Keluhan
Saya hanya mau share saja tentang kejadian yang telah kami alami sewaktu menggunakan maskapai penerbangan Lion Air. Semoga hal ini tidak menimpa anda semua. Dan saya minta maaf jika tulisan saya ini tidak berkenan di hati anda.Β
Begini ceritanya.
Jumat lalu (11/04/08) saya, suami, dan adik ipar saya pergi ke Jakarta dari Denpasar dalam rangka mengikuti suami yang sedang tugas ke Jakarta dengan mempergunakan pesawat Lion Air. Di Bandara Ngurah Rai Denpasar kami semua tidak mengalami masalah.
Malam sebelumnya, Kamis (10/04/08) saya dan suami sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk keperluan terbang/melakukan perjalanan jauh, karena saya sedang hamil 23 minggu (5 1/2 bulan) dengan cek ke dokter. Sewaktu saya minta surat keterangan Dokter untuk keperluan dalam perjalanan dengan pesawat dokter kandungan saya tidak bisa memberikan. Beliau baru akan memberikan surat keterangan Dokter jika usia kehamilan pasiennya di atas 28 minggu, sedangkan saya baru 23 minggu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Β
Setelah urusan di Jakarta selesai kami pun pulang pada hari Senin (14/04/08) dengan menggunakan maskapai penerbangan yang sama (karena tiket atas biaya
klien suami saya dipesan PP/return sekaligus). Kami berpikir waktu berangkat saja tidak ada masalah demikian dengan pulangnya.
Sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta, kami pun check-in (nah di sini mulai cerita sesungguhnya). Kami kan bertiga, bagasi dihitung 20 kilo/orang. Jadi kalau bertiga kami kira maksimum bagasi bisa 60 kilo (karena waktu di bandara Ngurah Rai juga dijadikan satu.
Tetapi, kami agak terkejut. Ternyata bagasi harus satu orang satu (kebetulan barang yang kami taruh di bagasi ada 3 juga). Jadi kalau salah satu barang kami lebih dai 20 kilo kami harus membayar kelebihannya lagi dong? Padahal barang yang satunya belum tentu ada 10 kilo. Jadi sebenarnya bisa menutupi kelebihan barang yang lainnya.
Nah, ternyata tidak hanya di situ saja kami merasa kecewa lagi. Kami dari Bogor membawa bunga anggrek yang menurut kami tidak besar-besar amat, tidak tinggi-tinggi amat, dan bisa kami bawa ke dalam pesawat tanpa dititipkan di bagasi. Karena sebelumnya adik kami juga pernah membawa bunga anggrek dari Jakarta ke Denpasar dibawa ke dalam pesawat diperbolehkan.
Kata petugas check-in bunga anggrek kami harus ditaruh di bagasi dan tanahnya harus dibuang. Jadi, bunga anggrek tersebut dibungkus tanpa tanah. Ya sudah. Kami turuti. Kami pasrah kalau nantinya bunga anggrek titipan ibu mertua saya itu bakal hancur atau mati karena kita tidak tahu perlakuan mereka selama ditaruh di bagasi bagaimana (saya sempat berpikir saja, jika yang kami bawa pohon anthurium bagaimana ya?). Itu sudah membuat saya jengkel benget.
Pas di ruang tunggu Lion Air (A2), kejengkelan kami bertambah. Saya didatangi seorang 'Mbak' dari Lion Air dan mengatakan, "Ibu hamil ya?" Saya jawab iya. Dia tanya lagi berapa bulan? 5 bulan, jawab saya. Dia tanya lagi ada surat keterangan dari dokter tidak? Saya jawab buat apa? Saya kan baru 5 bulan/23 minggu, dan saya tidak mungkin melahirkan sekarang. Surat keterangan dokter baru bisa diberikan kalau umur kandungan di atas 28 minggu.
Dia tidak mau tahu, katanya karena ini sudah peraturan Lion Air. Dan kalau ibu tidak bisa menunjukkan surat ketererangan Dokter, saya tidak diperbolehkan terbang. "Tapi, peraturan internasional itu di atas 28 minggu Mbak", sahut saya marah. Siapa yang tidak jengkel coba? Saya berani debat karena saya pikir saya tidak salah, dan saya juga berani bilang kalau saya berangkat dari Denpasar ke Jakarta juga pakai Lion Air tidak ada masalah. Mengapa di sini baru dipermasalahkan?
Dia jawab, "iya Bu, kalau dari daerah ke Jakarta memang tidak masalah tetapi kalau dari Jakarta ke daerah kalau hamil harus pakai surat keterangan dokter". Saya sempat berpikir apa itu sudah menjawab pertanyaan saya? "Mbak, kalau tahu Lion Air seperti ini saya tidak akan pakai Lion Air". Eh, dia berani jawab, "kenapa ibu tidak pakai yang lain?"
Saya emosi, "iya, saya nyesel Mbak, kalau tahu ya ga bakalan saya naik Lion! Saya kapok! ga lagi-lagi deh". 'Mbak'-nya diam saja. Dia lalu bilang, kalau ibu tidak membawa surat keterangan dokter ibu bisa ke klinik kesehatan bandara. Oh My God.
Berarti saya harus turun lagi dong? Logikanya saja deh sudah tahu orang lagi hamil eh masih disuruh naik turun tangga lagi sih (sudah gitu saya abis jatuh lagi, jadi kaki masih sakit). Kalau memang ibu hamil dimintai surat keterangan dokter atau harus lapor ke klinik kesehatan, ya seharusnya waktu masih di bawah pas check-in itu kan? Masak sudah di atas, 15 menit mau boarding baru dikasih tahu? Mana tempatnya jauh, naik turun tangga lagi.
Saya dan suami dengan hati jengkel akhirnya saya dicek kehamilan saya di klinik kesehatan bandara. Pas saya dan suami masuk, di dalam 3 ibu-ibu seperti berebutan memeriksa saya. Saya mikir kan 1 orang saja cukup? Semuanya
sibuk memeriksa saya, mengukur tekanan darah saya, memegang-megang perut saya, dan mencatat usia kehamilan saya. Dan saya lebih kaget lagi di kertas ditulis usia kehamilan saya 26-28 minggu. Tahu dari mana mereka?
Mereka bukan dokter kandungan, cuma bidan saja, dan cuma memegang-megang perut saya. Hebat benar mereka tahu? Saya tidak terima. Saya keluarkan buku cek dokter saya, yang memang sudah saya persiapkan sebelumnya buat jaga-jaga dan ternyata memang berguna.
Saya tunjukkan kalau baru tanggal 10 kemaren saya cek ke dokter dan usia kandungan saya baru berumur 23 minggu. Dari mana ibu bisa menulis kalau sudah 26-28 minggu? Mereka tidak bisa ngomong apa-apa lagi dan mengganti usia kandungan saya 23-24 minggu. Dan saya membayar 60 ribu hanya untuk kertas selembar.
Pas saya diperiksa, suami saya sempat tanya sama salah satu dari mereka apa selain Lion Air juga memberlakukan peraturan seperti ini? Mereka menjawab hanya Lion Air. Dan mereka juga bilang kalau surat keterangan dokter saja tidak cukup. Jadi harus cek lagi di klinik kesehatan bandara.
Kalau mereka memang mau uang mengapa tidak bilang saja? Saya bayar di atas, tanpa capek-capek saya naik-turun tangga lagi. Atau kalau mereka memang tidak mau membuat ibu hamil kecapaian ya setidaknya di atas dokter seharusnya siap di atas juga dong tanpa kita yang susah-susah lagi.
Pas balik ke ruang tunggu ternyata pesawat sudah mau boarding. Saya dan suami buru-buru naik ke pesawat. Kaki saya sudah sakit banget dan bengkak. Saya hampir menangis mengapa kok saya mengalami kejadian seperti ini?
Dan saya menilai pramugari juga tidak tegas. Di saat pesawat sudah take off dan semua hanphone (HP) harus dimatikan, salah satu penumpang dan kebetulan ada di dekat kami masih asyik bertelepon ria. Padahal pramugari pada melihat orang tersebut tapi mereka diam saja.
Aduh ternyata pelayanan Lion Air tidak seindah pesawatnya yang katanya baru-baru. Sudah bunga anggrek yang kita bawa hancur, patah-patah. Kami pun pulang dengan perasaan yang kacau balau. Kalau terpaksa memakai Lion Air harap waspada dan siap-siap saja. Terutama untuk ibu hamil.
Tiesa A
Denpasar Bali
ttarie24@yahoo.com
Keluhan diatas belum ditanggapi oleh pihak terkait
(msh/msh)
Kirimkan keluhan atau tanggapan Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik. Redaksi detikcom mengutamakan surat yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Klik disini untuk kirimkan keluhan atau tanggapan anda.










































