Keluhan
Anak saya pindahan dari Bekasi ke sebuah Sekolah Dasar Negeri (SDN) di wilayah Pondok Kelapa. Pertimbangan bahwa sekolah ini adalah sekolah yang terkenal reputasinya, bermutu, dan gratis. Namun, beberapa kejadian yang menimpa anak saya membuat saya harus memikirkan kembali pendapat "bermutu" tersebut. Pertama, ketika hendak memasukkan ke sekolah tersebut langsung ketemu dengan Kepala Sekolah SDN itu. Setelah berbasa-basi dia minta uang 1.5 juta apabila ingin masuk ke sekolahnya. Alasannya untuk membangun fasilitas sekolah. Jumlah uang tersebut tidak bisa ditawar atau dicicil. Harus lunas pada saat kita menyerahkan rapor dan surat pindah dari sekolah lama.
Kepala Sekolah SDN itu juga berpesan bahwa hal ini jangan sampai terdengar oleh wartawan karena SDN sebenarnya gratis. Tapi, butuh biaya untuk membangun fasilitas sekolah yang salah satunya Gapura di pintu gerbang sekolah. Karena ingin sekali memasukkan anak ke sekolah yang bagus dan biaya ringan akhirnya kami berhasil memasukkan ke sana. Ternyata bukan hanya itu biaya yang kami keluarkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, tetangga saya di SDN lain masih di wilayah Pondok Kelapa, buku cetak sebagian dipinjamkan dan sebagian orang tua disuruh cari sendiri. Terserah mau di mana belinya. Tapi, di SDN itu sistem yang diterapkan tidak seperti itu. Buku harus beli di toko buku sebelah sekolah.
Akhirnya saya malam harinya saya ke toko buku tersebut. Ternyata harga bukunya lebih dari 450 ribu rupiah. Pembelian tidak boleh mencicil. Tidak boleh mengecer bukunya. Harus beli 1 paket untuk 1 tahun dan LKS untuk 6 bulan.
Menurut orang tua murid yang kebetulan bertemu di tempat toko buku itu, harga 1 LKS di tempat lain 6,000-7,000 rupiah. Tapi, di toko buku samping sekolah harganya 8,000. Jadi sekolah bekerja sama dengan toko buku sebelah agar supaya siswanya membeli buku paket tersebut. Dan, mungkin bukunya ada yang seharusnya tidak bayar tapi siswa harus membeli buku tersebut. Dengan begitu sekolah akan mendapat fee dari toko buku tersebut.
Ketiga, harus membayar uang komputer karena anak saya anak baru. Jadi uang komputer harus di atas 10 ribu per bulan. Siswa yang lama bayarnya 10 ribu. Tapi, untuk anak baru tidak boleh 10 ribu. Minimal 15 ribu - 20 ribu yang dibayar sekaligus 6 bulan.
Keempat, tiap minggu harus membayar uang air minum 1500/siswa dengan alasan dari guru karena masuknya siang jadi anak-anak suka kurang bawa minumnya. Dan menurut gurunya kelas lain malah tiap siswanya diwajibkan membawa dua spidol untuk di kelas. Coba bayangkan. Satu kelas minimal 45 anak dikali 2 spidol. Jadi punya 90 spidol. Apakah itu akan habis digunakan selama 1 tahun?
Semua itu belum termasuk uang seragam yang saya perkirakan hampir 500 ribu juga. Jadi kalau dihitung-hitung biaya untuk masuk SDN itu bisa lebih dari 2,5 juta.
Saya mohon perhatiannya untuk dapat disampaikan ke pihak yang berwenang menangani masalah ini. Karena sangat memberatkan saya. Saya pikir, percuma sekolah digratiskan. Tetap saja harus bayar untuk yang lain lain.
Nama dan alamat lengkap diketahui redaksi.
Keluhan diatas belum ditanggapi oleh pihak terkait
(msh/msh)
Kirimkan keluhan atau tanggapan Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik. Redaksi detikcom mengutamakan surat yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Klik disini untuk kirimkan keluhan atau tanggapan anda.











































