"Hasil survei menunjukkan 61% sudah mantap terhadap pilihannya, 24,9% masih mungkin berubah, 13,8% tidak tahu. Artinya kompetisi kedua kubu pasangan kandidat masih akan berlangsung cukup kompetitif hingga hari-H pemungutan suara," kata Direktur Eksekutif Pol Tracking Institute, Hanta Yuda, dalam paparan hasil survei di Hotel Morrisey, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (15/6/2014).
Survei ini dilaksanakan pada 26 Mei-3 Juni 2014 secara serempak di 33 provinsi di Indonesia. Jumlah responden dalam survei ini sebanyak 2.010 orang dengan margin error +/- 2,19% pada tingkat kepercayaan 95%. Survei ini menggunakan metode multi-stage random sampling dalam penarikan sampel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Artinya kontestasi perebutan suara pemilih aman terus berlanjut hingga pemungutan suara," kata Hanta.
Para pemilih menggunakan sejumlah parameter dalam memilih capres. Antara lain visi-misi (36%), rekam jejak kepemimpinan (35,1%), latar belakang keluarga (15,3%), partai pengusung (3,0%). Sementara itu karakter capres-cawapres juga jadi pertimbangan antara lain bersih dan jujur (50,1%), peduli dan merakyat (22,6%), tegas dan berani (16,5%), berpengalaman (4,4%), pintar dan visioner (1,8%), penampilan menarik (0,2%).
Kualitas personal capres-cawapres juga jadi pertimbangan tersendiri, antara lain kemampuan menjalankan pemerintahan (38,5%), keberanian mengambil keputusan (17,8%), berintegritas (11,0%),
kompetensi dan kapabilitas (10,6%), visi dan gagasan (9,6%), pengalaman prestatif (8,1%).
"Saat ini hanya ada 25% yang mengetahui visi-misi, sedangkan 61% pemilih belum mengetahui sehingga periode kampanye terbuka menjadi penting untuk melakukan sosialisasi visi-misi kandidat secara masif," pungkasnya.
(van/nrl)











































