Ilustrasi : Edi Wahyono
Senin, 14 September 2026Sejak Juli lalu, pewarta foto Kantor Berita Antara Biro Banten, Muhammad Bagus Khoirunnas, beberapa kali mengutarakan niatnya pergi ke sekitar Pulau Krakatau. Puncaknya, pada Minggu, 6 September 2026, Bagus kembali menghubungi rekannya yang berprofesi sebagai pramuwisata untuk merencanakan perjalanan keesokan harinya.
Pada pukul 12.42 WIB, Bagus menghubungi rekannya melalui WhatsApp. Saat itu rekannya ini masih dalam perjalanan kembali dari Ujung Kulon setelah memimpin tur wisata di Pulau Peucang. Pesan tersebut tidak langsung direspons.
Baru sekitar pukul 18.00 WIB, komunikasi berlanjut melalui telepon. Bagus membicarakan rencana berangkat ke Anak Krakatau bersama beberapa pewarta foto. Ia juga sempat menanyakan kondisi Gunung Anak Krakatau, apakah masih mengalami erupsi. Hari itu, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menentukan status Gunung Anak Krakatau berada di level III (Siaga).
"Bang, kami mau berangkat sama temen-temen fotografer, tapi keputusannya, atasan besok, hari Senin," kata rekannya, menirukan ucapan Bagus kepada detikX.
Sekitar pukul 21.00 WIB, rekannya kemudian meneruskan percakapan tersebut kepada Heriyanto alias Bonsai. Ia merupakan pemandu profesional yang hafal seluk-beluk perjalanan ke kawasan Krakatau.
Pada Senin, 7 September, sekitar pukul 11.00 WIB, Bagus kembali memberikan konfirmasi rencana keberangkatan. Saat itu ia mengatakan masih menunggu pencairan dana operasional dari kantor temannya, Arie Basuki, pewarta foto Merdeka.com. Biaya perjalanan yang disepakati saat itu adalah Rp 7,5 juta.
Sambil menunggu kepastian tersebut, pembicaraan mengenai teknis perjalanan berlanjut. Bagus menanyakan kemungkinan menerbangkan drone.
"Ya kondisional saja ya. Maksudnya, ya lu lihat di sanalah. Kalau memungkinkan, ya silakan. Kalau tidak memungkinkan, ya jangan!" balas rekannya.
Bagus juga meminta agar perjalanan berlangsung hingga malam. Ia ingin mengambil gambar dalam kondisi gelap atau malam. Permintaan itu kemudian disampaikan kepada Heriyanto.
Heriyanto menjelaskan perjalanan satu hari biasanya berangkat sekitar pukul 07.00-08.00 WIB dan kembali sekitar pukul 14.00 WIB. Namun, jika ingin pulang malam, keberangkatan harus dilakukan setelah makan siang. Dengan demikian, waktu perjalanan digeser agar rombongan bisa mendapatkan gambar dalam kondisi gelap.
Sekitar pukul 12.00-13.00 WIB, Bagus kembali menanyakan kemungkinan mendarat di salah satu pulau. la mengatakan ingin mengambil gambar dengan teknik tertentu, yang membutuhkan pemasangan tripod. la khawatir kondisi di atas kapal tidak cukup stabil untuk proses pengambilan gambar.
"Lu lihat situasi gitu. Kalau memungkinkan, ya mungkin bisa. Tapi kalau nggak memungkinkan, ya jangan ambil risiko!” kata rekannya kepada Bagus.
Ketika rekannya menanyakan kapan akan berangkat, Bagus menjawab akan berangkat saat itu juga. Ia disebut sudah berada di Carita, Pandeglang, Banten, dan berkontak dengan Heriyanto. Akhirnya rombongan itu berangkat dengan dipandu oleh Heriyanto alias Bonsai
"Karena posisi gue masih ada di Serang (nggak mungkin ikut walaupun sempat diajak ikut). Dan nggak mungkin kekejar kan. Dan nggak mungkin juga gue harus minta mereka nunggu gue," ujarnya.
Sekitar pukul 13.53 WIB, Heriyanto turut mengirimkan sebuah video kepadanya. Pesan itu kemudian dibalas singkat, "Take care, yo!"
Sekitar pukul 14.15 WIB, ia kembali menghubungi Bonsai melalui pesan WhatsApp. Kali ini ia meminta dikirimi gambar kondisi terbaru Gunung Anak Krakatau. Pesan tersebut terbaca, tapi tak mendapat balasan.
Adapun komunikasi langsung antara Bagus dan rekannya tercatat terakhir sebelum pukul 13.00 WIB. Setelah itu tidak ada lagi komunikasi langsung di antara keduanya. Upaya menghubungi kembali dilakukan pada 8 September. Pada pukul 13.59 WIB, pesan kembali dikirimkan. Namun pesan tersebut juga tidak mendapat balasan.
Komunikasi Terakhir dari Jakarta
Pada Minggu, 6 September 2026, jurnalis Merdeka.com, Budi Santosa, sedang meliput suasana hari bebas kendaraan bermotor (CFD) ketika erupsi Gunung Anak Krakatau ramai diberitakan. Sekitar pukul 08.30 WIB, ia mendapat pesan WhatsApp dari rekannya, Arie Basuki alias Arbas. Dalam pesan tersebut, Arbas meminta Budi tetap meliput di Jakarta dan mengambil foto suasana bandara. Ia mengatakan mendapat penugasan dari kantor untuk pergi ke Anak Krakatau.
"San, ente jaga Jakarta ya, sama ngambil yang amanin foto bandara. Ane disuruh kantor ke Anak Krakatau," kata Arbas dalam pesan tersebut.
Setelah itu, keduanya masih berkomunikasi mengenai rencana perjalanan. Mereka membicarakan durasi perjalanan, moda transportasi, hingga rencana menyewa perahu. Budi mengingatkan Arbas agar tidak menyeberang terlalu dekat karena kondisi Gunung Anak Krakatau yang sedang erupsi dan terdapat radius aman yang harus diperhatikan.
Menurut Budi, Arbas merupakan fotografer yang sudah berpengalaman puluhan tahun meliput bencana. Dia memiliki prestasi segudang di bidang fotografi jurnalistik. Kepada Budi, Arbas mengatakan ingin membuat foto seperti saat dirinya meliput Krakatau sekitar 20 tahun lalu.
"Gue cuma pengin bikin foto seperti 20 tahun yang lalu," kata Budi kepada detikX menirukan pesan Arbas.
Pada Senin, 7 September, Budi masih menerima beberapa informasi mengenai keberadaan Arbas. Salah satunya foto yang dikirim Yudistiro Pranoto dari iNews. Salah satu foto menunjukkan potret Arbas saat berada di penginapan sebelum berangkat. Budi memperkirakan foto tersebut diambil pukul 08.00-09.00 WIB. Arbas kemudian berangkat sekitar pukul 14.00 WIB.
Budi tidak mengetahui secara pasti rencana Arbas terkait jarak pengambilan gambar dari Gunung Anak Krakatau. Pesan WhatsApp yang dia kirim kepada Arbas sekitar pukul 13.00 WIB hanya menunjukkan tanda centang satu karena sulit mendapatkan sinyal.
Menurut Budi, perjalanan itu dilakukan secara mendadak setelah erupsi terjadi. Para fotografer tersebut memang biasa melakukan peliputan bencana secara bersama-sama dan bergerak sebagai satu kelompok. Namun Budi tidak mengetahui secara rinci rencana perjalanan setelah Arbas berangkat karena komunikasi mulai sulit.
"Yang tahu yang ikut itu saja. Karena kan sudah susah komunikasi," ujarnya.
Sementara itu, pada Minggu, 6 September 2026, saat aktivitas Gunung Anak Krakatau ramai diberitakan karena abu vulkanik terbawa angin hingga Jabodetabek, Yudistiro Pranoto memutuskan berangkat menuju kawasan Carita. Menurut rekan kerjanya sesama fotografer iNews, Aldhi, Yudis disebut sempat berkabar akan menuju kawasan Carita bersama beberapa jurnalis lain dari beberapa media.

Kapten KN SAR 247 Tetuka Septa Arif Rohadi (kanan) berkoordinasi saat pencarian kapal cepat yang hilang kontak di Perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Rabu (9/9/2026).
Foto : Putra M. Akbar/Antarafoto
"Kebetulan yang masuk aku sama dia di hari Minggu itu. Aku ngambil foto di Halim, penerbangan yang ditutup sementara. Nah, Bang Yudis, memang dia nggak ngajak aku. Dia ngajak sama tim yang berlima itu. Beda-beda media itu, karena memang biasa hunting sama mereka. Mereka langsung berangkat ke sekitar Anyer, Carita. Sebelumnya, dia cuma ngabarin udah sampai di lokasi nih," kata Aldhi kepada detikX.
Pada Senin, 7 September, Yudis kemudian mengirimkan foto dari atas kapal ke grup fotografer tempat mereka berkomunikasi. Dalam pesan itu, Yudis hanya menuliskan dirinya sedang dalam perjalanan menuju Krakatau.
"Pokoknya dia cuma bilang nanti siang rencananya mau ke sekitaran Krakatau," kata Aldhi. Setelah pesan dan foto tersebut dikirim, tidak ada lagi komunikasi dengan Yudis.
Tiba di Pesisir Pandeglang Banten
Menurut keterangan penjaga Hotel Pada Suka, Maman, rombongan empat orang jurnalis—Arie Basuki, Yudistiro Pranoto, Firdaus Wajidi (Firman Daus), dan Donal Husni—tiba di penginapan pada 6 September sekitar pukul 22.00 WIB. Rombongan ini datang mengendarai mobil Mitsubishi Kuda warna biru metalik, yang terdaftar atas nama Arie Basuki.
Para pewarta senior ini memesan satu kamar paling ujung di lantai bawah dekat pos penjagaan. Mereka memesan untuk dua malam dan rencana check-out pada Selasa, 8 September, pagi. Menurut keterangan penjaga, rombongan ini membawa tiga tas ransel.
"Waktu datang pertama itu empat orang. Paginya ada yang temannya nyusul satu orang," ucap Maman kepada detikX saat ditemui.
Keesokan harinya, sekitar pukul 11.00 WIB, Bagus datang ke penginapan menggunakan mobil Daihatsu Terios milik kantornya. Dengan mobil itu pula rombongan ini berangkat menuju arah dermaga pemberangkatan.
Dermaga itu terletak persis di Kampung Pagedongan, Desa Carita, Kecamatan Sukajadi, Kabupaten Pandeglang, Banten. Jaraknya hanya sekitar 3 kilometer dari penginapan Pada Suka. Merujuk penanda di Google Maps, dermaga ini juga merupakan fasilitas galangan kapal, tempat produksi dan perbaikan kapal kecil milik CV Boat Carita Banten.
Saat detikX tiba di lokasi penginapan pekan lalu, sejumlah tas milik para pewarta foto masih tampak berada dalam kamar. Mobil Mitsubishi Kuda yang mereka gunakan juga masih terparkir di halaman penginapan.
Selanjutnya, menurut keterangan para saksi di lokasi, menjelang pukul 14.00 WIB, rombongan para wartawan foto ini tiba di halaman Masjid Jami Al Khusaeni, Carita. Mereka memarkir kendaraan di halaman masjid dan berjalan kaki ke dermaga, yang jaraknya hampir 200 meter.
Pemilik warung yang terletak di depan Masjid, Ima, mengatakan rombongan tersebut sempat mampir ke warungnya membeli empat Antimo atau obat antimabuk kendaraan. Sebetulnya mereka hendak membeli lebih banyak, tetapi jumlah yang tersedia di warung tidak mencukupi. Tak lama dari itu, mereka bergegas berjalan beriringan menuju dermaga.
"Beli Antimo doang. Cuma ada empat yang dibeli. Katanya ada yang kurang sehat. Bentar doang (mampir di warung itu). Kata kaptennya, ayo berangkat," ungkap Ima saat ditemui detikX.
Menjelang Keberangkatan
Diah, menantu Surakman—ABK perahu cepat Arupadhatu 1, mengatakan pada 7 September mertuanya sebetulnya tidak berencana melaut. Setidaknya sekitar tiga mingguan pria 60 tahun itu tak melaut. Rencananya, Surakman baru akan melaut pada 8 September, mengantar sejumlah wisatawan menuju Ujung Kulon.
Surakman dulu adalah nelayan. Seiring bertambahnya usia, ia memutuskan alih profesi sebagai ABK perahu cepat. Untuk sekali perjalanan dari pagi hingga sore, ia mendapat upah Rp 150-200 ribu.

Tim SAR gabungan memperluas cakupan area pencarian dan membagi operasi menjadi empat Search and Rescue Unit (SRU) pada hari kedua pencarian.
Foto : Putra M. Akbar/Antarafoto
Senin siang itu, Surakman berada di rumah bersama cucu dan menantunya. Rumah Surakman berada tak jauh dari dermaga pemberangkatan perahu cepat Arupadhatu 1. Menjelang pukul 13.00 WIB, Surakman mendapat ajakan melaut dari Warta, sepupu sekaligus kapten Arupadhatu 1. Ajakan itu langsung disanggupi oleh Surakman.
"Itu mendadak. Jam setengah satu (siang), kapten Pak Warta itu bilang berangkat-berangkat. Cepat-cepat, nggak sempat bawa apa-apa," kata Diah kepada detikX saat ditemui di kediamannya pekan lalu.
Menurut Diah, mertuanya tak membawa barang selain pakaian yang melekat di badan dan telepon seluler Nokia jadul. Saat itu Surakman mengenakan kaus oblong putih sedikit kebiruan dan celana pendek warna hitam. Lalu sekitar pukul 14.00 WIB, Surakman berpamitan pada menantu dan cucunya.
"Jam 14.00 WIB pokoknya kalau saya lihat, habis Zuhur itu. Beres-beres. Dari sini berangkatnya juga. Itu wartawannya saya lihat berangkatnya juga sama. Bawa-bawa ini, kamera. Saya juga tahu berangkatnya dari sini (rombongan lewat depan rumah). Biasa pegang cucu ini (pas berangkat). Mau berangkat dulu. Nggak mikir apa-apa," ucap Diah.
Di sisi yang lain, komunikasi terakhir Heriyanto alias Bonsai dengan istrinya, Efi, terjadi juga pada Senin, 7 September 2026. Saat sedang makan siang, ia tiba-tiba mendapat telepon dari Bagus Khoirunnas.
"Halo, ini Kang Bonsai ya? Saya Bagus dari tim media. Bisa kan berangkat ke Krakatau sekarang?" ucap Efi menirukan percakapan tersebut.
Menurut Efi, suaminya langsung mengiyakan tawaran mendadak itu dan bergegas melakukan persiapan. Kepada istrinya, Bonsai memperkirakan akan pulang pukul 17.00-18.00 WIB.
Efi sempat melarang Bonsai ikut karena Gunung Anak Krakatau sedang erupsi. Namun Bonsai mengatakan hanya pergi sebentar dan diminta tidak terlalu mendekat.
Saat itu, Bonsai baru saja pulang dari perjalanan membawa tamu ke Pulau Peucang, Ujung Kulon. Karena itu, Efi juga sempat khawatir ia kembali berangkat dalam kondisi masih lelah.
Setelah berangkat, pada pukul 14.06 WIB, Bonsai mengirimkan video melalui WhatsApp. Efi kemudian membalas, "Hati-hati ya, Ayah," pada pukul 14.16. Pesan tersebut terbaca.
Pada pukul 15.34 WIB, Efi kembali menghubungi Bonsai untuk memberi tahu dirinya hendak menonton pertandingan sepakbola di kampung bersama anak. Namun Bonsai baru membalas pukul 16.30 WIB.
"Udah, di rumah aja," kata Heriyanto dalam pesan tersebut.
Efi kemudian membatalkan rencana menonton pertandingan. Setelah itu, tidak ada lagi komunikasi hingga pukul 18.13 WIB Bonsai kembali mengirimkan sebuah foto melalui WhatsApp.

Foto terakhir yang dikirimkan Heriyanto alias Bonsai kepada istrinya pada pada Senin (7/9/2026), pukul 18.13 WIB.
Foto : Dok. Istimewa
Pada pukul 18.20 WIB, Efi membalas foto tersebut dengan pesan singkat sederhana. Setelah itu, tidak ada lagi balasan dari Heriyanto.
Pada pukul 19.38-19.39 WIB, Efi kembali menghubungi suaminya itu untuk menanyakan keberadaan dan keselamatannya.
"Gak apa-apa kan, aman?" tulis Efi.
Pesan tersebut tidak mendapat balasan. Efi kemudian terus mencoba menghubungi Bonsai hingga sekitar pukul 4 dini hari. Namun telepon selulernya tidak aktif dan tidak ada lagi komunikasi. Kondisi itu membuat Efi khawatir. Padahal biasanya Heriyanto selalu rutin memberi kabar termasuk jika pulang telat.
Sementara itu, menurut Juju, anak Warta—kapten perahu cepat Arupadhatu 1, ayahnya juga berangkat ke area Krakatau sekitar pukul 14.00 WIB pada 7 September. Hal itu memang di luar kebiasaannya. Warta biasanya berangkat pagi.
"Biasanya, kalau ke Krakatau PP, kalau mau atau nginep, itu pagi berangkat jam 7, jam 8," kata Juju kepada detikX saat ditemui di kediamannya.
Keluarga mulai khawatir saat malam tiba Warta tak kunjung pulang. Ia sempat dikira menginap karena cuaca buruk atau hambatan lain. Namun, hingga tujuh hari kemudian, Arupadhatu 1 beserta tiga kru kapal dan lima pewarta foto tak kunjung ditemukan.
Dalam perjalanan, salah satu di antara mereka memakai rompi pelampung berwarna mencolok merah serta kuning dengan baju yang diduga basah terkena cipratan air laut. Sedangkan Surakman tak memakai life jacket dan bajunya juga diduga tampak basah.
Reporter: Ahmad Thovan Sugandi, Ani Mardatila, Fajar Yusuf Rasdianto, Melanie Hotarina Margaret Sihotang (magang)
Penulis: Ahmad Thovan Sugandi
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Fuad Hasim