahdlatul Ulama dan Partai Kebangkitan Bangsa itu masih banyak massa mengambang, yakni mencapai 27 persen.
Survei Kompas dilakukan dengan mewawancarai 1950 responden selama kurun waktu 1-15 Juni 2014 di 34 provinsi di Indonesia, dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Sementara sampling error diperkirakan sebesar 2,2 persen. Namun 'nonsampling error' dimungkinkan terjadi.
(erd/ndr)











































