Keluhan
Pada hari Minggu, 13 Januari 2008 sekitar jam 10.34 WIB, saya terima SMS dari Air Asia yang memberitahukan bahwa jadwal penerbangan tanggal 14 Januari dari Jakarta ke Palembang dengan QZ 7412 pada jam 10.40 WIB di-retime ke jam 15.55 WIB. Setelah itu pada pukul 11.00 saya ditelepon oleh pihak AirAsia untuk memberitahukan sekali lagi jadwal penerbangan diubah ke pukul 15.55 WIB. Sebenarnya ini bukanlah yang pertama kali jadwal penerbangan saya diubah atau dipindahkan ke penerbangan sore. Tetapi, sudah yang ke sekian kali mengingat dalam sebulan saya melakukan penerbangan 2-3 kali PP Jakarta - Palembang dengan menggunakan Air Asia.
Dan saya pun selalu mengambil penerbangan pagi agar saya bisa masuk kerja walaupun setengah hari. Tetapi, karena saya sudah keseringan tidak masuk karena Air Asia sering mengubah jadwal tanpa mau tahu kepentingan penumpang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada saat itu saya dilayani oleh Rachmat (Duty Executive) yang bertugas dan mengatakan tidak bisa, hanya bisa di-refund. Tetapi, saya tidak mau di-refund karena dengan begitu Air Asia hanya bisa cuci tangan.
Di samping itu Rachmat tidak memperlakukan saya dengan baik, dengan tidak mempersilahkan saya duduk sebagai tamu. Padahal di luar saja untuk bertemu dengan Rachmat saya sudah berdiri 3/4 jam ditambah lagi berdebat di dalam hampir 1 jam, yang pada akhirnya saya duduk di meja di mana saya sebelumnya berdiri menyender pada meja tersebut.
Dan yang bersangkutan menyambungkan telepon ke Garry Stefianto yang bertindak sebagai Station Manager, dan jawaban Garry juga sama tidak bisa mentransfer ke airlines lain.
Padahal saya sudah mengatakan sudah banyak uang yang saya sumbangkan untuk Air Asia karena dulu pernah Nenek dan Ibu saya tidak bisa check in. Padahal pada saat itu masih ada waktu sekitar 30-40 menit dari jadwal keberangkatan sehingga harus membeli tiket lagi untuk penerbangan yang berikutnya.
Mengubah jadwal penerbangan pun sudah pernah saya lakukan dengan menyumbang 137.500. Dan, Rachmat pun seperti orang gagu hanya menjawab dengan menggelengkan kepala dan mengangkat tangan bahwa tetap tidak bisa.
Lalu saya pulang dengan perasaan kesal. Akhirnya pada keesokan paginya, 14 Januari 2008 sekitar pukul 08.45 saya datang ke Kantor Air Asia di Terminal A. Lalu apa yang saya dapati? Saya hendak mengatakan ingin bertemu dengan Garry Stefianto. Fachruddin (Security) yang bertugas pada saat itu dengan galaknya mengatakan office hour jam 09.00 dan Pak Garry belum datang.
Kebetulan saya mempunyai nomor handphone Bapak Garry. Ternyata dia sudah ada di kantor. Kok bisa-bisanya Bapak Fachruddin mengatakan belum datang. Lalu saya tidak melihat Pak Fachruddin. Lagi kalau memang security tersebut tahu bagaimana cara menerima tamu seharusnya yang bersangkutan telepon dulu ke atas menanyakan keberadaan Bapak Garry. Ini salah satu perlakuan staf Air Asia yang tidak bisa saya terima.
Akhirnya saya bertemu juga dengan Bapak Garry, sambil membawa tiket rencana perjalanan saya sampai dengan bulan Juli 2008 dengan niat kalau saya tidak bisa berangkat sesuai jadwal yang saya inginkan saya ingin agar tiket-tiket rencana perjalanan saya dibatalkan semua karena saya sudah terlanjur sakit hati.
Barulah Bapak Garry memutuskan bahwa saya bisa ditransfer ke pesawat lain. Tetapi, sayang keputusan tersebut telat diambil karena airlines lain sudah fully book untuk jadwal yang dekat-dekat dengan 10.40 WIB. Saya tidak ada pilihan lain di mana pada akhirnya saya berangkat dengan Air Asia pada pukul 15.55 WIB.
Saya tetap meminta agar tiket-tiket rencana perjalanan yang sudah saya beli agar di-refund. Bapak Garry menyetujuinya dan akan dikenakan biaya refund Rp 30.000 per tiket. Pada saat itu saya memegang 8 lembar tiket.
Saya sebenarnya keberatan dengan biaya refund Rp 30.000 per tiket. Mungkin jika Air Asia tidak mengecewakan saya pada saat itu saya tidak akan pernah me-refund tiket-tiket yang sudah saya beli. Lalu saya pulang.
Sore harinya sebelum saya boarding saya sempat mampir ke kounter Air Asia untuk menanyakan tiket-tiket yang saya minta agar di-refund. Tetapi, saya melihat ada tiket yang di-charge sampai Rp 230.000. Total biaya refund tiket saya 500 ribu.
Padahal dengan mengeluarkan Rp 240.000 untuk 8 tiket saja saya sanga berkeberatan. Ini malah dikenakan 500 ribu. Karena sudah mendekati jadwal boarding saya belum sempat menemui Bapak Garry. Tetapi, saya sempat mengirimkan SMS dan sampai hari ini "No Reply". Saya jadi tidak mengerti. Sudah mengecewakan orang masih juga mau cari untung.
Mungkin prinsipnya Low Cost Carrier tetapi High Disappointed Passenger. Pada saat di perjalanan ke Palembang saya berbicara dengan Bapak-bapak yang juga kecewa dengan jadwal Air Asia yang suka pindah-pindah seenaknya.
Ada juga seorang Ibu yang mengatakan sebenarnya ibu tersebut berangkat sore. Tetapi, sebelumnya sempat diberitahu bahwa jadwal dipindah ke pagi Ibu itu ditelepon kembali bahwa jadwal tetap berangkat sore. Mungkin Air Asia berprinsip tidak apa-apa kehilangan seorang pelanggan setianya tetapi masih banyak pelanggan lain yang siap-siap akan dikecewakan.
Dan saya juga berpesan kepada Air Asia agar ground stafnya lebih dididik lagi bagaimana cara menghadapi customer. full smile, tidak jutek, bukan yang tukang bohong.
Merry
HP: 0811-168191
E-mail: merrychaniago@yahoo.com
Keluhan diatas belum ditanggapi oleh pihak terkait
(msh/msh)
Kirimkan keluhan atau tanggapan Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik. Redaksi detikcom mengutamakan surat yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Klik disini untuk kirimkan keluhan atau tanggapan anda.











































