Keluhan
Melihat surat pembaca yang tidak puas dengan pelayanan airasia rasanya sudah banyak sekali. Hebatnya tidak ada tanggapan dari airasia. Saya hanya salah satu dari sekian banyak "korban" yang di-i>cuekin oleh airasia.Beberapa kasus yang saya dan keluarga alami:- Saat saya sudah terlanjur beli tiket, dan mendadak ada perubahan jadwal ujian anak saya, airasia tanpa toleransi minta saya untuk beli tiket baru saja.- Ibu saya dari Pekanbaru - Jakarta (pp), baik kerangkatan dari Pekanbaru maupun dari Jakarta mengalami delay selama 3 jam.- Ibu saya membeli tiket Pekanbaru - Kuala Lumpur (pp), mendadak airasia meniadakan rute tersebut. Rencana liburan menjadi berantakan karena untuk membeli tiket dari maskapai lain harus via Jakarta karena sudah fully booked semua.- Saat saya kembali dari Kuala Lumpur (24 Juli 2007), semua penumpang bingung karena lebih dari 1 jam bagasi tidak keluar. Mendadak nama airasia hilang dari conveyor belt. Ternyata dipindahkan ke conveyor belt yang lain. Akhirnya setelah lebih dari 1 jam 30 menit, kami baru bisa mengambil bagasi. Saat kejadian, tidak tampak petugas dari airasia. Penumpang harus mencari tahu sendiri. Setelah lebih dari 1 jam baru petugas airasia datang. Menurut petugas bandara, kalau saat yang hampir bersamaan ada pesawat lain mendarat juga, biasanya airasia memang begitu, karena mereka tidak mau me-reserve dulu conveyor belt-nya.- Saat anak dan mertua saya kembali dari Kuala Lumpur (lihat surat saya "airasia Amburadul"), saya terima SMS penerbangan di-delay. Pas sampai di airport ternyata pesawat sudah berangkat. Akhirnya bisa terbang keesokan harinya, tapi mengalami delay lagi selama 4 jam. Saya sudah memuat surat pembaca ke beberapa media massa untuk 2 kasus yang berbeda, ermasuk ke detikcom ini, dan juga coba komplain ke customer service mereka via telepon. Bahkan bicara langsung dengan leader dari customer service (Ibu Kiki), kemudian saya diminta untuk mengirim email dengan janji pasti akan di-reply dalam waktu 2 x 24 jam. Tetapi hasilnya semua nihil. Juga saya coba email ke Sdr Ryana Yahya Nasution (diberi oleh Ibu Kiki), tetapi sama saja, di-cuekin.Alasan-alasan yang diberikan bisa dibilang alasan yang sulit untuk dipercaya kebenarannya. Kalau terjadi delay, katanya ada masalah teknis dan airasia sangat mengutamakan keselamatan. Tetapi kerusakan sering sekali terjadi. Apakah memang betul ada kerusakan teknis. Seandainya memang betul sering rusak, artinya pesawatnya bisa dikatakan bobrok. Sampai di antara teman-teman sering bercanda. Bahwa airasia kalau delay, sebetulnya mereka lagi "ngetem" menunggu penumpang penuh. Sebaliknya, kalau penumpang sudah penuh, kita yang terlambat sedikit saja, langsung ditinggal. Mungkin kalau parkir kelamaan di airport, bayarnya mahal. Persis seperti bis kota. Kalau penumpang penuh tancap.Sejak kasus terakhir, anak dan mertua mengalami perlakuan yang seenaknya. Saya dan keluarga sudah memutuskan untuk tidak akan pernah lagi terbang dengan airasia. Saya salut sekali dengan penumpang atau pembaca yang masih bisa memberikan pujian kepada airasia. Mungkin airasia seharusnya mengganti mottonya menjadi "EGP = Emang Gua Pikirin". Saya tidak tahu instansi mana atau lembaga mana yang seharusnya memperhatikan masalah seperti ini. Saya rasa sebagai penumpang kita semua punya hak untuk mendapatkan perlakuan yang layak walaupun kita naik budget airlines.Baby ToindoPulau Bidadari 2 No 31 Jakarta 11610apikh@cbn.net.id08121182929 Keluhan diatas belum ditanggapi oleh pihak terkait
(msh/nrl)
Kirimkan keluhan atau tanggapan Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik. Redaksi detikcom mengutamakan surat yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Klik disini untuk kirimkan keluhan atau tanggapan anda.











































