Keluhan
Saya melakukan perjalanan seorang diri dengan kondisi hamil 5 bulan dari Banda Aceh tujuan Jakarta tanggal 16 Oktober 2007 lalu pukul 14.00 WIB dengan penerbangan Garuda Indonesia. Dari Banda Aceh saya membawa satu buah koper berukuran besar (26 ltr) dan tas kecil yang saya tenteng. Saya mengunci koper saya dengan kode angka. Memang waktu itu saya putar angka kuncinya ke angka 000, kemudian saya acak nomornya. Sayangnya memang kemudian saya tidak menggembok koper saya.Waktu di Bandara Banda Aceh, koper saya diikat dengan tali kuning yang seperti biasa digunakan pihak bandara. kemudian saya chek in, dan koper saya di-scan, kemudian mungkin langsung masuk bagasi. Waktu itu saya tidak memperhatikan berapa berat koper saya, karena semuanya terburu-buru.Kemudian pesawat yang saya tumpangi transit di Medan sekitar 45 menit. Singkat cerita saya sampai di Bandara Cengkareng Jakarta pukul 18.00 WIB. Kemudian saya menunggu bagasi keluar. Ketika saya melihat tas saya muncul di antara tas-tas yang lain tas saya sudah tidak ada ikatan tali kuningnya lagi seperti tas-tas yang lain. Saya heran, kemudian saya angkat. Yang lebih mengagetkan lagi, resleting koper saya sudah berpindah tempat, yang seharusnya di tempat kunci angka-angka tersebut (di bagian atas), malah berada di pinggir tengah-tengah koper saya. Saya heran dan kaget. Kemudian, saya buka koper saya dengan mudahnya. Saya periksa, namun waktu itu saya tidak menyadari ada barang saya yang hilang. Saya segera bertanya kepada petugas bandara kenapa koper saya terbuka dan tidak ada tali kuningnya. Petugas itu menunjuk ruangan pengaduan koper hilang. Katanya nanti saya akan mengisi form pengaduan. Ruangannya di sebelah kanan dari pengambilan bagasi Garuda. Saya tidak tahu ruang pelayanan itu punya Garuda. Entah punya pihak Angkasa Pura, saya kurang mengerti. Yang pasti ruangan itu masih berada di lingkungan Garuda. Saya masuk kemudian saya menceritakan kejadian tersebut. Di sana ada sekitar empat orang petugas sedang mengobrol. Kemudian langkah awal yang mereka lakukan adalah menelepon pihak bandara Banda Aceh, kemudian menimbang koper saya. Selanjutnya salah satu petugas berkata, "koper Ibu sudah ditimbang kembali, dan beratnya sama seperti ketika ibu berangkat dari Banda Aceh". Kemudian saya berfikir, apa itu menjadi patokan? Bukankah seandainya ada uang yang dicuri dari koper beratnya tidak akan jauh berbeda dengan sebelumnya? Kemudian saat itu mereka memanggil sekuriti untuk menyaksikan apakah isi koper saya ada yang hilang atau tidak. Nah, pada saat itu saya masih belum menyadari ada barang saya yang hilang yaitu kamera poket Canon Ixus 60 saya, yang saya taruh di paling bawah kanan yang saya tutupi dengan oleh-oleh dendeng Aceh yang saya bawa. Isi koper saya tidak banyak. Hanya beberapa pasang baju kemudian dendeng aceh. Dan yang anehnya lagi, tempat kosmetik saya yang terbuat dari kertas semacam kertas semen daur ulang koyak hampir separuhnya sehingga sebagian alat-kosmetik saya hampir keluar. Saya sudah bilang juga sama petugasnya, "kok ini koyak, ya, Pak?" Kemudian petugas dan sekuriti bertanya, "apa ada yang hilang, Bu, barang-barangnya?" Saya diam sejenak. Saya belum sadar kalau kamera poket saya telah hilang. Kemudian saya menjawab, "hmm ... kayaknya gak ada siy, Pak. Tapi kenapa ya kok koper saya bisa kebuka begini? Tali kuning lepas, resleting pun berpindah tempat? Seharusnya gak begini donk, Pak." Kemudian seorang petugas menjawab, "oh, itu bisa saja tergesek-gesek, Bu, di bagasi, karena yang angkat bagasi pun ngambilnya sembarangan." Sebuah jawaban yang sangat-sangat tidak memuaskan dan tidak nyambung kenapa resleting koper bisa berpindah tempat. Kemudian, karena saya merasa tidak ada yang hilang dan terburu-buru karena hari sudah malam, dan saya masih harus melanjutkan perjalanan ke Bandung di tengah kondisi saya yang sedang hamil, akhirnya saya gak ambil pusing dan segera meninggalkan ruangan tersebut. Tanpa mengisi form pengaduan karena mereka bilang tidak perlu. Ya, sudahlah, pikirku. Buat apa diperpanjang, toh barang-barang saya tidak ada yang hilang. Saya harus bergegas!Singkat cerita, saya baru menyadari hilangnya kamera poket ketika sudah berada di Bandung karena mau menggunakan benda tersebut. Akhirnya saya langsung telepon ke nomor online Garuda 08071807807. Setelah saya cerita panjang lebar, eh, saya kemudian baru diminta untuk menghubungi nomor pengaduan Garuda 021 5506261. Namun, setelah lebih dari empat kali saya telepon tidak ada yang mengangkat. Akhirnya hingga sore hari saya sudah malas untuk mengadu lagi. Saya memutuskan untuk menulis di surat pembaca saja. Karena memang salah saya waktu itu adalah tidak mengisi form pengaduan sehingga kalaupun saya mengadu petugas akan sulit melacak. Akhirnya saya merelakan kamera poket saya hilang. Namun, saya tidak rela kalau kejadian ini dibiarkan saja. Mungkin banyak kasus seperti saya yang tidak terlaporkan. Oleh karena itu saya tidak percaya dengan keterangan Garuda yang menyatakan bahwa kasus pengutilan koper tahun ini menurun dibandingkan tahun 2006. Lah, orang-orang seperti saya berapa banyak yang tidak tercatat? Bagaimana kalau yang hilang bukan cuma kamera poket? Saya berharap Pihak Garuda maupun penerbangan lain, ataupun pihak Angkasa Pura memperketat penjagaan di bagian bagasi. Atau kalau memang perlu diubah manajerialnya. Henny NurmayaniJl Ujung Batee No 31 Seutui Banda Acehtsunami225@yahoo.com081377087000 Keluhan diatas belum ditanggapi oleh pihak terkait
(msh/msh)
Kirimkan keluhan atau tanggapan Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik. Redaksi detikcom mengutamakan surat yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Klik disini untuk kirimkan keluhan atau tanggapan anda.











































