Mohon Kebijakan yang Sebaik-baiknya dari Standard Chartered

Suara Pembaca

Mohon Kebijakan yang Sebaik-baiknya dari Standard Chartered

- detikNews
Jumat, 13 Nov 2009 16:27 WIB
Mohon Kebijakan yang Sebaik-baiknya dari Standard Chartered
Keluhan
Sudah sejak tahun 2006 saya menjadi debitor kartu kredit Standard Chartered Bank dan bisa dikatakan memiliki performance baik. Sehingga, sejak bulan April 2008 Saya dipercaya mendapatkan fasilitas kredit tanpa agunan (KTA) sebesar Rp 18,000,000Β  (cicilan per bulan Rp 798,024). Dana KTA saya pergunakan untuk modal usaha.

Karena performance yang baik pula beberapa bulan kemudian pada awal Desember 2009 saya mendapatkan penawaran Top Up KTA menjadi Rp 41,000,000 (cicilan per bulan RpΒ  1,588,174). Penawaran begitu ramah dan manisnya ditawarkan kepada saya. Dengan pertimbangan ingin menambah modal usaha penawaran tersebut saya ambil.

Persetujuan diberikan pada tanggal 22 Desember 2008. Akan tetapi dana effektif baru diterima tanggal 8 Januari 2009 (keterlambatan dana karena ada kesalahan pada Bagian Transfer yang semestinya bisa dihindarkan karena kover tabungan sudah diberikan kopinya).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jatuh tempo pembayaran KTA setiap tanggal 22 per bulannya. Dengan pertimbangan menyesuaikan waktu gajian (sebagai dana talangan pinjaman) saya coba telepon ke Customer Service Standard Chartered untuk meminta kebijakan pergeseran waktu jatuh tempo menjadi tanggal 30 setiap bulannya.

Akan tetapi informasi yang saya dapat Standard Chartered Bank tidak bisa memberikan kebijakan tersebut sehingga setiap bulan saya harus kena denda Rp 100,000. Otomatis menjadi tambahan beban untuk Saya.

Masalah Saya mulai bertambah setelah beberapa bulan KTA Top Up berjalan ternyata hasil usaha masih belum dapat berjalan seperti yang diharapkan sehingga saya kesulitan untuk bisa membayar sejumlah cicilan plus denda yang harus dibayarkan.

Awalnya saya coba tutupi cicilan dengan dengan menggunakan kartu kredit. Tetapi, malah menambah masalah baru beban kartu kredit saya dengan bertambahnya waktu semakin besar pula sehingga semakin sulit untuk saya membayarnya.

Saya coba beritikad baik beberapa kali menghubungi dan datang ke Customer Service Standard Chartered Bank untuk meminta kebijakan keringanan cicilan kredit atau rescheduling pembayaran. Namun, dikatakan tidak ada kebijakan untuk itu.

Setiap bulan saya tetap berusaha untuk bisa membayar cicilan pinjaman. Akan tetapi dengan keterbatasan saya akhirnya saat ini saya jadi mempunyai tunggakan cicilan. Sampai dengan saat ini saya masih mengupayakan untuk bisa membayar cicilan dan tunggakannya KTA dan kartu kredit setiap bulannya.

Pembayaran KTA terakhir saya lakukan tanggal 19 Oktober 2009 dan kartu kredit tanggal 31 Oktober 2009. Pada 4 November 2009 Saya ditelepon oleh Bapak Ginting yang menginformasikan jika tanggal 5 November 2009 saya tidak bisa melunasi tunggakan KTA dan kartu kredit maka data saya akan diberikan ke Agen (Debt Collector).

Menurut beliau dengan posisi data di agen berarti saya akan kena biaya agen sebagai tambahannya. Bagaimana mungkin dalam waktu satu hari saya harus mendapatkan dana untuk mendapatkan tagihan itu.

Sampai saat ini pun saya masih mengupayakan untuk bisa membayar tunggakan tersebut. Tanggal 11 November 2009 saya mendapatkan telepon kembali dari orang yang mengaku bernama Lia dari Standard Chartered Bank yang gaya bicaranya seperti preman. Dengan nada dan bicara yang tidak sopan dan teriak-teriak mengatakan, "bayar dong hutang loe, jual dong barang loe, kalo loe mau jual gue juga mau beli."

Saya jadi ingin bertanya. Apakah dengan cara seperti itu orang-orang Standard Chartered Bank harus memperlakukan kreditornya yang sedang mengalami kesulitan. Dia katakan saya tidak mau bertanggung jawab. Saya tidak mau membayar pinjaman. Selain itu Ibu Lia itu juga sambil teriak-teriak pula mengejek-ejek saya. "Kalau loe nggak mau bayar hutang loe gue habisin loe." Dan, kata-kata lainnya yang tidak pantas dia katakan kepada saya.

Melalui surat ini saya ingin tegaskan tidak pernah sedikit pun saya mau melepaskan tanggung jawab untuk tidak membayar hutang. Buat apa saya datang atau telepon ke Standard Chartered Bank untuk memohon kebijakan kalau memang mau melepaskan tanggung jawab saya dan tidak mau membayar hutang.

Melalui surat ini pula saya mohon perhatian dan kebijakan yang sebaik-baiknya dari Managemen Standard Chartered Bank untuk bisa membantu saya mengatasi masalah ini. Dan, saya berharap jangan memberikan saya kebijakan dengan teror yang dilakukan orang-orang dari Standard Chartered Bank setiap hari. Seperti teror yang dilakukan selama ini dengan memberikan ancaman kepada saya lewat telepon. Apalagi harus meneror anak-anak dan keluarga di rumah.

Terus terang saya menjadi sangat menyesal jadinya mengambil pinjaman dari Standard Chartered Bank karena saya jadi stres, depresi, dan takut menghadapi teror yang harus saya terima dari orang-orang Standard Chartered Bank.

Bapak/Ibu yang terhormat di Standard Chartered Bank. Mohon bantu Saya dan tolong jangan berikan solusi yang bisa menghancurkan kreditornya. Terima kasih atas perhatiannya.

Juli A
Bumi Anggrek Karang Satria Bekasi
jul.anggie3@gmail.com
08128356075





Keluhan diatas belum ditanggapi oleh pihak terkait

(msh/msh)
Kirimkan keluhan atau tanggapan Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik. Redaksi detikcom mengutamakan surat yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Klik disini untuk kirimkan keluhan atau tanggapan anda.



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads