PLN Tidak Konsisten

Suara Pembaca

PLN Tidak Konsisten

- detikNews
Senin, 17 Mar 2008 17:45 WIB
PLN Tidak Konsisten
Keluhan
Saya punya sambungan listrik PLN baru 3500 W. Kalau di Surabaya untuk semua sambungan baru di atas 2200 W dikenai tarif bisnis "Bersinar" yang tidak disubsidi lagi, Rp. 850/ kwh. Untuk detail lihat di website PLN Distribusi Jawa Timur.

Intinya abonemen bulanan yang ada sekitar Rp 1.050.000, / bulan, atau minimal 1250 KWH / bulan. Nah, setelah dihitung-hitung kebutuhan kami tidak sampai segitu. Total KWH per bulan bila dikalikan tarif per KWH karena kami bukan untuk produksi 24 jam. Paling hanya 8 jam sehari untuk AC, komputer, dan sebagainya. Jadi kami membayar lebih setiap bulannya. Sekitar Rp 400.000. Atau hanya pemakaian separo dari jatah minimum jumlah KWH per bulan, 700 KWH.

Di sini masalahnya, karena yang kami bayar lebih dari total KWH pemakaian per bulan, maka logikanya buat apa efisiensi atau penghematan listrik segala? Maka biar saja AC, lampu, nyala terus alias boros. Toh, kami sudah bayar untuk itu. Tidak disubsidi lagi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saya tidak tahu tarif seperti ini hanya ada di Surabaya atau Jawa Timur atau berlaku nasional. Tetapi, yang punya pemikiran seperti ini banyak dari teman-teman saya lainnya. Buat apa hemat toh kita sudah bayar lebih.

Di sisi lainnya saat ini PLN sedang giat untuk berhemat daya listrik. Jadi ya tidak nyambung dengan detail teknis di lapangan. Ini faktanya. Jadi antara kebijakan pemerintah tidak sambung dengan di tingkat teknis operasional lapangan. Kasihan deh.

Jadi kalau sekarang PLN gencar mengkampanyekan gerakan berhemat dari masyarakat luas ada beberapa kebijakan yang bisa langsung dikerjakan oleh PLN untuk berhemat. Mereka tidak mau atau tidak tahu karena bodohnya? Yang lain adalah kontrak minimal 36 bulan untuk sambung baru tersebut.

Saya punya pengalaman beli gudang home industri kecil dengan listrik 5500 W, karena saya tidak butuh daya sebanyak itu dan lagi tidak mau dibebani abonemen sebesar Rp 1.050.000-an per bulan maka kami ajukan penurunan menjadi 2200 W.

Tetapi, PLN sangat keberatan karena ada di kontrak harus minimal 36 bulan baru boleh diturunkan. Pemilik gudang yang lama sudah sekitar 1 tahun lebih, padahal hanya ganti MCB saja, mereka minta biaya sambung baru Rp 2,5 juta untuk 2200 W.

Nah, ini juga tidak nyambung. Di lain pihak mereka kekurangan daya listrik, kok ini ada customer mau berhemat listrik tidak boleh. Atau dipersulit kan lucu.

Intinya saya tidak keberatan atas tarif tanpa subsidi alias dinaikkan untuk bisnis. Tetapi, yang proporsional untuk abonemen per bulannya. Selain itu tarif pelanggan lama untuk daya dan segmen yang sama tidak sama atau lebih murah dari pelanggan baru.

Itu tidak mendidik atau memberikan peluang yang sama dalam berkompetisi bisnis. Sehingga struktur biaya untuk produksi antara pemain lama dan baru lebih mahal yang baru.

Seharusnya pemain baru diberi kemudahan sehingga banyak memunculkan usaha-usaha baru yang berimbas pada penyerapan tenaga kerja baru dan pajak ke negara. Kapan ada liberalisasi listrik seperti pada sektor telekomunikasi selular?

A Manaf
Surabaya
manaf555@yahoo.co.id



Keluhan diatas belum ditanggapi oleh pihak terkait

(msh/msh)
Kirimkan keluhan atau tanggapan Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik. Redaksi detikcom mengutamakan surat yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Klik disini untuk kirimkan keluhan atau tanggapan anda.



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads