Surat Terbuka Untuk ATKP Surabaya

Suara Pembaca

Surat Terbuka Untuk ATKP Surabaya

- detikNews
Rabu, 02 Jan 2013 12:45 WIB
Keluhan
Goresan pena ini merupakan jeritan hati yang lama terpendam dalam hati. Saya, Martha Saliyani (43 tahun) adalah seorang ibu rumah tangga dari dua anak putri.

Untuk menopang ekonomi keluarga, saya berjualan nasi yang menempati sepetak warung berdinding triplek di pinggiran jalan. Keadaan ekonomi keluarga yang pas-pasan memacu saya untuk berjualan makanan dan minuman.

Mengkais rejeki halal itu, semata-mata saya lakoni untuk membiayai sekolah kedua buah hati kami. Agar mereka mampu mewujudkan cita-citanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, cita-cita salah satu putri kami, kandas di tengah jalan hanya karena sebuah sistem atau aturan yang tidak transparan, yang dibuat oleh seseorang atau sekelompok sebuah institusi pemerintah.

Siang itu, putri pertama kami, melonjak kegirangan manakala namanya tercantum dalam calon peserta didik (taruna baru) yang dinyatakan lolos administrasi oleh Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Surabaya.

Sebelumnya putri kami mengikuti pendaftaran melalui sistem online yang diadakan oleh Kementerian Perhubungan "Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan" tentang Penerimaan Taruna Baru Badan Pengembangan SDM Perhubungan Tahun Akademik 2012.

Hanya diberi tenggang waktu 1 x 24 jam dari hasil pengumuman itu, orangtua calon taruna harus membayar Rp 950.000 untuk dapatnya mengikuti tes lanjutan. Saat tes berlangsung, putri kami bergabung dengan 1.000 calon taruna lain yang datang dari berbagai daerah.

Tujuh hari penuh putri kami menjalani tes lanjutan dengan sistem gugur. Rasa optimis terpancar dari rona wajah putri kami. Keyakinan tersebut berdasarkan informasi yang diperoleh langsung dari para penguji, yang menyatakan jika ia lolos pada tahapan tes itu.

Terlebih putri kami tergolong mahir berbahasa Inggris, dimana nyaris semua tahapan menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantarnya.

Tapi pada saat pengumuman terakhir melalui online, nama putri kami dinyatakan tidak lolos. Pihak ATKP hanya menerima 250 calon taruna saja. Kami benar-benar kaget, karena informasi itu tidak disebutkan sejak dari awal.

Tidak yakin dengan hasil pengumuman melalui online, saat itu juga saya mendatangi kantor ATKP. Bersama sejumlah orangtua lainnya, kami mencoba cari tahu kepastian tersebut.

Ironisnya pihak keamanan ATKP segera melepas lembaran kertas di papan pengumunan yang memuat nama-nama calon taruna baru lolos seleksi. Seolah-olah menyembunyikan sesuatu dengan kertas hasil penerimaan calon taruna baru.

Saya berjuang sendiri untuk menemui ketua panitia penerimaan. Namun yang bersangkutan tidak bersedia menjumpai saya. Dia berdalih seluruh berkas hasil tes sudah dikirim ke Jakarta, dan hasilnya sesuai yang di online.

Apakah kami tidak berhak mendapat salinan hasil tes, mengingat kami sudah berkewajiban membayar sejumlah uang, yang menurut ukuran kami jumlahnya tidak sedikit. Dan seseorang yang mengaku bertanggung jawab atas yang terjadi di ATKP, mengucapkan kalimat kasar dan tidak pada tempatnya.

Beliau menantang saya untuk melaporkan hal ini bahkan melapor ke Menteri yang bersangkutan. Bukankah semestinya ia memberikan kalimat yang arif bijaksana kepada rakyat kecil yang butuh sebuah keadilan dan kepastian.

Namun, di sisi lain, sejumlah pegawai di ATKP secara diam-diam mengacungkan 'jempol' kepada saya, seolah mendukung tindakan saya mendatangi kantor ATKP bahkan ada yang langsung membisikkan kata dukungan.

Belum usai kebingungan saya, selang beberapa waktu dari hasil pengumunan, putri kami memberitahu kalau teman sesama pendaftar yang dinyatakan tidak lolos, justru bisa diterima karena orangtuanya sanggup membayar sejumlah uang.

Atas kenyataan itu, hampir 2 minggu putri kami tidak keluar kamar. Menyendiri dan depresi, yang dilakukan hanya menangis. Malu dengan teman sekolah, teman bermain, terlebih keluarga besar kami.

Atas jeritan hati yang saya tulis ini, saya tidak berharap agar putri kami diterima di ATKP. Saya berharap agar pihak-pihak terkait mendengar jeritan hati kami sebagai ibu rumah tangga yang tidak berdaya karena kearoganan pejabat.

"Maafkan ibumu, nak! Tuhan tentu berencana lain atas cita-cita yang kamu idamkan. Amin.


Martha Saliyani
Jl Sidotopo Lor, Surabaya
cakbrintiq@yahoo.co.id
031-81536719



Keluhan diatas belum ditanggapi oleh pihak terkait

(wwn/wwn)
Kirimkan keluhan atau tanggapan Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik. Redaksi detikcom mengutamakan surat yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Klik disini untuk kirimkan keluhan atau tanggapan anda.



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads