Keluhan
Apakah anda suka hari libur? jika hal itu ditanyakan kepada seluruh pekerja seantero jagad, saya yakin 100 % menjawab "Ya".Baru-baru ini Pemerintah gemar memberi kejutan bagi golongan pekerja di tanah air. Pertama, Pemerintahmenetapkan bahwa pada 16 Mei 2011 adalah cuti bersama, yaitu melalui Surat Keputusan Bersama yang ditandatangani Menteri Tenaga Kerja, Menteri Agama, dan Menteri Negara PAN dan RB yang bergandengan dengan libur hari raya Waisak Selasa, 17 Mei 2011.
Celakanya, SKB tersebut baru diteken pada Jumat, 13 Mei 2011. Terbayang betapa sibuknya sekretariat dan kantor pemerintah dalam menyikapi libur yang mendadak tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saya adalah pekerja di sebuah instansi vertikal dan ditempatkan sangat jauh dari keluarga, sebagai konsekuensi kontrak "bersedia ditempatkan dimana saja". Dengan jatah cuti tahunan yang sedikit, dua belas hari kerja dikurangi cuti bersama empat hari plus dua hari atas SKB di atas menjadi sisa enam hari. Berarti total sudah 50 persen hak cuti saya hilang direnggut cuti bersama.
Mungkin bagi anda para pembuat kebijakan, hilangnya satu atau dua hari cuti tidaklah berarti apa-apa. Tapi untuk saya dan juga para pekerja rantau lain, hal itu sangatlah berarti.
Karena cuti tahunan adalah tabungan pelepas rindu bagi keluarga nun jauh di sana terutama pada hari raya. Tak hanya itu, dari hitung-hitungan ekonomi, hilangnya jatah 2 hari cuti tersebut juga sangat terasa.
Bayangkan biaya tiket pulang ke kampung halaman yang sedemikianbesarnya yang hanya dinikmati dalam beberapa hari saja, dan itu pun terpaksa dipangkas oleh dua SKB di atas.
Miris ketika segelintirminoritas melancarkan kritik terhadap kebijakan cuti "kejepit" di atas, sementara alasan yang digunakan pun terkesan dicari-cari. Simaklah pernyataanMenkokesra Agung Laksono sesaat setelah SKB tentang cuti bersama 3 Juni 2011 diumumkan.
"Sebagian pegawai negeri sipil tidak sepenuhnyamemanfaatkan hak cuti tahunan, padahal cuti adalah momen untuk revitalisasi, rekreasi, dan penyegaran bagi pegawai dan keluarganya" ujar mantan Ketua DPR RI periode 2004-2009 itu, seperti dikutip dalam kompas.com (Senin, 23 Mei 2011)
Dengan segala hormat, Pak Menteri. kami yang diperantauan tidak menikmati revitalisasi dan rekreasi seperti yang Bapak maksud, apalagi penyegaran keluarga dalam masa cuti "kejepit" tersebut.
Pesan saya tidak muluk-muluk seperti umumnya para pengamat kebijakan publik, hanya satu: Jangan rampas jatah cuti kami dengan sepihak. Karena cuti adalah hak pekerja, dan pemberi kerja/atasan (baca: Pemerintah) hanya berhak memberi izin atau tidak atas permintaan para pekerja di waktu yang diminta, dan bukan menghilangkannya.
Semua orang jelas suka libur, tapi kalau pertanyaan di awal tulisan Saya diubah menjadi Apakah anda suka diberi 'hadiah' cuti bersama? saya tidak yakin jawabannya akan sama dengan yang pertama.
Kardhika Cipta Binangkit
Perum. Griya Fitrah Mandiri, Jl. Brig Jend Piola Isa, Gorontalo
kardhika_cb@yahoo.co.id
08128423292
Keluhan diatas belum ditanggapi oleh pihak terkait
(wwn/wwn)
Kirimkan keluhan atau tanggapan Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik. Redaksi detikcom mengutamakan surat yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Klik disini untuk kirimkan keluhan atau tanggapan anda.











































