Ilustrasi : Edi Wahyono
Senin, 28 September 2026Warga menemukan jasad itu di Sawang Bengkok, sebuah kawasan di Desa Kahyapu, Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, pada Sabtu, 12 September 2026. Saat ditemukan, jenazah tersebut memakai celana pendek yang terakhir digunakan Surakman, anak buah kapal rombongan jurnalis yang hilang saat meliput erupsi Anak Krakatau pada Senin, 7 September 2026.
Namun identitas jenazah itu belum diketahui. Kondisinya telah mengalami proses dekomposisi alami, setelah berhari-hari berada di alam terbuka.
“Bahkan awalnya (mengiranya) itu warga asing, warga negara asing, info awal yang beredar, ya, karena kulitnya itu sudah memutih. Mungkin kalau lihat ada gambar atau videonya gitu kan sudah memutih. Jadi itu yang beredar,” ujar Kepala Bidang Humas Polda Bengkulu Imam Wijayanto kepada detikX.
Warga melaporkan temuan itu ke Polsek Enggano. Polisi bersama TNI, Basarnas, serta unsur pemerintah setempat mendatangi lokasi. Jasad dievakuasi dari Sawang Bengkok, sebuah pulau kecil di kawasan Kepulauan Enggano, menuju Pulau Enggano.
Jasad itu masih harus dibawa keluar dari Enggano. Padahal kapal dari Enggano ke Bengkulu baru berlayar Selasa. Kapolres Bengkulu Utara pun memilih mengangkut jenazah dengan pesawat. Senin, 14 September, jenazah tiba di Bengkulu dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara. Di sana, tim Dokkes Polda Bengkulu langsung memeriksanya.
Kondisi tubuh membuat pengenalan secara kasatmata sulit dilakukan. Polisi juga mencoba mengambil sidik jari, tetapi tak mendapatkan hasil. Pada saat yang sama, polisi memastikan tidak ada warga Enggano yang dilaporkan hilang. Informasi itu ditelusuri melalui pemerintah kecamatan, kepala desa, hingga kepala suku. Tak ada nama yang cocok dengan ciri awal jasad tersebut.
Nama Surakman mulai muncul setelah polisi Bengkulu berkomunikasi dengan posko pencarian di Banten. Di sana, lima jurnalis dan tiga awak kapal masih tercatat sebagai orang hilang. Pihak kepolisian akhirnya menguji sampel DNA.
“Jadi kami koordinasikan, kami sampaikan ke Polda Lampung. Itu dari mereka pun terdapat keraguan, karena kita pun mau mengambil sidik jari. Itu tidak muncul, karena mungkin ya sudah rusak,” kata Imam.
Dokter forensik RS Bhayangkara Banten, Donald Rinaldi Kusumaningrat, mulanya mengabarkan hasil ketidakcocokan pemeriksaan data antemortem pada jenazah tersebut.
Pasalnya, katanya, gigi tak sepenuhnya cocok dengan Surakman. Dalam foto yang diberikan keluarga, Surakman tampak ompong di bagian depan atas. Pada jenazah, gigi di bagian itu masih terlihat, meski sebagian tinggal akar.
“Kalau aslinya Surakman tuh ompong. Kalau di jenazah itu nggak, masih ada akar dari gigi,” tutur Donald kepada detikX melalui sambungan telepon.
Selain itu, pakaian menjadi salah satu petunjuk. Namun celana yang dikenakan jenazah berwarna biru-putih-hitam, sedangkan dalam keterangan keluarga, celana terakhir Surakman berwarna hitam. Keluarga pun tidak mengenalinya.
“Kami cocokkan dari pakaian dan gigi. Yang kemarin itu agak kurang cocok dengan yang di Enggano, dengan data antemortem korban,” kata Donald.
Karena dua petunjuk itu belum memastikan identitas, sampel DNA jenazah kemudian dibandingkan dengan 13 sampel dari keluarga delapan korban. Hasil pemeriksaan justru menemukan kecocokan dengan Yayat, anak Surakman. Hasil uji DNA itu keluar pada Rabu, 23 September 2026.
Pernah Ada yang Hanyut ke Bengkulu tetapi Selamat
Yamin dan Yayat dipanggil ke Polda tanpa tahu untuk apa. Malam itu, sekitar pukul 23.00 WIB, telepon dari seorang polisi masuk ke keluarga Surakman. Mereka diminta datang ke Polda keesokan harinya.
Mereka mengira hanya akan diminta mencocokkan data. Sebelumnya, sampel DNA keluarga memang sudah diambil di posko pencarian di Marina, Banten. Yamin dan Yayat menjadi pembanding untuk Surakman.
Di Polda, barulah kabar itu disampaikan. Kapolda Bengkulu dan Gubernur Bengkulu mengatakan jenazah yang ditemukan di Enggano ada kemungkinan adalah Surakman. Hasil pemeriksaan DNA kemudian memastikan kecocokan itu.
Baca Juga : Mereka yang Masih Hilang dan Diharapkan Pulang

Keluarga, kerabat, rekan, dan warga sekitar mengantar mendiang Surakman ke peristirahatan terakhirnya, Kamis (24/9/2026).
Foto : Ani Mardatila/detikX
Sebelumnya, keluarga tak pernah mengira jenazah di Enggano adalah Surakman. Ketika Basarnas mengirimkan foto untuk dimintakan konfirmasi, Yamin melihat tubuh yang menurutnya berbeda.
“Kirain bule,” kata Yamin.
Tubuh itu tampak tinggi dan besar, sedangkan ayahnya, kata dia, pendek dan berkulit gelap.
Namun ada satu hal yang masih diingat Yamin dari hari sebelum keberangkatan Surakman. Saat itu, Surakman sedang ngopi di belakang rumah ketika kapten mengajaknya berangkat. Ia tak menolak. Sebagai anak buah kapal, kata Yamin, keputusan berangkat ada di tangan kapten.
Surakman hanya sempat menggerutu. Angin sedang kencang.
“Anginnya banteng,” kata Surakman waktu itu.
Bagi Surakman, kata Yamin, laut bukan tempat yang asing. Ia sudah puluhan tahun bekerja di sana. Sebelum menjadi awak speedboat yang membawa wisatawan, ia mencari ikan di laut. Biasanya empat hari ia berada di tengah laut sebelum pulang membawa hasil tangkapan. Tidak pernah lebih dari sepekan.
Ke Krakatau pun ia sudah beberapa kali pergi. Yamin pernah ikut ayahnya ke sana ketika sudah dewasa. Perjalanan biasanya sekitar satu setengah jam, bisa dua jam jika cuaca buruk. Laut di sana, kata Yamin, bergantung pada angin dan arus.
Surakman juga tahu soal mesin. Jika satu mesin mati, kapal masih bisa berjalan, meski lebih lambat. Dua mesin sekaligus mati, itu perkara lain. Karena itu, menurut Yamin, sebelum keberangkatan terakhir kondisi mesin masih baik. Sehari sebelumnya Surakman baru pulang dari Ujung Kulon setelah dua malam menginap.
Baca Juga : Menjaga Asa di Selat Sunda

Citra satelit THEOS-2 dari GISTDA (Badan Antariksa Thailand) yang merekam Gunung Anak Krakatau pada 7 September 2026 pagi. Rombongan jurnalis dan kru kapal akan berburu foto di sekitarnya pada sore harinya.
Foto : GISTDA's THEOS-2 satellite
Selama menjadi nelayan, Surakman terbiasa pergi berhari-hari. Empat hari di laut adalah hal biasa baginya. Tetapi ia selalu memberi kabar dan pulang sesuai perkiraan.
“Kalau dulu nyari ikan itu empat hari di tengah. Pas aja kalau empat hari pulang. Nggak pernah sampai seminggu,” kata Yamin.
Karena itu, kabar bahwa jenazah ayahnya ditemukan jauh di Enggano terasa sulit dibayangkan bagi keluarga. Pulau itu berada jauh dari perairan tempat Surakman terakhir kali diketahui berlayar.
Bagi nelayan Carita, laut juga menyimpan kemungkinan perjalanan yang tak selalu bisa ditebak dan misterius. Sadik, 60 tahun, nelayan yang telah lama tinggal di pesisir Carita, mengingat hanya satu kejadian serupa sebelum kasus Surakman.
Pada 1990-an, empat orang, termasuk dua perempuan asing, berangkat dari Ujung Kulon menuju Pulau Panaitan. Mesin perahu mereka bermasalah di tengah perjalanan. Mereka terombang-ambing selama 22 hari sebelum ditemukan di Bengkulu.
“Lama belum ada kejadian lagi, baru ini,” kata Sadik.
Ipan, 67 tahun, yang mulai melaut sejak berusia 20-an, juga pernah mendengar cerita orang terbawa arus hingga Bengkulu. Menurut dia, arah arus berubah mengikuti musim. Pada musim selatan, arus dari perairan Carita dapat bergerak ke arah Bengkulu.
“Kalau musim selatan, arus dari sini mungkin ke sana,” tandas Ipan.
Kini Surakman telah beristirahat dalam keabadian di TPU Ki Demang, Kampung Pagedongan, Desa Sukajadi, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten. Pada Kamis, 24 September, jenazahnya diantar anak-anak dan cucu-cucunya ke tempat peristirahatan terakhir setelah hasil identifikasi DNA memastikan jasad yang ditemukan di Enggano adalah dirinya.
Reporter: Ani Mardatila, Ahmad Thovan Sugandi, Fajar Yusuf Rasdianto, Melanie Hotarina Margaret Sihotang (magang)
Reporter: Ani Mardatila
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Fuad Hasim