Keluhan
Kisruhnya kongres PSSI pada Jum'at (20/5) malam lalu, tentu sangat memprihatinkan kita semua. Kongres yang dilaksanakan tepat pada hari Kebangkitan Nasional itu, semula diharapkan menjadi ajang kebangkitan sepakbola dalam negeri.Namun kini dengan kisruh yang kembali terjadi, ditenggarai justru, malah akan menjadi ajang kebangkrutan sepakbola tanah air, karena peluang akan dikenakannya sanksi kepada Indonesia oleh FIFA kini semakin santer dan diduga akan menjadi kenyataan.
Dari beberapakalinya kisruh kongres sepakbola nasional yang telah terjadi, semakin mempertegas pandangan bahwa sepakbola tidak semata hanya sebuah cabang olahraga semata, namun lebih dari itu, juga kaya dengan misi serta kepentingan dari para praktisinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertempuran memperebutkan nakhoda kepemimpinan PSSI tentu bukanlah sesuatu yang baru, namun "pertempuran" perebutan itu tentu sangat disesalkan karena kemudian berujung pada kekisruhan yang memancing sanksi besar dari FIFA. Dimana tentunya berdampak tidak hanya merugikan pihak PSSI semata, namun pula bagi seluruh elemen persepakbolaan tanah air, bahkan berefek negative bagi bangsa dan Negara.
Sehubungan sepakbola mempunyai peran yang baik bagi bangsa, salah satunya bisa menjadi alat pemersatu elemen komponen yang ada di dalamnya. Apalagi ditengah aroma radikal sektarianisme yang semakin menampak, peran sepakbola tentu sangat diperlukan.
Berdasarkan fakta, sepakbola telah berhasil menjadi sumber pemantik rasa nasionalisme. Contoh paling fresh, ajang AFF beberapa waktu yang lalu bisa menjadi salah satu buktinya.
Sepakbola, alat politik yang sexy?
Tingginya tingkat persaingan untuk memperebutkan nakhoda PSSI, mengundang pertanyaan besar, sebegitu "sexy"-nya kah organisasi keolahragaan itu, sampai-sampai orang rela "berkelahi" memperebutkannya ?.
Sebagai organisasi yang mengurusi cabang olahraga paling popular, PSSI memang bisa jadi โmesin politik yang sexiโ karena memiliki potensi sebagai peraup simpati massa, yang di dalamnya juga mempunyai "magnet" sebagai penghasil uang yang tidak sedikit, oleh karenanya tidak heran bila kemudian PSSI menjadi ajang rebutan berbagai kepentingan.
Sehingga tidak bisa ditekan kemudian apabila ada pihak yang memparodikan nama PSSI sebagai singkatan dari Partai Sepakbola Seluruh Indonesia, sebuah sindiran akan begitu kuatnya kepentingan politik menjadi ruh dalam organisasi keolahragaan yang satu ini.
Sebenarnya interaksi antara sepakbola dengan politik bukanlah sesuatu yang aneh, Bagja Hidayat dalam tulisannya mengenai sejarah sepakbola Indonesia manyatakan bahwa sudah sedari awal sejarah lahirnya sepak bola Indonesia merupakan berasal dari kepentingan politik, bukan dari keinginan orang menjadi bugar.
Pada awal "kelahirannya" disekitar satu abad yang lalu, sepak bola nasional "diciptakan" untuk memantik nasionalisme masyarakat. Olehkarenanya maka yang aktif membangun klub sepak bola adalah para tokoh pergerakan seperti MH Thamrin, Ki Hajar Dewantoro, serta Soekarno-Hatta. Mereka menggunakan sepakbola untuk ajang pengumpulan massa yang kemudian selanjutnya dijadikan sebagai ajang diskusi bagaimana mengusir penjajah .
Begitupula di belahan dunia yang lain, perkawinan antara sepakbola dengan politik, pula banyak terjadi. Seperti missal di Italia, sebagai salah satu negara dengan industri sepak bola terbesar di dunia, besarnya daya magnet sepakbola dalam menarik "emosional" massa, secara jeli mampu dimanfaatkan oleh Silvio Berlusconi, politikus serta perdana menteri di sana, yang menjadikan AC MILAN, klub miliknya, sebagai salah satu alat direct selling suara guna memenangkan pencalonan dirinya, serta memperkuat posisi politiknya.
Selanjutnya dari cerita sejarah lainnya, diktator Adolf Hitler juga pernah memanfaatkan Federasi Sepak Bola Jerman (DBF) untuk propaganda politik Nazi. Sedangkan di Spanyol, diktator Franco diberitakan juga pernah memanfaatkan klub sepak bola Real Madrid sebagai alat legitimasi kekuasaannya.
Sedangkan kembali ke Italia, karena meyakini besarnya "daya magis" politik dari ajang Piala Dunia, diperoleh informasi bahwa Mussolini pada tahun 1934, memaksa agar perhelatan Pila Dunia harus dilaksanakan di Italia dan negaranya diwajibkan memilih satu piliha ; "menang atau mati".
Contoh lain hubungan erat antara sepak bola dan politik, juga dapat terbukti di tahun 1990, tepatnya pada saat Piala Dunia. Legenda sepak bola Diego Armando Maradona saat itu diangkat oleh Presiden Menem sebagai duta resmi Argentina.
Presiden Menem tentu tidak semena-mena dalam memutuskan seorang Maradona sebagai duta negaranya, karena memang pada saat tersebut, Maradona benar-benar begitu dipuja bahkan dianggap sebagai "nabi" dari sebuah "agama" sepakbola di Argentina.
Diberitakan bahwa pada saat itu fanatisme massa sangat begitu kuat terhadap Maradona, bahkan menjurus sampai tingkat kultusisasi, sehingga pada waktu itu bila kita datang ke negara Argentina, kita akan menemukan Iglesia Maradoniana (Gereja Maradona), sebuah agama parodi yang mendewakan Diego Maradona sebagai "nabinya".
Kawinisasi antara politik dengan sepak bola, berdasarkan referensi yang penulis baca, pada beberapa negara bahkan diberitakan mencapai tingkat ekstrimitas. Salah satu contohnya adalah di Amerika Latin.
Luis Suarez, salah seorang pemain sepakbola Kolombia, menyatakan bahwa di Amerika Latin, batas antara sepak bola dan politik itu samar, disampaikan bahwa terdapat daftar panjang pemerintahan yang jatuh setelah tim nasional mereka kalah.
Bahkan sejarah Amerika Latin juga telah mencatat bahwa pernah ada Perang Sepak Bola, yaitu sebuah perang antara Honduras dan El Savador pada tahun 1969 yang pecah setelah pendukung kesebelasan kedua negara itu bentrok pada penyisihan Piala Dunia 1970.
Olehkarenanya apa yang terjadi pada kongres PSSI jum'at malam lalu bukanlah sesuatu yang baru, bahkan sudah banyak diduga akan menjadi ajang arena pertarungan kepentingan, terutama politik.
ย Hal ini tampak sejak dari jauh-jauh hari, dimana para pihak yang 'berkonfrontasi' tetap ngotot pada misi dan pendirian serta keyakinannya masing-masing, dengan saling melancarkan Psywar ketika akan mengikuti kongres.
Kini semua sudah terjadi, akankah momen ini benar-benar menjadi ajang kebangkrutan sepakbola tanah air, setelah sekian lama Indonesia miskin akan gelar, kini sanksi FIFA pun sudah siap-siap menanti. Pertanyaannya adalah apakah benar, itu yang di harapkan?
*Penulis adalah Pecinta Sepakbola Nasional
Cecep Hidayat
hidayat_c2p@yahoo.com
081318916757
Keluhan diatas belum ditanggapi oleh pihak terkait
(wwn/wwn)
Kirimkan keluhan atau tanggapan Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik. Redaksi detikcom mengutamakan surat yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Klik disini untuk kirimkan keluhan atau tanggapan anda.











































