Ke Mana Perginya LPG (Elpiji)

Suara Pembaca

Ke Mana Perginya LPG (Elpiji)

- detikNews
Kamis, 13 Mar 2008 11:18 WIB
Ke Mana Perginya LPG (Elpiji)
Keluhan
Dalam sepuluh hari terakhir terjadi kekosongan LPG (elpiji) baik yang 12 kg maupun 3 kg. Saya sebagai salah satu penyalur dalam sepuluh hari terakhir hanya mendapat kiriman 60 tabung 12 kg dan 0 tabung 3 kg. Sebagai catatan omset saya setiap hari sekitar 80 tabung 12 kg dan 150 tabung 3 kg.

Terus terang saya merasa dirugikan oleh kondisi seperti ini. Pegawai saya tetap masuk kerja dan tetap saya gaji. Tapi, saya tidak mempunyai pemasukan atau pendapatan dalam kondisi seperti ini. Siapa yang harus bertanggung jawab atas kekosongan LPG ini? Pertamina atau pemerintah? Atau keduanya?

Di saat minyak tanah kosong, LPG juga kosong. Apa rakyat disuruh kembali pakai kayu bakar? Betapa mundurnya kehidupan rakyat Indonesia ini. Betapa miskinnya rakyat Indonesia ini. Sebuah ironi di tengah pemberitaan korupsi miliaran rupiah, rakyat harus menggunakan kayu bakar untuk memasak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah saya adakan penelusuran atas kelangkaan LPG, saya dapati bahwa depo pengisian LPG Pertamina tidak dapat memenuhi permintaan pengisian disebabkan jumlah nossle tidak ditambah atau tetap. Padahal dahulu sebelum konversi minyak tanah ke LPG 3 kg, supply LPG 12 kg sudah sering macet-macet.

Terutama setelah libur panjang dikarenakan depo pengisian LPG juga libur sedangkan kegiatan masak memasak tidak bisa libur. Tidak mungkin orang harus libur makan dan memasak karena depo pengisian LPG libur.

Setelah jutaan tabung LPG 3 kg dibagikan dan jutaan rakyat menggunakannya sebagai ganti minyak tanah jam kerja pengisian tidak ditambah. Jumlah nossle pengisian tidak ditambah. Hari besar tetap libur alias tidak ada pengisian.

Jadi harus ada yang dikorbankan kalau ada yang diprioritaskan. Dengan kapasitas yang tetap sama akhirnya pemerintah dan Pertamina memprioritaskan pengisian tabung 3 kg yang jumlahnya lebih banyak dari tabung 12 kg dan lebih memakan waktu untuk melakukan pengisian dikarenakan harus melepas dan memasang nossle lebih sering.

Itu pun masih tetap kosong atau langka untuk LPG 3 kg. Terbukti saya sudah 10 hari tidak mendapat kiriman untuk LPG 3 kg. Di tempat saya sekarang ada tabung kosong LPG 3 kg 400 biji dan dering telepon sebanyak lebih dari 100 kali setiap hari menanyakan LPG.

Sebagai tambahan "Tabung LPG 12 kg" sudah kosong selama 2 bulan ini dikarenakan pabrik tabung LPG ditekan oleh pemerintah untuk memproduksi tabung 3 kg dan tidak memproduksi tabung 12 kg. Sehingga masyarakat kesulitan untuk untuk mendapatkannya.

Ada kesan di masyarakat, pemerintah sekarang ini seperti orang lagi bingung, mengeluarkan kebijakan tanpa disertai perencanaan yang matang. Akhirnya hanya pemborosan anggaran dan membuat masyarakat makin resah.Β  Ini kosong, itu kosong. Ini mahal, itu naik harga, seperti semua yang dilakukan, kebijaksanaan yang dikeluarkan selalu salah.

Seharusnya konversi minyak tanah ke LPG kalau sudah dilakukan jangan minyak tanah langsung ditarik atau dikurangi supply-nya. Jumlah supply tetap cuma harga sudah keekonomian atau tanpa subsidi. Jadi kalau masyarakat masih tetap mau menggunakan atau membeli minyak tanah silahkan beli, yang sudah pakai LPG juga oke.

Jam kerja depo pengisian LGP ditambah. Hari besar tetap buka karena merupakan pelayanan publik (seperti rumah sakit ataupun SPBU). Jumlah nossle pengisian ditambah. Terima kasih.

Ivan Chisanto
Jl Mayjen Sungkono 45
Sidoarjo Jawa Timur
Telp 0818 555 777



Keluhan diatas belum ditanggapi oleh pihak terkait

(msh/msh)
Kirimkan keluhan atau tanggapan Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik. Redaksi detikcom mengutamakan surat yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Klik disini untuk kirimkan keluhan atau tanggapan anda.


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads