Keluhan
Nama saya Amrul Azhar. Saya merupakan pegawai swasta di perusahan telekomunikasi di Indonesia. Saya mempunyai pengalaman yang sangat tidak mengenakkan hati bagi setiap penumpang Lion. Pada tanggal 2 April 2008 saya berangkat ke Jakarta dari Bandara Polonia menggunakan Lion Air JT397 jam 12:25. Tiket Nbr: 99010195305570; seat: 3D; Harga Ticket: Rp 1.099.000. Harga yang sangat mahal menurut saya dengan kelas pelayanan Lion Air.
Pada hari itu, jam 12:15, kita para penumpang Lion Air JT397 diinstruksikan untuk naik ke pesawat karena akan take off. Selang 5 menit di pesawat saya merasakan tidak ada aktivitas yang menunjukkan bahwa pesawat akan take off. Bahkan, Air Conditioner (AC) dari pesawat juga tidak dihidupkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan, belum ada tanda-tanda pesawat akan bergerak atau terbang. Ada beberapa penumpang yang mencoba untuk menanyakan kepada pramugari, "kenapa pesawat belum berangkat juga?" Pramugari menjawab, "harap bersabar, Pak, pesawat segera akan berangkat. Saat ini pesawat sedang menunggu antrian dari pihak bandara (ATC) untuk take off".
Ada beberapa penumpang yang bersuara meminta agar AC dihidupkan. Hal ini berlangsung lebih dari satu jam. Kondisi penumpang sudah sangat-sangat gelisah dan gerah karena udara di dalam pesawat sudah sangat gerah dan sumpek.
Akhirnya, Setelah lebih dari satu jam di dalam pesawat dengan kondisi yang sangat-sangat tidak nyaman tersebut penumpang diminta turun kembali. Dengan alasan "ada instrumen dari pesawat yang rusak dan harus diperbaiki".
Dengan perasaan kecewa dan kesal akhirnya semua penumpang turun dan ada yang berkata, "tadi kalian bilang pesawat sedang dalam antrian, tapi ternyata pesawat rusak". Ada juga yang mencoba untuk menukar tiketnya dan meminta pertanggungjawaban dari Pihak Lion karena ia harus mengejar jadwal meeting di Jakarta.
Saya sendiri merupakan penumpang terakhir yang turun dari pesawat. Akhirnya kita terpaksa untuk menunggu kembali di ruang tunggu Bandara Polonia. Kita para penumpang tersebut menunggu di Bandara Polonia sekitar 2 jam lebih. Para
penumpang tentunya sangat was was, kerusakan apa sebenarnya? Koq sebegitu lamanya?
Akhirnya semua pertanyaan di hati bisa terjawab dengan cukup melegakan yaitu: pihak Lion melakukan pergantian pesawat JT397 tersebut dengan pesawat yang lain. Hati ini cukuplah merasa nyaman akan keputusan ini. Jam 14:35 kita para penumpang diinstruksikan kembali untuk boarding ke pesawat.
Tapi, ternyata kami semua disuruh untuk menaiki pesawat yang sebelumnya rusak. Pesawat yang sudah membuat kami tidak nyaman dan was was. Dengan perasaan kecewa dan pasrah akan takdir apa yang mungkin terjadi kami semua para penumpang naik kembali ke pesawat JT397.
Saat naik ke pesawat untuk yang kedua kalinya AC juga belum hidup. Hal yang serupa akhirnya terulang kembali. Penumpang di dalam pesawat dengan kondisi panas, sumpek, tidak nyaman, dan was was akan kondisi pesawat. Akankah pesawat tersebut bisa sampai ke tujuan?
Saya secara pribadi berserah diri ke Allah SWT. Boarding yang kedua kali ini juga. Hampir sama case-nya dengan yang pertama. Sepuluh menit berlangsung kita di dalam pesawat dengan kondisi pesawat AC mati, pintu tertutup, sehingga menambah kepengapan yang ada.
Akhirnya salah seorang penumpang berjalan ke depan dan minta kepada pramugari untuk membukakan pintu untuknya karena dia sudah tidak bisa menahan diri lagi. Penumpang tersebut sudah cukup sesak dan stres akan kondisi pesawat dan pelayanan yang ada.
Tapi, sang pramugari tidak bersedia untuk membukakan pesawat tersebut dengan alasan pesawat sudah mau take off dan prosedur yang ada tidak boleh menurunkan penumpang jika sudah terdaftar. Maksudnya terdaftar adalah masuk dalam list take off dari pihak bandara (ATC).
Penumpang tersebut tetap bersikukuh dengan keinginannya. Dia bilang dia sudah tidak nyaman akan hal ini. Dia sudah tidak bisa mentolerir akan hal ini. Dia bilang dia sudah sangat sesak dan hampir tidak bisa bernafas di dalam pesawat.
Akhirnya kondisi ini cukup memanas. Beberapa penumpang yang lain juga menuntut hal yang sama kepada pramugari. Tapi, sang pramugari tidak menggubris akan hal tersebut karena masih berpegang teguh dengan prosedur yang dia yakini (jujur saja saya sendiri sangat kecewa dengan prosedur yang disebutkan pramugari tersebut).
Kemudian ada penumpang yang mencoba menenangkan Bapak yang komplain. Saya lihat kemudian, para penumpang yang lain dan Bapak tersebut akhirnya pasrah akan kondisi yang ada. Demikian juga dengan penumpang-penumpang yang lain yang sudah sangat tidak nyaman.
Saya sudah dua kali (6 Mei dan 23 Mei 2008) mengirimkan E-Mail ini kepada pihak Lion Air (CustomerCare@lionair.co.id), mengharapkan ada jawaban. Tapi, saya belum menerima balasan sama sekali.
Amrul Azhar
Kompleks Griya Nusa 3 Blok F No 7
Tanjung Selamat Medan
amrul.azhar@yahoo.com
0819883818
Keluhan diatas belum ditanggapi oleh pihak terkait
(msh/msh)
Kirimkan keluhan atau tanggapan Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik. Redaksi detikcom mengutamakan surat yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Klik disini untuk kirimkan keluhan atau tanggapan anda.











































