Keluhan
Saya merupakan nasabah bank ABN AMRO Bank yang sudah cukup lama. Dari biasa bekerja di sana, begitu berhenti, saya terus tetap menjadi nasaban bank tersebut, karena saya pikir sudah cukup praktis karena tidak jauh dari rumah. Yang saya ingat pada saat saya bekerja di bank tersebut adalah bahwa memang dulu sering sekali ATM nya tidak jalan. Jadi setelah saya tidak bekerja di sana, saya memutuskan untuk tidak menggunakan ATM. Setahun yang lalu saya memutuskan untuk menggunakan ATM lagi, tetapi karena sistim administrasi mereka yang ribet, akhirnya saya tetap tidak bisa mengaktifkan kartu ATM saya. Belakangan saya mengetahui bahwa ABN mempunyai phone banking yang dpat membantu saya mengaktifkan kartu ATM. Jadi saya gunakanlah phone banking tersebut. Tetapi setelah beberapa kali mencoba, saya tidak pernah berhasil berbicara dengan officer phone banking. Karena kurang sabar, akhirnya saya urungkan niat saya untuk memakain ATM, dan memilih secara tradisional saja mengambil uang di bank.Staff bank di daerah Kemang sudah banyak yang kenal saya jadi saya tidak pernah mengalami masalah. Masalah timbul pada saat saya berusaha mengambil uang cabang Juanda. Pada tanggal 24 Agustus, 2005 saya datang ke bank untuk mengecek saldo dan sekalian mengambil uang untuk keperluan rumah. Setelah mengecek dan antre di line teller, saya akhirnya ke bertemu teller yang bernama Lita. Tepatnya sekitar jam 14.30 WIB-an saya mengantre. Di situ karena saya tidak membawa kartu ABN, seperti biasa saya menunjukkan KTP saya untuk membuktikan bahwa saya adalah nasabah di sana. Pertanyaan saya adalah untuk mengecek saldo saya yang rekening dolar, karena hari itu saya menerima pemasukan. Lita tidak bersikap ramah dan ngomel menyuruh saya memakai phone banking untuk hal ini. Saya katakan bahwa saya sudah terbiasa lewat teller seperti di Kemang dan tidak melalui phone banking karena susah sekali line masuk ke phone banking, dan hal itulah plus sering rusaknya mesin ATM mereka yang menyebabkan saya enggan memakai ATM dan phone banking. Lita tidak melihat complain saya itu sebagai input, tetapi melainkan malah berbicara balik ke saya bahwa dia tidak mengenal saya dan saya tidak boleh expect dia bisa membantu saya seperti staff di Kemang yang sudah mengenal saya. Dan pada saat saya mengatakan reaksi dia membuat nasabah kesal, dia tidak peduli dan meninggalkan saya. Saya merasa marah sekali. Dan setelah saya terima uang saya, saya berusaha complain ke managernya di ruangan Van Gough. Saya ditahan satpam seperti kriminal saja. Dari situ saya mulai berbicara dengan officer mereka yang di Van Gough. Beliau menyuruh saya, menulis di kartu feedback.Baru setelah saya marah dalam bahasa Inggris (saya mempunyai aksen Amerika yang berat), baru mereka panik dan berusaha mencari manager mereka. Saya pikir,"Memang bangsa ini mempunyai mental terjajah, hanya menghormati orang asing dan bukan bangsanya sendiri. Tapi waktu saya masih marah dalam bahasa Indonesia tidak ada yang peduli!" Saya sudah marah besar dan saya bilang ke mereka saya akan tutup accounts saya. Saya menginginkan Lita dipecat, dan saya tetap akan menutup rekening saya no matter what.Jangan harap perbankan Indonesia menginginkan high networth individual menaruh uangnya di negara ini, kalau bank internasional saja servisnya jelek, apalagi lokal. Saya tidak heran kalau semua kawan-kawan saya menaruh kekayaan mereka offshore, karena memang mental bangsa kita belum siap buat profesionalisme.yamadin@cbn.net.id Keluhan diatas belum ditanggapi oleh pihak terkait
(nrl/)
Kirimkan keluhan atau tanggapan Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik. Redaksi detikcom mengutamakan surat yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Klik disini untuk kirimkan keluhan atau tanggapan anda.











































