Keluhan
Saya ingin sharing pengalaman buruk tamu saya dari HongKong 1 Desember 2008 pada penerbangan malam. Tamu saya tidak dapat berbahasa Indonesia. Ketika memasuki pemeriksaan barang seorang Oknum pemeriksa mengambil oleh-oleh makanan yang dibawa dan mengajak tamu saya menuju office yang ada.Di sana, menggunakan tangan sebagai isyarat, sang petugas memainkan tangan sebagai simbol meminta uang. Jika tidak makanan yang seharusnya oleh-oleh itu tidak akan dikasih lewat. Tamu saya berusaha menolak karena beliau pun tidak memiliki rupiah. Namun, petugas mengintimidasi dan tetap meminta pungli (pungutan liar) tersebut.
Sungguh kasihan tamu saya yang 50 tahun usianya sehingga beliau pun mengeluarkan 100 HK Dollar. Menurut tamu saya petugas 180 derajad berubah kelakuannya dan langsung mengantar ia sampai keluar bandara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saya heran. Di era Visit Indonesia 2008 jajaran depan negara ini tetap saja bobrok. Petugas bandara tidak ada supervisinya sehingga oknum-oknum masih bebas menjalankan pungli dengan leluasa. Saya menduga semua petugas di Terminal 2 tahu akan kondisi ini dan mereka tahu sama tahu saja dengan kebobrokan masing-masing dirinya. Sungguh kualitas hidup yang rendah!
Kalau Terminal 2 ingin berbenah diri sesungguhnya sangat gampang. Alokasikan dana iklan dan sebagainya yang diterima untuk menyewa sebuah supervisi di luar petugas.
Lalu, coba dipasang kamera di office sehingga semua gerak gerik petugas bisa di ketahui. Lalu, coba lagi penggeledahan petugas setiap masuk dan pulang /selesai shift kerja. Jika ada mata uang asing, pastilah itu pungli.
Coba juga inspeksi mendadak. Pasti akan tertangkap. Sebenarnya semua dari niatnya. Kalau ingin berubah pasti bisa. Namun, tampaknya setelah sekian tahun tetap saja wajah bandara internasional kita.
Saya sudah cuek saja dengan ujaran tamu saya karena saya sudah muak dengan bandara kita. Tamu saya bilang, "tidak akan berani pergi ke Indonesia lagi". Saya bilang, "jangan. Indonesia is a beautiful country - hanya saja bawa uang receh rupiah untuk pungli/ jaga-jaga". Karena, memang prakteknya begitu.
Citra Purnawijaya
Jl Lauser Satu No 62A
Jakarta Selatan
cicit@rocketmail.com
Keluhan diatas belum ditanggapi oleh pihak terkait
(msh/msh)
Kirimkan keluhan atau tanggapan Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik. Redaksi detikcom mengutamakan surat yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Klik disini untuk kirimkan keluhan atau tanggapan anda.











































