Keluhan
Ini semestinya tak terjadi pada aparat di negeri ini. Herannya, tak banyak yang mafhum. Menyedihkan. Tindakan seperti ini sudah sering terjadi. Dengan dalih penertiban aparat memaksa bertindak. Padahal, surat izin dari Kepolisian bahkan fihak Intelkam sudah mengiyakan. "Ini peraturan Pak, urusan dengan Kepolisian hanya sebatas di jalan. Ini kan promosi produk kan", ucapnya, tegas. Aku pun menjawab singkat. "Betul. Produk kami adalah produk Qurban Pak. Bukan produk yang Bapak kira. Kita hanya membagikan brosur untuk mengajak masyarakat berQurban," balasku yang ketika itu bertugas sebar brosur di wilayah Bundaran Pancoran Jakarta Selatan.
Banyak hal yang sulit saya tangkap pernyataan aparat (Satuan Polisi Pamong Praja) yang mengatakan promosi. Padahal dari fihak Kepolisian sepakat zakat dan Qurban bukan produk yang mereka kira sehingga memperbolehkan kita berkampanye.
Perbicangan pun berlanjut. "Bapak tahu peraturan kan. Ini menganggu ketertiban umum. Bapak sudah menganggu pemakai jalan dan membuat macet," tegasnya kembali. Belum menjawab Satpol PP lainnya mengajukan beberapa pertanyaan. "Bapak sudah izin dari Walikota?" dengan nada tak yakin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Entah kenapa aparat yang sejak tadi mendengarku menyerocos, hanya tersipu. "Ohh, jadi ini lembaga sosial," ucapnya meredah. "Tapi lain kali tolong jangan sampai mengganggu pemakai jalan apalagi menyampah. Tolong kita sama-sama tugas. Jika lampu hijau jangan menyebarkan brosur, itu berbahaya," ucapnya.
Lalu ia berpikir sejenak. "Ok, sekarang silahkan. Tapi jangan terlalu lama. Jam berapa selesai," mencoba mengakrapkan diri. "Sebelum maghrib selesai," ucapku pasti. Kami pun bersalaman. Aparat yang tadinya mengerumuniku membubarkan diri. Aku pun menjauh dan mengajak sejumlah relawan untuk briefing dan kembali beraksi.
Akhirnya aku menarik nafas, lega. Hasil kompromi dengan aparat usai. Namun, selang 10 menit. HP-ku berdering. "Pak, Satpol PP menanyakan surat izin kembali," suara relawan dari kejauhan. Tanpa pikir panjang. Akupun bergegas mendekati kembali Satpol PP.
"Selamat siang, Pak, saya bisa tolong surat izinnya," tegasnya. "Maaf Pak. Baru saja saya bicara dengan Satpol PP di sana. Pak Supriyanto namanya dan ia mengizinkan," jawabku percaya diri. "Tapi ini wilayah Pasar Minggu di sana Tebet. Jadi beda izin," ucapnya tak mau kalah. Akupun kaget bukan kepalang. "Tapi bapak satu korp kan. Bagaimana bisa berbeda," jawabku juga tak mau kalah. Akhirnya saya pun menerangkan apa siapa kembali Lembaga LAZ PKPU. Berbeda dengan sebelumnya welcome.
Tapi bapak satu ini tak bergeming. "Sudah Pak, kita selesaikan di Kantor Kecamatan Pasar Minggu. Kita selesaikan di sana," pungkas Satpol PP yang berkulit kelam. "Ohh gitu. Baik saya kira saya lebih memilih sebar di wilayah Tebet. Terima kasih," nadaku jengkel. "Ya, sudah, silahkan," tegasnya. Akupun beranjak meninggalkan kerumunan Satpol PP. Dengan rada jengkel aku memanggilkan relawan dan memindahkan ke wilayah Tebet.
Belum usai masalah telepon berdering kembali. "Pak, ada Satpol PP di wilayah Tebet menanyakan surat izin," suara relawan di kejauhan. "Bukan tadi sudah beres," jawabku memelas dan mematikan nada HP.
Sejak itu aku hanya bisa pasrah. Apa sih mau aparat Satpol PP? Uang? Jika niatnya demikian aku tak habis pikir. Sulit sekali berkompromi mengajak masyarakat berzakat atau berQurban. Padahal tugasku sebagai pengawas Sebar Qurban masih ada di beberapa lokasi. Dalam hatiku, "Bisakah Satpol PP, mengerti. Kami bosan dikutili terus BOS".
Irwansyah Maulana
Staf Lembaga Kemanusiaan PKPU
Bt. Ampar-Condet, Jakarta Timur
Keluhan diatas belum ditanggapi oleh pihak terkait
(msh/msh)
Kirimkan keluhan atau tanggapan Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik. Redaksi detikcom mengutamakan surat yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Klik disini untuk kirimkan keluhan atau tanggapan anda.











































