Keluhan
Banyak orang awam tidak tahu bahwa kenaikan BBM juga menyulitkan para pengusaha SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) Pertamina. Selama ini pandangan orang pasti pengusaha SPBU untungnya banyak, duitnya banyak, kaya raya, dan lain-lain. Kenyataannya seorang pengusaha SPBU Pertamina itu ibaratnya sosial dengan margin yang luar biasa kecil dan selalu berkurang setiap kali BBM mengalami kenaikan.Sebelum BBM mengalami kenaikan margin Premium dan Solar Rp 180/lt kotor, setelah dikurangi pajak hanya berkisar Rp 165/lt atau sekitar 3.5%. Bila SPBU dengan investasi Rp 10 miliar dengan omset 20.000 liter setiap hari keuntungan kotor setiap bulan Rp 99.000.000 kotor. Setelah dikurangi pegawai 3 shift yang jumlahnya 30 orang + listrik dan lain-lain keuntungan hanya Rp 40 juta sampai Rp 50 juta. Atau return on invesment hanya 0.5% per bulan dari dana investasi Rp 10 milyar.
Bila investasi SPBU dibiayai oleh dana perbankan dijamin pasti pailit alias bangkrut. Bunga bank saat ini 12% per tahun atau 1% per bulan. Keuntungan SPBU hanya 0.5% per bulan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan kenaikan harga BBM keuntungan kotor setelah penyusutan hanya 2% X 20.000 lt omset per hari X Rp 6.000 x 30 hari = Rp 64.000.000 per bulan, setelah dipotong pegawai + listrik, air, dan telepon, semoga masih ada sisa Rp 20 juta dari investasi sebesar Rp 10 milyar alias return on invesment hanya 0.2%.
Lebih parah lagi untuk produk Pertamax dan Pertamax plus. Margin sebelum pajak dipatok Rp 325 dan Rp 350/lt. Penyusutan Pertamax lebih besar dari solar dan Premium karena lebih tinggi octane-nya. Dengan harga Rp 10.200/lt Pertamax Plus dan omset penjualan yang sedikit otomatis stok di tangki akan lama habisnya. Salah-salah habis dimakan angin duluan sebelum laku ke konsumen.
Jangan heran bila anda jumpai bukan hanya mobil, tanah, dan rumah yang iklan
di koran-koran terkemuka untuk dijual. SPBU Pertamina juga akan nimbrung untuk dijual. Juga jangan heran bila SPBU di daerah anda tiba-tiba dikuasai asing maupun berubah kepemilikan menjadi milik Petronas ataupun Shell, karena kurangnya margin atau keuntungan dari Pertamina untuk pengusaha SPBU. Sebagai catatan keuntungan yang dipatok Shell ataupun Petronas sebesar 6%/lt bukan dipatok rupiah.
Tulisan ini saya tulis karena timbul kekhawatiran akan banyak SPBU Pertamina yang berpindah kepemilikannya ke SPBU asing. Dan bila itu sampai terjadi kerugian bangsa kita akan menjadi lebih besar karena secara otomatis bila di suatu kota tidak ada SPBU Pertamina karena semua sudah dikuasai asing maka devisa kita akan semakin berkurang.
Begitu juga bila margin tidak menarik untuk investasi, maka pembangunan SPBU
Pertamina yang baru akan berhenti dan berpotensial memunculkan kesempatan bagi SPBU asing untuk menguasai wilayah tersebut. Yah, memang harus pikir dulu sebelum investasi. Jangan menyesal setelah terlambat.
Handono
Jl Sulawesi 77 Surabaya
handono@yahoo.com
03170891717
Foto:/ist.
Keluhan diatas belum ditanggapi oleh pihak terkait
(msh/msh)
Kirimkan keluhan atau tanggapan Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik. Redaksi detikcom mengutamakan surat yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Klik disini untuk kirimkan keluhan atau tanggapan anda.











































