Keluhan
Hari Rabu, 10 Oktober 2007 saya mencari informasi tiket perjalanan Yogyakarta - Jakarta untuk tanggal 16 Oktober 2007. Informasi sudah kami dapat dan kami kembali ke rumah pimpinan kami untuk menginformasikan beberapa kemungkinan tiket yang akan kami booking kepada pimpinan kamiSetalah disepakati, pimpinan kami dan keluarga akan kembali ke Jakarta tanggal 16 Oktober 2007 memakai maskapai penerbangan Batavia dengan alasan lebih murah dan jam penerbangannya sesuai dengan jadwal Pimpinan kami. Kami pun mencatat nama-nama yang akan berangkat. Sesampainya di loket Batavia jam 16:50. Kami langsung menuju loket Batavia untuk membeli tiket tersebut, tapi kami mendapat informasi bahwa kami harus menyertakan nomor ID atau KTP (Kartu Tanda Penduduk). Tentu saja kami kaget karena biasanya hanya nama yang tercantum. Sama dengan nama di ID/KTP. Kami tanyakan kepada petugas loket. Jawaban yang kami terima sungguh tidak memberikan rasa nyaman atau kepuasan. "INI BATAVIA BUKAN MASKAPAI LAINNYA" (menyebutkan nama sebuah maskapai penerbangan lain). PROSEDUR KAMI HARUS MENCANTUMKAN NOMOR ID/KTP" dengan nada kasar. Kami kemudian mengirim pesan singkat ke salah satu putra pimpinan kami agar bisa diberikan nomor ID/KTP. Oleh karena lama SMS kami tidak dijawab maka kami putuskan kembali rumah pimpinan kami di daerah Dongkelan. Setalah mengantar teman saya kembali ke Jakarta dengan maskapai penerbangan lainnya bukan BATAVIA, tentunya dengan hanya menuliskan nama di selembar kertas, dan jadilah teman kami berangkat ke Jakarta. Setelah buka puasa kami menuju rumah pimpinan kami. Sesampainya di Dongkelan kami sampaikan prosedur BATAVIA AIR kepada Pimpinan kami. Pimpinan kami memberikan 4 (empat) buah KTP, dan saya pun langsung kembali ke Bandara Adi Sucipto dengan memakai sepeda motor agar lebih cepat sampai. Sampai di loket BATAVIA kurang lebih jam 18:55. Saya tanyakan kembali apakah nomor ID/KTP tercetak pada Tiket. Ya Tuhan, luar biasa sekali jawaban dari petugas loket, "KALO BAPAK TIDAK PERCAYA SINI. MASUK KE DALAM LIAT SENDIRI DI LAYAR MONITOR." Saya jawab baik kalo boleh, saya lewat mana untuk bisa ke dalam? Bukan menunjukkan jalan malah saya mendapat tantangan untuk berjudi, "KALO SAYA BISA MENUNJUKKAN, BAPAK MAU KASIH SAYA APA?" Saya jawab ya apa mintanya? "SATU TIKET RUTE TERJAUH." Jawaban petugas loket dengan nada tinggi. Baik saya jawab. Saya pikir ini loket BATAVIA atau tempat judi? Tapi tiba-tiba petugas loket bilang bahwa penerbangan untuk tanggal 16 Oktober 2007 jam 10:20 sudah habis. Terus dengan santai saya bilang berarti saya menang dong? Ternyata petugas loket marah-marah dan keluar makian dan kata-kata kasar yang kurang pantas ditujukan kepada customer. "KAMI SUDAH MELAYANI 15 JUTA PENUMPANG DAN SEMUA TIDAK ADA MASALAH". Saya jawab 15 juta juga kalo kurang 1 (satu) engga 15 juta. Bukannya berhenti malah petugas loket makin menunjukkan sikap yang tidak simpatik. Memaki sambil berdiri dan menggebrak-gebrak meja. Bahkan keluar kata-kata yang akan menuntut saya karena telah menghina maskapai penerbangan BATAVIA. Saya ucapkan selamat "SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI", dan seperti yang saya duga bukan memberikan salam balik malah masih ngomel-ngomel.Saya pun telepon Pimpinan bahwa tiket telah habis terjual. Pimpinan kami memerintahkan untuk membeli tiket maskapai penerbangan lainnya yang kebetulah bersebelahan dengan loket BATAVIA. Seperti biasa kami menuliskan nama-nama yang akan berangkat di selembar kertas, dan jadilah tiket untuk tanggal 16 Oktober 2007 tanpa makian dan ajakan judi.Pengalaman ini mudah-mudahan dapat memberikan masukan untuk menajemen BATAVIA untuk dapat memberikan yang terbaik, dan saya yakin bahwa manajemen BATAVIA tidak seperti itu. Dengan melayani customer jauh lebih baik. Tidak mengajak berjudi apa lagi memaki-maki customer, dan saya harap kejadian yang saya alami tidak terjadi kepada calon penumpang lainnya.BerliantoJl Rawagelam V No 1 Jakartaberlianto@pedatiku.com+62817854372 Keluhan diatas belum ditanggapi oleh pihak terkait
(msh/msh)
Kirimkan keluhan atau tanggapan Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik. Redaksi detikcom mengutamakan surat yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Klik disini untuk kirimkan keluhan atau tanggapan anda.











































