Kenaikan Tiket Kereta Api Bima yang Tak Wajar

Suara Pembaca

Kenaikan Tiket Kereta Api Bima yang Tak Wajar

- detikNews
Rabu, 04 Agu 2010 09:36 WIB
Kenaikan Tiket Kereta Api Bima yang Tak Wajar
Keluhan
Rabu, (28/7/2010) malam saya melakukan pembelian langsung tiket Kereta Api Bima Purwokerta - Surabaya. Saat akan mencetak petugas menyebut angka yang membuat kaget bukan kepalang. Pasalnya harga tiket yang biasanya Rp 170.000 (atau 190.000) berubah  menjadi Rp 265.000. Pusing karena besok pagi harus sampai di Surabaya sementara di sekitar stasiun tidak ada ATM BCA.

Tidak percaya, mungkin ada kesalahan, petugas kembali meyakinkan dengan harga yang tercantum di kereta. "Naiknya sudah lama Mas," kata petugas tersebut. Aneh. Padahal beberapa bulan sebelumnya saya juga naik kereta ini dengan tujuan yang sama. Dan, memang sudah langganan jika saya berada di Purwokerta untuk balik ke Surabaya.

Saya masih tak percaya. Saya cek harga di papan tertera batas bawah 170.000. Batas atas 275.000 (atau 285.000 lupa, pokoknya sekitarnya), dan mulai berlaku 1 Mei 2010. Saat itu hari Rabu, bukan peak day, dan juga bukan masa liburan. Perjalanan juga tidak full. Seharusnya yang digunakan batas bawah seperti biasanya. Tapi, petugas tetap tidak bergeming. Apa mau dikata. Data yang di komputer secara logika memang lebih valid karena itu memang data dari pusat (komputerisasi).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas saya coba tanyakan berapa untuk tiket full Surabaya - Jakarta. Petugas menjawab Rp 280.000 (lupa, atau sekitarnya). Kembali saya dibuat kaget. Cuma beda Rp 10.000. Padahal jarak SBY - PWT hampir 2/3 SBY - JKT.

Oleh karena dikejar waktu saya minta bantuan teman di Purwokerta untuk membantu tiket ke Surabaya. Tiket pun terbeli. Tapi, bukan berarti masalah selesai. Kereta BIMA yang harusnya datang pk 22.00 baru tiba 23.30 (molor sekitar 1,5 jam). Tak ada bedanya dengan
naik kereta biasa. Yang saya tanyakan:

1. Mengapa kenaikan tiket sangat drastis. Dari 170.000  menjadi 265.000. Atau hampir 50%. Harinya Rabu dan bukan masa liburan.
2. Bagaimana logika penghitungan tarif, SBY-JKT dan SBY-PWT bedanya cuma 10.000. Sangat berbeda dengan sebelumnya.
3. Saya tahu per Maret tidak ada lagi jatah makan. Analisa saya Manajemen memilih efisiensi tersebut daripada menaikkan harga tiket. Tapi, kenyataannya tiket juga naik. Bangkrutkah kereta? Apa karena mentang-mentang di Purwokerta tidak ada pesawat (karena rasio waktu dan harga orang akan lebih memilih naik pesawat).
4. Saya tahu juga upaya kenaikan harga akan diikuti peningkatan layanan. Meski manajemen tidak menjadikan faktor tersebut sebagai alasan kenaikan. Tanpa kenaikan pun pelayanan tetap ditingkatkan. Tapi, dalam realita waktu masuk kereta sangat terlambat.
       
Demikian. Semoga manajemen kereta membaca keluhan saya.

Novy Setiyarso
Bayu Ujung 30A Kb Pala Makasar
Halim PK Jakarta Timur
novis97@gmail.com
087878057032





Keluhan diatas belum ditanggapi oleh pihak terkait

(msh/msh)
Kirimkan keluhan atau tanggapan Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik. Redaksi detikcom mengutamakan surat yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Klik disini untuk kirimkan keluhan atau tanggapan anda.



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads