Keluhan
Sebelum saya menceritakan pengalaman saya mohon diketahui bahwa saya seorang tunanetra. Jadi, pengalaman yang saya tuturkan lewat surat pembaca ini sangat berhubungan dengan kondisi saya tersebut. Pengalaman ini pun terpaksa saya sampaikan karena sudah terulang beberapa kali dan sudah melewati batas toleransi yang saya miliki. Saya berharap pihak-pihak yang bersangkutan mampu menarik pelajaran dan memperbaiki kekurangan yang akan saya singgung dalam surat ini.
Saya ingin menuturkan pengalaman sayaΒ --yang kurang menyenangkan, bepergian dengan maskapai penerbangan "Singa Udara" (nama saya samarkan demi kepentingan privasi dan agar tidak mudah dicari mesin pencari). Saya maksud pengalaman kurang menyenangkan adalah bukan pada kinerja pesawatnya tapi pada perlakuan sumber daya manusianya yang selain telah melakukan tindak diskriminasi, mereka (khusus SDM yang saya singgung saja -red) telah bersikap kurang santun pada klien.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kejadian pertama terjadi pada Kamis, 17 Desember 2009. Pada saat itu saya hendak terbang ke Bali dengan "Singa Udara" dan mengantri untuk check in di Soekarno Hatta. Saat saya bertanya pada bagian loket tentang bagasi (saya bertanya karena saya tunanetra dan butuh bantuan). Dengan ketus sang penjaga loket berkata, "nggak bisa baca ya? Tuh, 'HELP DESK'," katanya (saya asumsikan dia sambil menunjuk).
Oleh karena saya memahami betapa lelahnya bekerja sebagai penjaga loket maka saya minta bantuan orang lain untuk mengarahkan saya ke tempat yang dimaksud sang penjaga loket. Ternyata tempat yang ditunjuk tidak melayani penitipan barang. Saya harus kembali ke antrian loket karena menurut informasi orang yang berada di tempat tertunjuk bagasi dapat diurus langsung di loket tersebut.
Maka kembalilah saya dengan komplain. Saat saya nyatakan komplain saya bahwa sang penjaga loket seharusnya melayani saya. Petugas yang lain bukannya membantu tapi malah berkata, "kami semua di sini sedang sibuk, Mas!" Ya, meski akhirnya barang saya diurus juga.Β
Kejadian kedua terjadi pada saat saya hendak kembali ke Jakarta dari Bandara Sepinggan Balikpapan pada Selasa, 22 Desember 2009. Kali ini saya hendak naik "Singa Udara" bersama manager saya (perempuan). Menurut manager saya, pada saat beliau meng-check-in-kan barang-barang kami antrian terbagi menjadi dua.
Setelah mengikuti antrian cukup lama manager saya baru sadar bahwa ia ikut di antrian yang salah (isinya orang-orang yang menyerobot). Menjadi masalah adalah orang-orang yang menyerobot di depannya semua dilayani. Namun, ketika giliran manager saya tidak dilayani.
Kontan manager saya mengajukan keberatan karena dia tidak tahu kalau dirinya ikut di antrian yang salah dan bersedia antri lagi. Tapi, kenapa orang-orang yang ada di depannya (semuanya pria) tetap dilayani dan tidak diingatkan.
Mendengar komplain manager saya salah satu penyerobot marah dan hampir melempar manager saya dengan sepatu. Melihat itu petugas "Singa Udara" bukannya melerai tapi malah terus menyalahkan manager saya tanpa mempedulikan kalau dia tidak tahu dan sudah terlanjur ikut barisan yang salah.
Petugas "Singa Udara" (yang fotonya sempat dijepret manager saya) bahkan berkata, "Mbak, kan, perempuan. Jadi diem aja," sambil terus bicara dengan nada yang tidak seharusnya digunakan oleh petugas yang sopan dan santun.
Hal berikutnya adalah soal diskriminasi yang saya alami yang tak hanya dialami oleh saya tapi juga oleh rekan-rekan tunanetra yang lain (link artikel tambahan saya cantumkan di akhir surat ini). Perlu dicatat bahwa saya hanya merasakan ini saat terbang dengan "Singa Udara".
Saya pernah mengalami ini di beberapa bandara. Tapi, karena saya sering mengalaminya di Bandara Sepinggan Balikpapan, maka saya akan ambil pengalaman tersebut sebagai sample.
Intinya, pihak "Singa Udara" menganggap kecacatan. Dalam hal ini kebutaan yang saya sandang sebagai penyakit karena sebelum mengudara mereka meminta saya menandatangani surat pernyataan yang menyatakan bahwa saya sakit dan pihak "Singa Udara" tidak akan bertanggung jawab apabila terjadi kecelakaan selama penerbangan.
Kontan saya menolak karena kecacatan bukan sakit dan saya sehat lahir batin. Jadi, apabila terjadi apa-apa dengan saya selama penerbangan pihak "Singa Udara" tetap berkewajiban untuk bertanggung jawab seperti halnya tanggung jawab mereka pada penumpang lain.
Kejadian terdekat terjadi di hari yang sama dan tempat yang sama, Sepinggan, Selasa, 22 Desember 2009. Petugas "Singa Udara" menolak memberangkatkan pesawat sebelum saya menandatangani surat seperti tertutur di atas. Karena memikirkan penumpang lain yang pastinya akan delay saya memutuskan turun dan mengurus semuanya dengan Manager "Singa Udara". Setelah melalui perdebatan akhirnya saya setuju tanda tangan dengan syarat pihak "Singa Udara" tetap bertanggung jawab pada keselamatan saya.
Akhirnya, dengan disertai omelan dari pramugari yang seharusnya menyambut dengan manis, saya pun kembali dinaikkan ke pesawat. Saat mengatur bangku untuk saya, salah satu pramugari yang mengaku senior me-refer saya sebagai orang sakit. "Bapak yang sehat duduk di pojok, Bapak ini yang sakit (menunjuk ke saya) duduk di sisi dalam."
Salah seorang penumpang bahkan menegur pramugari tersebut untuk tidak menggunakan kata "yang sehat" atau "yang sakit" untuk me-refer saya. Tapi, pramugari itu tetap melakukan hal tersebut.
Saya pun menyimpan foto petugas "Singa Udara" di Sepinggan yang bersikap kurang sopan terhadap kami yang sempat dijepret manager saya. Bila diperlukan, foto tersebut dapat langsung diminta ke saya. (Untuk argumentasi yang lebih mendalam soal hak dan kewajiban penyandang cacat seputar kasus ini silahkan baca di link yang saya sertakan di akhir surat).
Pembaca, mungkin Anda berpikir "yang kayak gini aja dipermasalahin," atau "ya peraturannya emang udah begitu," atau berbagai bentuk pikiran tak sepaham lainnya. Namun, perlu diketahui bahwa hal ini sangat penting bagi kami orang-orang berkebutuhan khusus. Karena, bagi kami sudah bukan lagi waktunya teriak tentang persamaan derajat.
Kami sudah mulai hidup lebih baik. Salah satunya berbisnis dan traveling dengan maskapai penerbangan. Jadi, saya rasa alangkah tertinggalnya orang-orang atau lembaga-lembaga yang bersikap seperti di atas yang masih saja belum paham tentang nilai dan eksistensi manusia berkebutuhan khusus atau penyandang cacat atau orang sakit seperti kata mereka yang mungkin tanpa mereka sadari kini sudah banyak yang hidup profesional. Itu kenapa surat ini saya tulis dengan pendekatan konstruktif dan berharap ini bisa jadi masukan bagi kita semua.
Mungkin untuk orang-orang berhati batu dan bermuka tembok seperti saya yang sudah kebal akan diskriminasi hal semacam ini tidak akan terlalu berpengaruh. Tapi, saya sangat memikirkan rekan-rekan saya yang lain yang karena kekurangan fisiknya harus menerima perlakuan semacam ini.
Jadi, mohon bagi manager, pengelola, bahkan pemilik maskapai penerbangan "SINGA UDARA", kiranya berkenan memperhatikan surat yang saat ini yang sedang saya todongkan.
"That will be shameful if I have to use another airlines that never did such a thing, right?"
Untuk mempertegas bukti diskriminasi yang dilakukan "Singa Udara" berikut saya
sertakan artikel tambahan yang berisi pengalaman serupa yang dialami salah seorang rekan tunanetra saya. http://ramaditya.multiply.com/journal/item/150/Tunanetra_Bukan_Orang_Sakit
Eko Ramaditya Adikara
Perumahan Jati Agung I Blok B3 No 6 Jatibening Baru Bekasi
ramavgm@gmail.com
081316584313
Keluhan diatas belum ditanggapi oleh pihak terkait
(msh/msh)
Kirimkan keluhan atau tanggapan Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik. Redaksi detikcom mengutamakan surat yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Klik disini untuk kirimkan keluhan atau tanggapan anda.











































