Pengalaman Naik Kopaja 66 Penuh Copet

Suara Pembaca

Pengalaman Naik Kopaja 66 Penuh Copet

- detikNews
Jumat, 03 Nov 2006 10:07 WIB
Keluhan
Seorang karyawan swasta yang bekerja di daerah Kuningan.Suatu hari, di bulan Juni 2006, ketika saya naik Kopaja 66 jurusan Blok M - Manggarai, di sekitar Jl. HR Rasuna Said (Masjid/seberang gedung Indorama ), naik segerombolan orang berjumlah 8 orang.Begitu mereka naik bus, saya perhatikan mereka semua, karena mereka naik dari pintu depan dan belakang. Pintu depan dan belakang dijaga masing-masing 2 orang, 4 orang lagi mulai menghalangi penumpang yang akan turun, ada yang memegang lengan tangan penumpang, memepet badan dengan tujuan menjarah dompet, merogoh isi tas, sehingga keadaan dalam bus benar-benar kacau.Tidak ada yang berusaha menolong, semua berusaha menyelamatkan diri masing-masing atau berdiam diri saja.Saya kebetulan duduk dekat pintu depan baris ke-2, ada salah seorang copet mencoba mendekati saya. Akhirnya pada suatu kesempatan saya segera pindah duduk paling belakang dekat pintu. Selama ada copet dalam bus, saya terus baca ayat kursi dan dzikir mohon dilindungi Allah SWT agar dijauhi dari kesulitan menghadapi para pencopet tersebut.Ketika saya hendak turun di Wisma Setia Budi pintu belakang selalu dihalangi 2 orang pencopet sehingga saya tidak bisa turun ketika bus melewati lampu merah Wisma Bakrie, saya juga belum bisa turun, sehingga saya harus ambil keputusan turun dalam keadaan meloncat sambil mendorong atau dikerjain sampai di terminal Manggarai.Saya nekat turun sambil melompat dan sedikit mendorong salah seorang pencopet sehingga dengan reaksi sepontan ia juga menendang pantat saya dengan berteriak setan lo.Setelah turun saya segera jalan dan masuk dalam gedung yang ada di sekitar sana karena di sana pasti ada satpam yang dapat membantu saya bila mereka mau cari masalah dengan saya, sekaligus saya bisa ambil nafas sambil menenangkan diri karena sempat deg-degan juga. Saran saya menghadapi situasi yang sudah sangat rawan ini di atas angkutan umum, pihak berwajib harus berani dan mau merazia semua kendaraan umum yang rawan copet atau tempatkan anggota keamanan di atas angkutan umum,. Bilamana Indonesia kekurangan tenaga Polri, saya kir anggota para militer bisa didwifungsikan membantu keamanan rakyat.Mengenai biaya operasional bagi tenaga keamanan, saya kira setiap penumpang ditarik biaya tambahan sebesar Rp 100,- / Rp 200,- pun tidak keberatan, yang penting ada rasa aman dan nyaman selama naik kendaraan umum di Republik ini.Program pemerintah ingin mengurangi pemakaian kendaraan pribadi di kota-kota besar, terutama kota Jakarta, tidak akan tercapai bilamana faktor keamanan penumpang tidak terjamin. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi yang membacanya. Syukur-syukur pihak keamanan ada yang ikut membaca tulisan ini sehingga ada perubahan bidang keamanan dalam angkutan umum.Terima kasih.muha_hakim@yahoo.com

Keluhan diatas belum ditanggapi oleh pihak terkait

(nrl/nrl)
Kirimkan keluhan atau tanggapan Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik. Redaksi detikcom mengutamakan surat yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Klik disini untuk kirimkan keluhan atau tanggapan anda.


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads