Keluhan
Setiap akhir pekan saya selalu bolak-balik Jakarta-Yogya. Biasanya saya menggunakan kereta api dari Jakarta pada hari Jumat malam dan dari Yogya pada hari Minggu malam. Pada masa liburan sekolah kemarin saya kehabisanΒ tiket kereta api untuk pulang ke Yogya. Tapi, saya masih mendapatkan tiket kereta api ke Jakarta. Oleh karena saya tetap harus ke Yogya saya memilih menggunakan bis. Ternyata bis pun sama padatnya sehingga saya pun agak kesulitan mendapatkan tiket.
Akhirnya saya memperoleh tiket bis malam Kramat Djati kelas eksekutif seharga Rp 160,000 tujuan Yogya melalui agennya di Terminal Rawamangun untuk keberangkatan hari Kamis tanggal 3 Juli 2008. Pengalaman saya yang tidak menyenangkan berawal dari situ.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sangat disayangkan. Perusahaan sekelas Kramat Djati bisa sangat teledor. Kalau hanya 1 tiket yang double masih bisa dimaklumi. Tapi, ini jumlahnya mencapai 11 tiket. Benar-benar sangat tidak masuk akal. Bukankah masing-masing agen juga sudah mendapatkan jatah kursi yang berhak mereka jual? Sehingga sangat kecil kemungkinan untuk terjadi penjualan ganda.
Solusi yang ditawarkan crew Kramat Djati di Rawamangun pada awalnya patut dihargai. Penumpang yang tidak terangkut bis dinaikkan travel. Awalnya saya keberatan. Namun, karena penumpang lainnya setuju saya pun mengiyakan setelah mengetahui kendaraan yang digunakan adalah Isuzu ELF.
Tiket bis diminta kembali oleh agen bis dan kami masih harus menambah biaya travel masing-masing Rp 10,000 tanpa ada jatah makan malam. Ketika mobil akan pergi salah satu crew Kramat Djati meminta maaf atas nama perusahaan berkaitan dengan kejadian hari itu.
Namun, kekecewaan kembali muncul ketika mobil yang kami tumpangi mampir ke kantor travel tersebut untuk membuatkan tiket travel. Setelah tiket travel diberikan muncul kejadian yang tidak menyenangkan. Penumpang dibagi lagi ke mobil yang lain.
Saya dan satu penumpang lainnya diminta pindah ke mobil lain yang masih belum datang. Sedangkan penumpang lainnya tetap di Isuzu ELF dan menjemput penumpang travel lainnya. Dan bagaimana cerita mereka saya pun tidak mengetahuinya.
Sekitar jam 19.00 mobil L300 yang dimaksud datang. Betapa terkejutnya saya. Ternyata mobil masih belum ada penumpangnya. Ini berarti mobil baru akan menjemput para penumpangnya. Akhirnya saya pun mengetahui bahwa mobil tersebut milik travel lain. Dengan kata lain, saya dititipkan ke travel lain. Mobil ini akhirnya selesai menjemput penumpangnya dan meninggalkan Jakarta pukul 21.00 WIB.
Sungguh benar-benar mengecewakan. Pihak Kramat Djati tentunya tidak mau tahu nasib dan kejadian yang dialami penumpang yang dinaikkan travel. Kramat Djati merasa tanggung jawab mereka sudah selesai dengan tidak ada penumpang yang terlantar. Apalagi mereka juga telah menyampaikan permintaan maaf.
Saya pun menyadari. Sebuah perusahaan jasa yang cukup punya nama tidak akan menjamin kualitas pelayanan kepada konsumennya. Konsumen sebagai raja hanya sekedar slogan semata. Pengalaman saya dengan Kramat Djati membuktikannya.
Saya pun tidak akan menggunakan jasa mereka lagi. Dan, saya mengingatkan kepada semua pihak untuk lebih berhati-hati kalau ingin menggunakan bis Kramat Djati agar tidak mengalami nasib yang serupa dengan saya.
Hilmi Arifin
Staf Bappeda Kota Yogyakarta yang sedang tugas belajar di UI Jakarta
Jl Kusumanegara 129 Yogyakarta 55165
08122755101
arifin@hilmiarifin.co / arifin@jogja.go.id
www.hilmiarifin.com
Keluhan diatas belum ditanggapi oleh pihak terkait
(msh/msh)
Kirimkan keluhan atau tanggapan Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik. Redaksi detikcom mengutamakan surat yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Klik disini untuk kirimkan keluhan atau tanggapan anda.











































