Lion dan Wing Sama Saja

Suara Pembaca

Lion dan Wing Sama Saja

- detikNews
Senin, 02 Jul 2007 12:26 WIB
Keluhan
Tanggal 23 Juni 2007 saya menggunakan jasa Lion Air dari Jakarta ke Banjarmasin. Tanpa pemberitahuan sebelumnya mengalami delay selama 1 jam. Ketika pesawat berangkat, saya ketinggalan gara-gara petugas tidak meng-annonucer. Saya menunggu di luar ruang tunggu karena ruang tunggu sesak. Setelah bertengkar dengan Lion saya dapat terbang dengan jadwal berikutnya. Namun, harus membayar 50% harga tiket. Penerbangan ini pun lagi-lagi ter-delay karena pesawat dari Makassar terlambat.Saya menyampaikan keluhan melalui internet ke Lion, dengan identitas, nomor telepon, dan nomor tiket. Namun, sampai sekarang sama sekali tidak ada respon dari Manajemen Lion.Tanggal 30 Juni 2007, saya terpaksa menggunakan Wing untuk Jakarta - Banjarmasin karena tidak ada pilihan. Di tiket tertulis berangkat pukul 19.00. Saya harus mengorbankan waktu meeting untuk mengejar jadwal ini. Tetapi, sampai pukul 19.25 baru ada pemberitahuan dari petugas bahwa pesawat di-delay selama 2 jam. Ternyata nasib yang saya alami bersamaan dengan rute Jakarta - Surabaya. Penumpang AirAsia Jakarta - Palembang, dan Jakarta - Denpasar. Untuk Penumpang AirAsia sedikit beruntung karena mereka sudah diberitahu sebelum chek in melalui telepon. Pesawat akan terlambat 5 jam. Sedangkan Wing/Lion memberitahu setelah 30 menit seharusnya berada di angkasa.Perlakuan diskriminasi juga kami alami. Penumpang jurusan Surabaya dibagikan makan malam sementara penumpang Banjarmasin tidak. Setelah para penumpang ramai-ramai melabrak meja petugas mereka bingung, akhirnya kabur.Sekitar pukul 21.00 pesawat berangkat. Penerbangan cukup lancar. Namun, ketika di tengah penerbangan ada salah satu penumpang di depan saya menggunakan komunikator. Saya sampaikan hal itu kepada pramugari sebagai bentuk peduli saya atas keselamatan. Di awal sudah diberitahu bahwa penggunaan alat komunikasi atau elektronik lainnya dilarang. Dengan enteng sang pramugari menjawab "gak papa Mas, kalau sudah terbang tinggi. Tidak ada lagi sinyal. Jadi gak membahayakan". Hal ini jelas menunjukkan suatu sikap yang tidak konsisten. Sebenarnya bukan ada atau tidak adanya sinyal tetapi larangan menggunakan peralatan elektronik harus diterapkan tanpa pengecualian. Siapa menjamin di 31 ribu kaki di atas udara tidak ada sinyal. Kalau yang digunakan handphone satelit bagaimana? Mestinya pramugari respek pada sikap peduli penumpang. Begitulah representasi penerbangan Indonesia. Jika Eropa melarang Garuda masuk udara mereka sungguh tidak terlalu keliru. Abdul KarimJl. Palapa II No 42 Banjarbarukarimabdul@telkom.net05117482121, 0811512001

Keluhan diatas belum ditanggapi oleh pihak terkait

(msh/nrl)
Kirimkan keluhan atau tanggapan Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik. Redaksi detikcom mengutamakan surat yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Klik disini untuk kirimkan keluhan atau tanggapan anda.



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads