Keluhan
Pelayanan dan harga miring menjadi pilihan saya untuk memilih Air Asia pada tanggal 1 Mei 2010 dengan rute Kuala Lumpur (KL) - Yogyakarta. Penerbangan terasa nyaman hingga saya sesampainya di Yogyakarta yang ternyata koper saya hilang (tidak terangkut pesawat). Menurut keterangan salah satu pegawai ini merupakan kesalahan petugas check in di KL yang lupa melabeli koper saya.Saat itu saya dilayani pegawai yang bernama Iqbal. Saya menceritakan detail koper
yang berwarna merah-hitam dengan tulisan 'tours' warna merah (sulaman benang). Berisi baju dan make up. Saat itu di laporan kehilangan Saudara Iqbal hanya menuliskan koper saya berwarna hitam dan berisi baju. Padahal sudah saya tegur.
14 Mei saya ditelepon Saudara Iqbal mengenai koper saya yang berisi obat-obatan dan
terjaring di Bea Cukai. Padahal saya tidak menaruh obat di koper kecuali 1 strip Panadol. Kebetulan saya sedang di luar kota jadi tidak bisa mengambil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
17 Mei saya ke kounter Air Asia di airport. Ternyata koper yang ditemukan bukan milik saya melainkan koper hitam yang ditulisi tulisan 'tours' dengan tipe-eks warna
putih dan berisi banyak obat. Tidak ada baju sama sekali.
Saya tidak tahu permainan apa ini. Namun, saya tidak yakin jika kebetulan sekali ada penumpang yang sangat 'iseng' menulisi koper polos miliknya dengan tipe-eks dan tertukar dengan koper saya yang bertuliskan sama. Saat itu saya melakukan konfirm ulang tentang ciri-ciri koper saya kepada Saudara Moses dan dijanjikan akan diberi kabar dalam 2-3 hari.
20 Mei Saudara Iqbal menelepon suami saya. Bukannya memberi up date keberadaan koper
namun menanyakan ciri-ciri. Saat suami saya bertanya apakah tidak bisa menanyakan kepada Moses atau melihat arsip di kantor Saudara Iqbal mengatakan Moses sudah tidak bekerja di Air Asia dan bahkan menyalahkan suami saya yang mengecek koper tanggal 17, bukan saat ia menelepon tanggal 14.
Saat suami saya berkata tidak ada pengaruh hari pengecekan jika kopernya benar Saudara Iqbal malah berkata jika Air Asia sudah mengeluarkan biaya banyak untuk mengeluarkan koper dari bea cukai. Padahal, kami tidak pernah meminta untuk diuruskan. Tokh ternyata bukan koper milik kami.
27 Mei saya ke Air Asia lagi. Kebetulan Saudara Iqbal sedang cuti. Salah satu pegawai pria menelepon beliau dan setelah itu menyampaikan pesan dari Saudara Iqbal
bahwa koper saya sudah hilang. Jika memang sudah hilang kenapa Saudara Iqbal tidak memberi kabar secara langsung kepada saya?
Dari petugas itu saya juga mengetahui bahwa saudara Moses masih bekerja di Air Asia. Bukannya resign seperti yang diberitakan saudara Iqbal. Saya sungguh tidak mengerti mengapa Saudara Iqbal harus berbohong kepada saya?
Saya yakin Air Asia akan memberi ganti rugi yang tidak sedikit atas kehilangan saya namun kejadian ini sungguh mengecewakan dan membuang waktu saya. Saya harap pelayanan kehilangan bagasi dapat lebih profesional dan serius. Terima kasih.
Winda Tri Listyaningrum
Komplek BPK TR II/524 Yogyakarta
voila_wnd@yahoo.com
085228005753
Keluhan diatas belum ditanggapi oleh pihak terkait
(msh/msh)
Kirimkan keluhan atau tanggapan Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik. Redaksi detikcom mengutamakan surat yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Klik disini untuk kirimkan keluhan atau tanggapan anda.











































